Rabu, 25 Desember 2013

KKN Desa Panggunguni Kecamatan Pucanglaban Tulungagung Jawa Timur



Ketidaksetaraan Gender di dalam kelompok KKN desa Panggunguni Kecamatan Pucanglaban Tulungagung
penulis: Nurul Wakhidati
Kuliah Kerja Nyata atau biasa kami sebut KKN adalah salah satu program kuliah yang wajib kami program ketika kami memasuki semester 7. KKN ini dilakukan pada tanggal 11 Oktober 2013 sampai dengan tanggal 13 November 2013, atau tepatnya 32 hari kami menjalani masa KKN tersebut. dalam satu kelas kami hampir dapat di bagi rata 1 orang dalam satu desa. total desa yang menjadi tempat KKN kami adalah 16 desa, yang terletak di kecamatan Pucanglaban dan Kecamatan Tanggunggunung Tulungagung.
Dalam suatu kelompok, dengan berbagai karakter yang berbeda-beda, tentu saja sering menimbulkan ketimpangan-ketimpangan di dalam kelompok tersebut. kelompok tersebut dapat terjadi di dalam masyarakat, sekolah, maupun di dalam lingkup pertemanan.
salah satu yang akan saya bahas disini adalah ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di dalam kelompok KKN yang telah sukses kami lalui beberapa minggu yang lalu. di dalam kelompok KKN saya di Desa Panggunguni, tidak terlalu banyak terjadi ketimpangan-ketimpangan tersebut. saya hanya menemui beberapa jenis ketimpangan yang itu terjadi ketika kami masih awal atau kami baru akan memulai KKN tersebut.
Salah satu bentuk ketimpangan gender yang telah terjadi sejak awal adalah ketika diadakannya pemilihan ketua kelompok. beberapa anak mengusulkan salah seorang teman perempuan kami yang dianggap mampu untuk mengemban tugas sebagai ketua kelompok. dikatakan mampu, karena memang dia sangat cakap didalam berbagai hal, selain itu dia juga telah teruji ketika dia mampu mengampu sebagai pimpinan redaksi majalah Dimensi (Majalah kampus). akan tetapi hal yang di sayangkan adalah dia memilih untuk menolak harapan beberapa teman tersebut, dan mengatakan bahwa dirinya tidak mampu untuk mengemban tugas tersebut. Sedangkan beberapa teman lainnya mengatakan bahwa, memanng seharusnya pemimpin adalah seorang laki-laki. karena laki-laki lebih dianggap lebih mampu untuk mengatur jalannya suatu kelompok daripada perempuan. Budaya patriarki seperti inilah yang awalnya membentuk kelompok KKN kami.
selain itu, ketimpangan Gender yang terjadi di KKN wilayah Desa Panggunguni, seperti dalam hal memasak. Para kaum hawa ini mengatakan bahwa pekerjaan seperti mencari air ditempat yang tidak terlalu jauh dan bahkan perempuan pun mampu untuk melakukannya. Pekerjaan ini kemudian seluruhnya dibebankan sebagai tanggung jawab laki-laki untuk mencarinya dan membawanya ke dapur. Sedangkan setelah mengambil air tersebut, para laki-laki cenderung untuk nongkrong atau tidak mau melakukan apapun ketika para perempuan memasak. Ada saja alasannya, misalnya seperti memasak bukanlah pekerjaan bagi laki-laki, tidak pantas bagi laki-laki untuk memasak, dan lain sebagainya sebagai alasan yang di kemukakan oleh laki-laki. hal ini di perparah dengan senidiko dawuh nya perempuan atas persepsi yang telah di buat tersebut.
Terdapat suatu kejadian yang agak membuat saya cukup tercengang. ada salah seorang teman saya yang saya sangat yakin telah mendapatkan pendidikan Gender dan HAM pada semester yang telah lalu. Tetapi ketika saya menyuruh teman laki-laki saya untuk sekedar menumis sayur, beliau mengatakan bahwa saya terlalu kasar untuk menyuruh teman laki-laki tersebut untuk menumis, hal itu sangat memalukan bagi laki-laki tersebut, demikian katanya. padahal kami telah sama-sama tahu apa yang telah di ajarkan kepada kami, tetapi beliau tetap menganut adat bahwa “terlalu memalukan bagi laki-laki untuk memasak di dapur”. tetapi saat itu saya tidak langsung menyerah, terlebih lagi ketika teman laki-laki saya tersebut bersedia untuk mencoba melakukan pekerjaan rumah yang cukup mudah tersebut dan dia tidak mempermasalahkannya.
