1. Pengertian gender
Gender memiliki pengertian perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan yang bukan pada tataran biologis dan kodrat Tuhan, melainkan dalam tataran sosial budaya. Caplan (1987) dalam the cultural contruction of sexuality menegaskan bahwa perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan selain biologis, sebagian justru terbentuk melalui proses budaya dan sosial.[1]
Gender adalah suatu konsep kultural yang merujuk pada karakteristik yang membedakan antara wanita dan pria baik secara biologis, perilaku, mentalitas, dan sosial budaya. Pria dan wanita secara sexual memang berbeda. Begitu pula secara perilaku dan mentalitas. Namun perannya di masyarakat dapat disejajarkan dengan batasan-batasan tertentu.
Pengertian gender didefinisikan sebagai aturan atau normal perilaku yang berhubungan dengan jenis kelamin dalam suatu sistem masyarakat. Karena itu gender sering kali di identikan dengan jenis kelamin atau sex. Meski sebenarnya kedua jenis kata ini yaitu Sex dan gender memiliki konsep yang berbeda.[2]
1. Teori tentang Gender
a. Teori Nature, Determinisme Biologis
Menurut teori nature adanya pembedaan laki – laki dan perempuan adalah kodrat, sehingga harus diterima. Perbedaan biologis itu memberikan indikasi dan implikasi bahwa diantara kedua jenis kelamin tersebut memiliki peran dan tugas yang berbeda. Ada peran dan tugas yang dapat dipertukarkan, tetapi ada yang tidak bisa karena memang bebeda secara kodrat alamiahnya.
Terjadinya peran di tentukan oleh jenis kelamin masing-masing atau disesuaikan dengan fungsi-fungsi reproduksi.
b. Teori Nuture, determinasi sosial budaya
Menurut teori nurture adanya perbedaan perempuan dan laki – laki adalah hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan itu membuat perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan kontribusinya dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Konstruksi sosial menempatkan perempuan dan laki – laki dalam perbedaan kelas. Laki – laki diidentikkan dengan kelas borjuis, dan perempuan sebagai kelas proletar.
Peran antar gender dari teori Nuture ini tidak dibedakan berdasarkan pada fungsi reproduksi atau jenis kelamin, akan tetapi ditentukan oleh minat dan potensi dari individu
c. Teori equalibrium, teori keseimbangan
Pandangan ini tidak mempertentangkan antara kaum perempuan dan laki – laki, karena keduanya harus bekerja sama dalam kemitraan dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, maka dalam setiap kebijakan dan strategi pembangunan agar diperhitungkan kepentingan dan peran perempuan dan laki – laki secara seimbang.
2. Ketidak adilan/ diskriminasi Gender.
Yaitu situasi timpang antara laki-laki dan perempuan, yang mana salah satu dari mereka memiliki kekurangan dalam mendapatkan akses, manfaat, kontrol, partisipasi, dan uang.
macam-macam ketidakadilan dalam perspektif Gender diantaranya;
a. Subordinasi
Menempatkan satu pihak sebagai bawahan dan satu pihak lain sebagai atasan.
b. Marjinalisasi
Suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan.
c. Stereotype
Pemberian label buruk terhadap jenis kelamin
d. Kekerasan berbasis gender
Ø Penyerangan secara fisik, yaitu berupa penyerangan yang dilakukan terhadap anggota tubuh seseorang.
Ø Penyerangan secara psikis, yaitu penyerangan yang dilakukan untuk tujuan menyakiti perasaan orang lain.
Ø Penyerangan seksual, yaitu penyerangan yang dilakukan untuk menyakiti seseorang secara seksual ,misalnya, pemerkosaan, pencabulan.
Ø Kekerasan ekonomi, yaitu kekerasan yang merugikan orang lain secara ekonomi.
e. Double Burden/multi Burden
Relasi antara laki-laki dengan perempuan yang mana salah satu memiliki beban yang lebih ganda atau memiliki beban yang lebih banyak dari pihak lain.
3. Analysis terhadap Diskriminasi Gender dalam relasi keluarga maupun dalam relasi berpacaran.
a. Rutinitas sehari-hari dalam sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak laki-laki, dan anak perempuan.
