Penyesalan
selalu hadir diakhir cerita,
Karena
penyesalan membutuhkan proses untuk memahami maknanya.
@Saturday,
July 26 20xx
“kakak...
Kenapa kau hanya diam saja?. Aku mohon bicaralah denganku. Berhenti
mengacuhkanku, aku tahu aku salah, aku minta maaf padamu kak...” Tangis irfa meledak
di sebuah ruangan yang dingin penuh dengan raga tanpa nyawa itu.
“irfa,
jangan seperti ini, rafa akan tersiksa dialamnya. Ikhlaskan ya...?”. Laki-laki
setengah baya yang masih nampak gagah itu mencoba untuk menghibur buah hatinya
yang masih belum mampu menerima kenyataan itu.
“tapi
aku gak mau kehilangan kakak papa. Sudah cukup mama yang pergi... Aku tak suka
kehilangan lagi... Aku mohon bangunkan kakak papa... Dia pasti akan menurut
jika itu papa”. Mohonnya begitu memilukan.
Sang
ayah hanya mampu mendekap sang putri yang kini menjadi satu-satunya peninggalan
berharga dari istri tercintanya. Air mata tak mampu dibendung oleh laki-laki
yang mereka panggil papa itu. Karena sekuat-kuatnya dia menahannya, tapi dia
merasa takkan mampu untuk membendung kesedihan dari kehilangan itu.
___Naru_Chan___
Langit
tampak gelap, mendung menggantung begitu pekat. Seakan turut menahan duka yang
mendalam atas kembalinya satu jiwa pada sang pencipta.
Rombongan
peziarah berbaju hitam itu nampak beriring-iringan mengikuti sebuah keranda
berwarna hijau yang mengangkut jenazah gadis 17 tahun itu.
Sedu sedan
sesekali terdengar dari keluarga yang ditinggalkan. Tak berarti belum rela atas
kepergiannya yang begitu mendadak, hanya mengenang setiap kenangan yang telah
berlalu secepat angin topan itu.
Sang ayah
dan gadis perempuan yang terus didekapnya itupun turut mengantar jasad sang
kakak menuju tempat peristirahatan terakhirnya, rumah masa depan yang menunggu
setiap jiwa yang bernyawa untuk mendatanginya.
Doa-doa
suci terus terdengar dari bibir-bibir kerabat tanpa henti. Menyakinkan alam
bahwa pemilik jasad adalah seorang yang baik dan memiliki banyak kebaikan disisinya.
___Naru_Chan___
*7 years ago...
“untukmu
kak...”. Kata seorang gadis kecil dengan riangnya. Tangannya masih terus bergerak
untuk mengaitkan benang-benang berwarna merah ditangan sang kakak yang lebih
tua dua tahun darinya.
Sang
kakak yang rupanya sedang sibuk mengaitkan benang-benang merah lainnya hanya
tersenyum dan kemudian memperhatikan kegiatan sang adik yang nampak asyik
dengan kegiatannya itu.
“yak...
Selesai...” Sang gadis cilik masih dengan suara riangnya nampak bangga dengan
hasil kerjanya. Sebuah gelang, ah... Mungin bisa dikatakan kaitan benang yang
nampak tak rapi kini menghiasi pergelangan tangan kanan sang kakak. “jangan
sampai hilang”. Peringatnya yang mendapat anggukan sebagai balasannya.
“terima
kasih...” Balas sang kakak tulus. Dipandanginya kembali gelang yang berada
dipergelangan tangannya. Kulitnya yang tidak terlalu cerah membuat gelang
berwarna merah itu terlihat mencolok di pergelangan tangannya. Tapi hadiah dari
adiknya akan selalu menjadi jimat berharga baginya.
Dengan
terampil, segera sang kakak membuat sesuatu yang hampir sama dengan yang dibuat
adiknya. Rangkaian benang merah yang berliku hingga membentuk sebuah gelang
yang tiada duanya didunia.
Sambil
bangga dipandanginya kembali gelang yang telah dibuatnya. Gelang dari benang
merah yang sama dengan yang digunakannya. Dibuat dengan kasih sayang dan
ketulusan luar biasa, dipenuhi dengan pengharapan dan doa.
Tanpa menanyakan
apapun, sesaat setelah gelang itu selesai, sang kakak segera mengaitkan gelang
hasil karyanya pada sang adik. Sang adik terlihat mengawasi apa yangdikerjakan
sang kakak. Senyum kemudian mengembang setelah mengenakan benda berwarna merah
mencolok itu. Sang adik terlalu sungkan untuk mengatakan terimakasih dan
akhirnya kembali memandangi gelang barunya itu.
“jangan
dihilangkan...”. Sebuah peringatan lagi-lagi terdengar di ruangan itu, dari
mulut yang berbeda dan dari orang yang berbeda.
Anggukan
kecil kembali menjadi tanda persetujuan dari sang adik.
___naru_chan___
“kak,
kau mandi tanpa melepas gelangnya?”. Tanya sang adik dengan wajah yang penuh
tanya.
“tentu
saja, kalau aku melepaskannya, aku khawatir gelangnya akan hilang”. Jawab sang
kakak dengan nada mantap.