Budaya tersebut berangsur-angsur menghilang dengan adanya kesadaran di antara laki-laki dan perempuan. Pasalnya laki-laki dan perempuan merasa sama-sama memakan hasil dari masakan tersebut dan perlu adanya saling kerjasama di dalam melakukan tanggung jawab tersebut, sehingga pada akhirnya laki-laki tidak hanya terus-terusan mengambi air sedang perempuan terus-terusan memasak dan bahkan mencuci perkakas yang telah selesai digunakan untuk memasak, tetapi juga dapat melakukan hal lain yang pada awalnya tidak mau dilakukannya.
Meskipun budaya tersebut terasa berangsur-angsur mulai menyusut didorong oleh rasa saling menyadari kebutuhan tidak bisa hanya di kerjakan oleh laki-laki maupun oleh perempuan. akan tetapi tetap saja ada satu atau dua kegiatan yang tetap laki-laki lakukan sendiri tanpa keikutsertaan perempuan. misalnya ketika ada kerja bakti perbaikan jalan dari desa Panggunguni ke desa Manding. Akan tetapi untuk kegiatan kemasyarakatan lainnya seperti turut membantu masyarakat desa untuk menanam padi atau jagung di sawah, atau lebih sering kami menyebutnya sebagai ulur dan gejik. Hal ini memang sering kami lakukan bersama, baik laki-laki maupun perempuan.
selain itu kegiatan diskusi juga awalnya sangat sering kami lakukan. bahkan hampir setiap malam. kami mencoba mengevalusi kembali hal-hal yang telah kami kerjakan hari itu dan mencoba mencari masalah yang timbul di dalam masyarakat di desa tempat kami KKN. akan tetapi kegiatan evaluasi itu sendiri menjadi semakin jarang terjadi seiring dengan hari-hari yang telah kami lalui, dengan berbagai alasan menolak untuk di lakukan evalusi. hal itu terjadi terutama dari pihak perempuan. karena merasa bahwa evaluasi maupun sejenisnya kurang penting dan kurang ada manfaatnya ketika di lakukan setiap hari.
Untuk hal pendidikan, saya rasa tidak terdapat ketimpangan dalam pemilihan job kerja. karena baik laki-laki maupun perempuan bersedia untuk mengajar di SD, TK, bahkan di playgrup. jadi sama sekali tidak terjadi ketimpangan di dalam pendidikan.
Begitupula di dalam bidang sosial budaya. Laki-laki dan perempuan turut serta untuk mencari budaya-budaya yang mungkin berkembang di dalam masyarakat desa Panggunguni Kecamatan Pucanglaban ini. akan tetapi di bidang sosial budaya ini ada sedikit ketimpangan. pasalnya lebih sering perempuan yang mencari data-dat terkait dengan budaya yang berkembang. Selain memang karena jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki di dalam divisi itu, tetapi juga karena laki-laki selalu melakukan lebih banyak kegiatan di bandingkan perempuan.
terdapat ketimpangan di dalam bidang Ekonomi. ketimpangan yang terjadi adalah, adanya diskriminasi terhadap beberapa teman yang kurang mengerti atau kurang faham akan bidang yang di ampunya. teman yang faham bukannya menjelaskan langkah-langkah apa saja yang mungkin dapat di ambil di dalam kegiatan tersebut, akan tetapi malah membuat teman yang kurang faham merasa tersisihkan, dengan menggunakan kata-kata yang kurang dapat di mengerti. malah ada beberapa teman yang mengatakan “percuma memiliki otak tapi tidak berfikir, hidup tapi mati”. Kata-kata seperti itu tentu saja menimbulkan perasaan sakit hati pada teman saya.
Di divisi agama, tidak ada ketimpangan yang terjadi. semua melakukan tugasnya masing-masing dengan sangat baik. mereka sama-sama mengajar TPA, turut mengajar shalawatan yang rutin di lakukan setiap hari rabu.
Di dalam berkelompok tentu saja ada ketidaksamaan pemikiran sehingga menimbulkan ketimpangan-ketimpangan atau ketidaksetaraan gender dalam berbagai event kegiatan. Akan tetapi hal itu selalu segera tertutupi dengan adanya kebersamaan dalam mengerjakan setiap hal. Jadi kekurangan–kekurangan maupun ketimpangan-ketimpangan yang ada nyaris tak terlihat.   