Rutinitas sehari-hari
| Time | Ayah | time | Ibu |
| 04:30 05:00 05:40 06:00 06:20 06:40 12:30 13:30 14:20 16:20 16:50 17:40 18:20 19:00 19:30 21:40 | Bangun tidur + sholat subuh Jalan-jalan pagi Menyapu dan membersihkan halaman. mempersiapkan pekerjaan mandi Berangkat bekerja Pulang + istirahat siang+ makan + sholat dhuhur Istirahat siang Berkebun Mandi + shalat ashar Nonton tv Shalat magrib Ngaji Shalat isya’ Nonton tv Tidur | 04:30 05:00 05:30 06:20 07:50 08:20 13:30 15:30 16:40 17:00 17:40 18:20 19:00 19:30 21:00 | Bangun tidur + sholat subuh Jalan-jalan pagi Persiapan memasak Mempersiapkan sarapan Mandi Mengerjakan pekerjaan rumah tangga Makan siang + Sholat dhuhur + istirahat siang Memasak Mandi + shalat ashar Mempersiapkan makan malam Shalat magrib Ngaji Sholat isya’ Nonton tv Tidur |
| time | Anak laki-laki | time | Anak perempuan |
| 05:00 05:20 06:00 06:20 06:40 14:30 15:00 16:00 16:30 16:40 17:40 18:10 19:00 19:30 20:00 22:00 | Bangun tidur + Shalat subuh Tidur Bangun Mandi+ sarapan Berangkat sekolah Pulang sekolah Makan siang + Istirahat Mencari rumput Pulang + mandi + shalat ashar Nonton TV Shalat magrib Nonton TV Shalat isya’ Mengerjakan PR Bermain ke rumah teman Pulang + tidur | 04:50 05:20 05:40 06:00 06:40 14:30 15:00 15:30 16:30 16:40 17:40 18:10 19:00 19:20 19:40 21:00 | Bangun tidur + shalat subuh Mempersiapkan pelajaran ke sekolah menyapu mandi + sarapan berangkat sekolah pulang sekolah makan siang + istirahat membantu ibu memasak mandi + shalat ashar nonton TV shalat magrib nonton TV shalat isya’ mengerjakan PR nonton TV Tidur |
Berdasarkan hasil observasi diatas, dapat disimpulkan bahwa terjadi banyak perbedaan dalam kegiatan sehari-hari antara ayah, ibu, anak laki-laki, dan anak perempuan. Perbedaan kegiatan sehari-hari. Seperti ketika ayah, ibu sedang jalan-jalan, anak perempuan sibuk membersihkan rumah, sedangkan anak laki-laki justru tidur kembali. Dan dalam kegiatan-kegiatan lain pun juga banyak yang berbeda, akan tetapi menurut saya pembagian tugas dalam keluarga ini tidak terdapat ketidak adilan atau diskriminasi didalamnya. Karena mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang menjadi rutinitasnya secara sepadan atau sama rata, dan hal ini atas kesepakatan bersama, baik dalam melakukan kegiatan satu dan lainnya.
Didalam observasi yang saya lakukan tersebut, telah sesuai dengan Teori equalibrium/teori keseimbangan. Yaitu Pandangan yang tidak mempertentangkan antara kaum perempuan dan laki – laki, karena keduanya harus bekerja sama dalam kemitraan dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, maka dalam setiap kebijakan dan strategi pembangunan agar diperhitungkan kepentingan dan peran perempuan dan laki – laki secara seimbang.
b. Relasi antara laki-laki dengan perempuan dalam hubungan khusus (berpacaran)
Dibawah ini adalah beberapa pertanyaan yang saya ajukan kepada sepasang laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam hubungan khusus.
1. Siapa yang menyatakan cinta? Mengapa?
2. Dalam relasi pacaran, ketentuan apa yang diberlakukan?
3. Siapa yang membuat peraturan?
4. Sangsi jika melanggar peraturan?
5. Bagaimana pembagian perandalam pacaran?
Apa kewajiban laki-laki?
Apa kewajiban perempuan?
6. Apa tuntutan laki-laki?
Apa tuntutan perempuan?
7. Bagaimana menyikapi tuntutan pacaran?
8. Nyamankan dengan pacaran?
9. Apa ketidakpuasan terhadap pacar?
10. Apa ingin melanjutkan ke pernikahan?
Jawab
| No. | Laki-laki | perempuan |
| 1 | Laki-laki, karena kebiasaan bahwa lelaki bertanya tentang meminta hubungan kepada seorang wanita. | Laki-laki, karena sudah kebiasaan bahwa wanita itu menunggu |
| 2 | Tidak boleh sms’an dengan wanita lain kecuali penting, tidak boleh bepergian dengan lelaki lain. | Tidak boleh sms dengan teman lelaki kecuali penting, tidak boleh jalan dengan laki-laki lain. |
| 3 | Kesepakatan | Kesepakatan atau komitment bersama |
| 4 | Bersikap Diam pada pasangan ketika tidak merasa salah | Bertengkar, saling mendiamkan satu sama lain. |
| 5 | - | Mau menemani bepergian, membayar ketika makan bersama, bersikap terbuka ketika melakukan suatu hal atau kegiatan |
| | Mau di ajak jalan, mau menemani ketika dibutuhkan, Tidak berbohong | - |
| 6 | Bersikap terbuka | - |
| | - | Jika diajak jalan mau, mau menemani saat sendiri |
| 7 | Ketika tuntutan itu dapat dilakukan dan tidak bersifat bertentangan dengan hal-hal yang tidak dibolehkan, ya dilakukan. | Ketika laki-laki menuntut untuk melakukan kebaikan maka diikuti dan sebaliknya |
| 8 | Nyaman | Nyaman |
| 9 | Sering di SMS, disuruh untuk segera pulang, padahal baru sebentar keluar | Ketika keluar bersama sering di SMS teman-temannya. |
| 10 | Iya | Iya, pasti. |
Dari hasil observasi diatas, dapat kita simpulkan, bahwa hubungan diatas juga tidak mengandung unsur ketidak adilan. Karena setiap kegiatan, kebiasaan, maupun aturan telah di tetapkan secara bersama dan telah disepakati bersama. Tanpa ada salah satu merasa berada dibawah dan satunya berada diatas.
Hal ini menunjukkan suatu hubungan yang sehat tanpa adanya salah satu pihak yang merasa dirugikan. Dan mereka merasa nyaman dengan hubungan yang telah mereka jalani, Saling mengingatkan ketika satu diantara mereka melakukan kesalahan.
Nurul Wakhidati (3221103019)