Rabu, 30 Oktober 2013

Islam dan Kekerasan Terhadap Perempuan

Saatnya Berhenti Melakukan Kekerasan Terhadap Perempuan.
(by: Nurul Wakhidati)

Ketika saya mengikuti kuliah umum bersama KH Husein Muhammad MH, (penulis buku, "Islam agama ramah perempuan, pembelaan kiai pesantren").  banyak hal yang semula saya anggap kurang menarik untuk sekedar di perbincangan dengan teman-teman, mengenai kekerasan yang dilakukan pihak laki-laki terhadap pihak perempuan. Ternyata ketika saya melihat data yang disajikan dalam kuliah umum tersebut, saya sedikit berfikiran. “kenapa ya banyak sekali kasus yang berkaitan dengan kekerasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan terutama di dalam keluarga?”. “kenapa ya, laki-laki yang seharusnya melindungi perempuan dengan Tuhan memberikan fisik yang kuat, justru berbalik memberikan siksaan batin maupun fisik pada perempuan?”. Dan khususnya untuk yang berkeluarga, tiba-tiba muncul pertanyaan sarkatis, “kalau gak cinta dan pada akhirnya hanya akan melakukan tindakan kekerasan, kenapa menikah?”.
Pertanyaan-pertanyaan yang demikian terus bermunculan seiring dengan data statistik yang di munculkan di layar LCD yang tertulis dan ini merupakan data yang valid dari data KOMNAS Perempuan pada tahun 2012 yang dilansir pada tanggal 23 maret 2013.
Tahun 2012, dilaporkan terdapat 216.156 kasus tindakan kekerasan. Dengan 203. 507 kasus di sidangkan di 325 Pengadilan Agama (menurut data BADILAG), 87 kasus di Pengadilan Negeri dan PM. (menurut data BADILUM), 2 di UPPA (menurut data UPPA), dan 12.649 di 225 lembaga mitra pengada layanan di 30 provinsi. 203.507 diantaranya berada pada kasus ranah personal atau dalam ranah privasi yaitu terjadi terhadap istri.[1][1]
          Kenyataan tersebut benar-benar membuat saya dan teman-teman saya tercengang. Dan yang lebih membuat saya kagum lagi adalah, bahwa jumlah yang tertera diatas hanya jumlah yang terdaftar di berbagai pengadilan tersebut. Masih banyak lagi kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan di Indonesia ini yang tidak terjamah oleh tangan hukum. Entah itu karena si istri takut melapor, entah itu si istri atau perempuan merasa itu sebagai hal yang tabu untuk di ketahui oleh orang lain, atau alasan-alasan lain yang justru semakin memperparah tindakan kekerasan tersebut.
          Dulu, ketika saya mendapati seorang suami yang tega menyakiti istrinya dengan pukulan ataupun tamparan, saya berfikir bahwa kekerasan itu hanyalah berlaku pada keluarga tersebut. Karena di lingkungan tempat tinggal saya, saya hanya menemui satu kasus kekerasan itu, dan tindakan kekerasan tersebut tidak pernah dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Padahal saya merasa bahwa tindakan yang dilakukan oleh suami tersebut kepada istrinya adalah suatu tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tetapi meskipun istrinya di perlakukan  seperti itu, bahkan perlakuan yang saya anggap tidak berperikemanusiaan tersebut dilakukan di hadapan anak mereka, sedangkan si Istri sama sekali tidak berani melapor, karena merasa bahwa dia bergantung hidup dalam urusan ekonomi terhadap suaminya.
  Akar dari masalah kekerasan terhadap perempuan adalah adanya ketimpangan relasi antara laki-laki dengan perempuan yang mana akan berakibat pada Diskriminasi Gender. Kemudian juga terdapat ketimpangan yang diperparah dengan adanya kendali lebih terhadap korban, baik dari segi Ekonomi, pengetahuan, ataupun dari segi status sosial, kendali ini juga muncul dalam bentuk hubungan patron klien,seperti yang terjadi antara orang tua dengan anak, majikan dengan pembantu, dan lain sebagainya. Juga akar dari masalah kekerasan pada perempuan ini adalahadanya pelanggaran hak-hak konstitusi Undang-Undang 1945.[2][2]
          Saya pikir, wacana di atas adalah benar adanya. akar dari masalah kekerasan yang terjadi pada perempuan adalah adanya ketimpangan relasi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan segi Ekonomi, Sosial, Budaya dan adat yang berkembang juga merupakan faktor pendukung adanya ketimpangan yang terjadi pada perempuan. Karena perempuan dianggap selalu sebagai pihak yang lemah, pihak yang tidak boleh melawan dan membantah terhadap semua tindakan yang dilakukan si suami, dan merupakan pihak yang selalu dinomor duakan.
          Laki-laki dianggap sebagai seorang penguasa di dalam sebuah keluarga dengan anggapan bahwa laki-laki adalah pemimpin sehingga membuat laki-laki merasa bahwa dirinya adalah sosok nomor satu di dalam keluarga dan menginginkan segala hal yang diinginkannya terpenuhi tanpa memperdulikan perasan si perempuan atau si istri. Hal ini saya rasa sangat banyak terjadi di dalam keluarga meskipun tidak semua kasus tersebut berakhir dengan pertengkaran maupun perceraian.
          Tetapi ada satu pertanyaan yang menurut saya sangat bagus dari teman saya, “perempuan itu pada dasarnya adalah makhluk terhormat dan harus di hormati, lalu bagaimana jika perempuan itu justru tidak dapat menghormati dirinya sendiri. Misalnya mereka memakai pakaian mini yang jelas-jelas mempertontonkan auratnya di depan umum. Baju-baju sexy yang mengundang syahwat, ketika terjadi pemerkosaan misalnya, kenapa hanya lelaki yang dipersalahkan?”. Lalu kemudian saya turut berfikir, “benar juga, kenapa perempuan senang mempertontonkan auratnya, dan itu juga terjadi pada perempuan-perempuan muslim yang sudah di perintahkan untuk menutup auratnya.” Tetapi pantaskah ketika laki-laki berkata, “dia menggunakan pakaian ketat dan itu mengundang syahwat. Jadi ketika laki-laki memperkosa dia itu adalah hal yang wajar. Karena memang pihak perempuan yang menggoda”. Pernyataan ini benar-benar memojokkan perempuan. Perempuan di streotype kan, kalau perempuan itu memakai pakaian ketat berarti perempuan itu perempuan yang tidak baik dan pantas jika laki-laki memperkosanya. Kenapa perempuan memakai pakaian ketat di anggap sebagai suatu kesalahan sedangkan laki-laki yang bertelanjang dada kesana kemari justru menjadi hal yang wajar-wajar saja dan di katakan maskulin ataupun gentle? Padahal mereka juga mengetahui batas auratnya.
Dengan segala diskriminasi yang di lakukan oleh laki-laki, apakah kemudian berarti bahwa laki-laki merupakan satu-satunya pihak yang salah dan dapat terus menerus dipersalahkan?. Saya rasa tidak juga. Ada beberapa kasus yang  justru perempuan melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. dan hal itu juga mengakibatkan luka-luka yang tidak ringan. Misalnya kasus Egi, salah satu aktor Indonesia yang juga mengalami kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dilakukan istrinya dan berakhir dengan perceraian.
          Beberapa contoh yang saya sebutkan diatas hanyalah kekerasan yang terjadi di ranah privat atau hanya di dalam keluarga. Beberapa ranah lainnya juga tidak kalah memojokkan bagi kaum perempuan khususnya. Misalnya dalam ranah komunitas. Banyak dari para pembantu mengalami kekerasan yang dilakukan majikannya. Seperti menyiram pembantunya dengan air panas, ataupun menjadikannya sebagai budak nafsu bagi majikannya.
Perlakuan-perlakuan diskriminasi yang dilakukan oleh laki-laki maupun majikan kepada perempuan atau pembantunya. maupun sebaliknya merupakan suatu bentuk pelanggaran HAM. Yang mana setiap manusia yang dilahirkan kedunia dalam keadaan hidup, memiliki hak untuk kehidupannya, memiliki hak untuk merasakan kemerdekaan, dan hak-hak lain yang dimiliki setiap manusia.
          Sifat diskriminasi yang terjadi ini, saya rasa sangat erat kaitannya dengan budaya patriarki yang berkembang di berbagai negara. Di Indonesia sendiri budaya patriarki ini juga tetap berkembang. Misalnya di etnis jawa mengatakan bahwa perempuan atau istri itu kanca wingking ataupun bahasa lainnya, surga manut neraka katut. Padahal Islam sendiri mengatakan bahwa kedudukan antara laki-laki dengan perempuan adalah sama di mata sang Pencipta. Lalu mengapa perempuan justru selalu menjadi makhluk nomor dua?.
Islam adalah agama yang ramah perempuan. Islam begitu menghargai dan menghormati perempuan. Seperti hadits nabi berikut, “Barang siapa yang memiliki tiga anak wanita lalu memelihara, mengasih sayanginya dan menanggung hidupnya maka dia pasti masuk surga. Lalu ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana kalau hanya dua?” beliau menjawab, “Meskipun hanya dua.” Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa seandainya mereka bertanya, “Bagaimana kalau cuma satu?” niscaya Rasulullah akan menajawabnya: “Meskipun Cuma satu.” (HR. Ahmad 3/303, lihat Ash Shohihah : 2679)[3]
Bagaimanapun juga saya, menganjurkan bagi para laki-laki sebagai seorang suami maupun calon suami. Selayaknya menghargai dan menghormati istri-istri mereka sebagaimana mereka menghargai ibu mereka. Karena bagaimanapun juga Ibu adalah seorang perempuan begitu pula dengan istri juga seorang perempuan dan sudah seharusnya suami untuk menjaga dan mengayomi istrinya, bukan justru menyakiti dan menimbulkan luka fisik maupun luka batin. Jadi mulai sekarang dan seterusnya, marilah kita menghargai perempuan. karena Tidak akan menghormati perempuan, kecuali laki-laki yang terhormat. dan Tidak akan menghina perempuan kecuali laki-laki yang hina. kutipan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

kelompok:
1.     Nurul Wakhidati
2.     Meilisa Marditawati
3.     Rofisa Nurmalasari




[1][1] Husain Muhammad, kuliah umum Islam dan kekerasan terhadap perempuan, tanggal 22 oktober 2013
[2][2] Ibid.... Husein Muhammad
[3] http://www.fimadani.com/keagungan-wanita-dalam-islam/

Selasa, 22 Oktober 2013

saat-saat paling menyakitkan



TULUNGAGUNG, 28 MAY 2013
Hari ini benar-benar merupakan hari yang naas bagiku. Aku kecelakaan motor di daerah Trenggalek kota. Waktu itu aku akan pergi ke Ponorogo, tempat dimana kawanku dulu menuntut ilmu ketika di bangku SMA.
 Sebelum berangkat, aku sebenarnya merasa ragu, begitu juga dengan temanku.  Entah keraguan itu karena apa. Aku sempat berfikir untuk tetap kuliah sore ini. karena memang sebenarnya akku harus kuliah sampai sore pada hari ini. Tapi aku mencoba untuk menepis keraguan itu, dengan alasan aku benar-benar ingin pergi ke ponorogo. Karena seumur hidup aku belum pernah bertandang ke kota reog itu. akupun mencoba menguatkan niat.
Akhirnya sekitar pukul 16:00 WIB, aku dan temanku berangkat naik motor menuju Ponorogo. Saat di jalan, aku sms’an dengan teman sekelasku meme. Tapi melalui hp teman seperjalanan ku ini. Namanya Hesti. Ketika sampai di perempatan lampu merah, kami berhenti, karena saat itu memang lampu jalan sedang menunjukkan warna berhenti. Kamipun berhenti sejenak untuk menunggu lampu lalu lintas berubah warna. Saat lampu itu berubah hijau, temanku langsung meluncur dengan begitu cepatnya. Dan saat itu aku sempat melihat ke arah kanan. Ada satu kendaraan motor warna putih yang sama-sama matic, mencoba menerobos lampu lantas. Aku sudah berfikir, “pasti aku akan ditabrak, pasti akan kecelakaan”. Aku hanya bisa membatin tanpa bisa berteriak atau melakukan hal lain.
Dan benar saja, sedetik kemudian, Braaakkkk.... aku merasa terdorong, motor kamipun ambruk. aku benar-benar menjadi pihak yang tertabrak. Karena aku merasakan ban motor putih itu mengenai kakiku. Aku tetap dalam kondisi sadar saat itu. hanya saja aku tidak mampu untuk melakukan satu halpun. Jadilah aku hanya diam di pangkuan temanku. Temanku benar-benar panik. Tentu saja, karena aku hanya diam tanpa menjawab panggilannya. Aku sungguh mendengarnya, tapi aku begitu lelah untuk menjawab panggilannya. Jadilah akku diam saja, sambil memejamkan mata. Berharap bahwa ini semua hanya mimpi. Karena sekejap itu aku benar-benar tidak merasakan sakit sedikipun. Hanya ada perasaan lelah....
Aku kembali sadar ketika aku di seret oleh seorang laki-laki. Masih belum kurasakan sakit. Hanya ada kesadaran yang lambat laun mulai kembali, dan aku membuka mata kembali karena tersadar, bahwa ini semua bukan mimpi, ini nyata. Dan aku berada di tengah-tengah jalan raya. Akupun segera dapat duduk dengan tegap, dan aku mulai melihat luka-lukaku... tidak parah, hanya goresan di dengkul, tulang kering, dan di dekat jari-jari kaki kananku. Sebelum kau tahu, ternyata ada satu luka yang cukup lebar didakat mata kakiku. Masih belum terasa sakit. Hanya aku merasa kembali berkunang-kunang. Tak ku dengarkan orang-orang berbicara mengenai kecelakaan itu. tak ku pedulikan si penabrak yang menyangkal kesalahannya,tak ku perhatikan temanku yang mati-matian mengatakan bahwa kami telah melihat lampu hijau. Aku tetap hanya memandangi luka-lukaku. Aku mencoba untuk sedikit membersihkan luka di dekat mata kaki. Aku sadari bahwa itu luka yang cukup dalam. Karena saat itu terlihat sesuatu yang putih. Entah itu tulang ku atau apa, aku kurang tahu. Dan tiba-tiba orang yang menolongku tapi bilang, “wah,,, sepertinya luka ini cukup dalam, operasi ini..” . aku benar-benar syok, dan rasanya pengen nangis ketika dengar kata operasi. Oh.. ayolah... aku takut jarum suntik. Apalagi operasi, di jahit pasti. Dalam sekejap rasanya naywaku melayang entah kemana. Aku jadi takut untuk pergi ke Rumah Sakit.
Temanku yang merasa cemas padaku, segera menaikkan ku ke motor. Aku tidak kuat lagi untuk berjalan. Masih belum terasa sakit, hanya saja, kaki ini tidak kuat lagi untuk menumpu tubuhku yang cukup berat untuk beban kaki yang sakit ini. Dengan tertatih-tatih dan bantuan orang-orang, aku mampu untuk menaiki motor temanku. Dan temanku segera melajukan motornya ke tempat dokter di lingkungan sekitar. Tentu saja si penabrak berada di depan sebagai penunjuk jalan ke rumah dokter tersebut, karena kami tidak mengenal daerah itu, dan juga karena dia harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpaku. Karena itu adalah salahnya...!!!
Setibanya di tempat seorang (katanya) dokter. Akupun turun. Dan dengan tertatih-tatih, aku mencoba untuk mengikuti jalan si penabrak, tentu saja dengan temanku yang membantuku berjalan. Aku merasa lemas kembali. Keinginan ku hanya satu hal saat itu. istirahat..  tapi harapan itu musnah seiring dengan perginya pak dokter kesuatu tempat. Kamipun segera mencari dokter lain. Si ibu penabrak itu terus saja mencoba berputar-putar dan kami mengikutinya. Aku sungguh tidak mampu lagi untuk terus dalam kesadaranku. Aku mulai lemah kembali. Dan saat aku berputar-putar tadi, aku melihat ada plang menunjukkan rumah seorang dokter. Aku memintanya untuk kembali ke tempat itu. tapi si ibu penabrak ngeyel kalau disitu tidak ada seorang dokterpun. Aku tidak peduli lagi dengan ibu-ibu itu. aku segera meminta temanku untuk putar balik dan menuju ke tempat dokter itu berada. Danbenar saja, itu adalah ruah praktek seorang dokter (baru katanya..). akmipun masuk, tidak lama aku berada di dalam rumah tersebut, kemudian aku diajak untuk mengikutinya ke Rumah Sakit swasta di kota tersebut. Akupun hanya mengikutinya saja. Karena yang aku butuhkan hanyalah istirahat.
Dan sampai di rumah sakit tersebut, aku langsung di suruh tidur di tempat tidur. Dan kakiku pun segera dilihat. Tiba-tiba beberapa dokter dan perawat berjalan mendekatiku, sambil membawa alkohol dan alat suntik. Aku yang tadinya pucat pasi karena hampir pingsan, sekarang aku kembali pucat karena melihat betapa jarum suntik itu nanti akan dipergunakan untuk ku. Aku pun segera bertanya, “aku mau disuntik bu,?” dan jawabannya, “iya.. ini obat bius, karena kaki kamu harus dijahit..”.”ha...????” rasanya nyawaku rontok saat itu juga. “anu bu, gak usah di jahit, di hansaplas saja ya.. palingan juga cepet sembuh,” kataku mengiba, dan jawaban dokter adalah,” tidak bisa, luka kamu cukup dalam, kalau tidak di jahit nanti bisa infeksi, dan memungkinkan kaki kamu untuk di amputasi,,”. Amputasi..? serem kan dengernya. Aku mencoba menguatkan diri untuk di suntik, tapi aku takut, dan aku mulai menangis karenanya. “ jangan di suntik bu..” kata ku sambil menangis, tapi dokter itu terus menerus menekanku untuk menyuntikku. Aku tanya lagi, “kaki ku yang mau di suntik bu,?”, “yaiyalah, memang dimana..?” aku berharap itu adalah bius total, tetapi nyatanya, itu hanya bius lokal yang bikin aku tambah frustasi. Di satu pihak, berat rasanya menyerahkan kakiku untuk di suntik, tapi dipihak lain, aku tidak mau amputasi. Akuun mencoba menyerah, aku melonggarkan kakiku, dan ketika kaki ku di pegang oleh pere perawat, aku kembali mengambilnya, aku tanpa malu, benar-benar menangis saat itu juga. Beberapa orang mencoba mendekatiku, dan melihat apa yang terjadi denganku. Mungkin mereka mengira ada kejadian besar yang menimpaku, misalnya aku divonis mati hari ini, atau hal buruk lain. Dan mereka tertawa ketika melihat aku menangis keras sambil teriak-teriak seperti orang gila dan ternyata hanya karena takut pada jarum suntik.
Parah... aku malu tapi aku tidak peduli. Aku kembali mencoba menguatkan diriku, aku kemudian memeluk temanku untuk meredakan rasa sakit dan takutku. Dan akhirnya para dokter berhasil membius kakiku. Tapi temanku jadi sasaran kekejamanku. Sampai dia yang hampir pingsan karena aku memeluknya terlalu erat di perutnya. Gomenasai.... aku bukan aku kalau liat jarum suntik.. :P
Rasanya sakit... waktu jarum suntik menembus kaki, juga obatnya gak kalah sakit. Aku gak berhenti menangis. Sampai temenku keceplosan bilang, “anak pencak kok takut suntik...” hah...??? plis deh.. anak pencak juga manusia, tetep ada yang bikin takut. Hhhh... tapi sejujurnya aku agak malu saat itu, jadi aku diam, tetap memeluk temanku sekuat yang aku bisa, dan tetap menangis. Meski di bius, ternyata masih kerasa lo, waktu di bersihkan, waktu di jahit, dan ada beberapa tempat yang tidak terkena obat bius, tetapi tetap perlu untuk dijahit. Jadilah kerasa banget perihnya...
Setelah semua selesai, tempat perlu untuk di sterilkan, nyawaku sudah terkumpul semua, akupun disuruh duduk, aku mulai bisa tersenyum, dan temanku mengurus admin.a... beberapa perawat tersenyum mengejek ketika melihatku senyam-senyum malu. Tiba-tiba aku di tanya, “ benar kamu ikutan pencak,”. “ tidak kok pak,”. Aku mengelak kebenaran, :P.
 aku tidak bawa uang cash waktu itu, hanya ada 50 ribu di dompet ku. Akhirnya pacar temenku, aku mintai tolong untuk mengambilkannya di atm. Aku dan temanku yang terlibat kecelakaan menanggung bersama biayanya, karena orang yang menabrakku melarikan diri entah kemana. Urusan selesai, dan kami di perbolehkan untuk pulang. Padahal kemarin aku baru saja hura-hura, kenapa sekarang jadi terluka..?? LAku pulang di gandeng oleh pacar temanku itu. di perjalanan, baru terasa sakit. Aku sebenarnya agak malu, karena celanaku harus kusingsingkan sampai atas lutut. Mau gimana lagi, lututku juga terluka, meskipun tidak separah yang dimata kaki. Dan beginilah jadinya kakiku saat ini...
27 may 2012 (1).jpg27 may 2012 (2).jpg27 may 2012 (3).jpg27 may 2012 (10).JPG27 may 2012 (5).jpg