Sang
adik merasa senang melihat sang kakak yang terus menjaga gelang pemberian
darinya. Sang kakakpun tersenyum demi melihat senyuman yang terpancar dari
wajah sang adik.
___naru_chan___
“kak,
tolong pasangkan gelangnya”. Pinta sang adik pada sore itu.
Sang
kakak dengan wajah sedikit kecewa berkata, “kenapa bisa lepas?. Padahal kemarin
aku mengatkannya dengan kuat”.
“aku
sengaja melepaskannya. Aku tidak mau air membuat warnanya pudar. Aku juga
khawatir kalau-kalau kaitannya tak sengaja terlepas dan hilang bersama aliran
air”. Jawabnya yakin.
Sang
kakak mulai menerima alasan sang adik memilih untuk melepaskan gelangnya
berkali-kali setiap kali dia melakukan suatu kegiatan.
___naru_chan___
*7
years later
@Monday,
july 21 20xx
Sang kakak
kini tengah duduk dibangku kelas 3 sebuah sekolah menengah ternama. “kau mau
melanjutkan kemana fa...?” Sebuah suara cempreng menginterupsi kegiatan melamun
sang kakak.
“entahlah
win... Aku belum memutuskannya”. Balasnya sambil tersenyum. “lagipula kita baru
saja menginjak kelas 3”. Lanjutnya.
“bagaimana
kalau kita nanti mengambil universitas yang sama?. Sepertnya menyenangkan...?”.
Ungkap sang sahabat penuh harap.
“hm...”
Hanya dengungan layaknya lebah itu yang keluar dari bibirnya yang sedikit
tebal.
Sang
sahabat hanya mampu menggendikkan bahunya demi mendengar kalimat tak jelas itu.
Well, itu memang kalimat paling menyebalkan.
Sekali
lagi, pandangan sang kakak menerawang entah kemana. Tak terlihat raut bahagia
diwajahnya yang sedikit tirus.
Tangannya
mulai menutupi matanya yang sedikit panas. Bukan karena ingin menangis, hanya
terlalu lama membuka kelopaknya menyebabkan sedikit rasa perih di bola matanya.
Sebuah
benang berwarna merah nampak mengikat pergelangan tangannya yang kurus. Benang
merah yang masih sama dengan benang yang dilingkarkan sang adik
dipergelangannya beberapa tahun silam.
Dipandanginya
benang yang melingkar itu untuk kesekian kalinya sejak benda itu melingkari
pergelangannya. Kembali senyum itu terajut diwajahnya. Perasaan hangat mulai
mengalir direlung batinnya dan membuyarkan mega mendung yang menyelimuti
wajahnya.
Beberapa
kali dihembuskan nafasnya berat, mencoba menghalau segala beban yang berkecamuk
di otaknya. ‘just be your self rafa’, batinnya mencoba menyemangati dirinya
sendiri. Dansepertinya sedikit berhasil.
“rafa
aditya...”. Sebuah panggilan yang tidak bisa dikatakan pelan itu memasuki
gendang telinganya dan memaksa seluruh kesadarannya mengumpul pada satu raga.
Tangannya
teracung keatas, “hadir”, ucapnya berusaha cukup kencang untuk dapat didengar
sampai meja guru, sang pelaku pemanggilan.
Laki-laki
setengah baya yang memanggilnya tadi kemudian berturut-turut memanggil satu
demi satu nama yang tertera di jurnal absen miliknya, seperti seseorang yang
malas mengingat nama-nama muridnya sendiri.
Pelajaranpun
segera dimulai. Laki-laki setengah baya itu mulai memberi pelajaran pada
muridnya mengenai pengertian integral, bahwa integral merupakan sebuah konsep
penjumlahan secara berkesinambungan dalam matematika dan bersama dengan
inversnya, diferensiasi, merupakan salah satu operasi utama dalam kalkulus. Sebuah
penjelasan matematika yang dapat diunduh di wikipedia yang sama sekali tak
diolahnya kembali, dan mungkin akan membuat siapapun tertidur apalagi dijam
istirahat siang ini.
Sang kakak
yang ternyata rafa aditya ini justru sibuk dengan dunia comicnya yang tak
pernah mampu dihentikan oleh siapapun. Bahkan ada beberapa siswa yang membuat
gantungan kunci aneka bentuk dari kain flanel. Intinya hanya siswa yang duduk
di bangku urutan pertama yang memperhatikan pelajaran laki-laki setengah baya
yang biasa dipanggil bapak guru itu.
*waktu
yang sama ditempat yang berbeda...
Sang
adik kini telah duduk dibangku kelas 1 sekolah menengah yang sama dengan sang
kakak.
Diam,
hanya itu yang dilakukannya dari waktu ke waktu. Apalagi yang dapat dilakukan
oleh murd baru yang sama sekali belum memiliki teman apalagi sahabat, meski
masa orientasi siswa baru telah dilewatinya dengan mulus. Bangku pada baris ke
2 dari arah depan maupun samping kanannya menjadi pilihannya untuk menjalani
hari-hari selanjutnya di sekolah itu.
Sang adik
rupanya tengah melamun juga. Tak ada yang dipikirkannya selain betapa bosannya
dia dikelas itu dan berharap kelasnya segera berakhir.
“irfa,
istirahat nanti mau ke kantin bersama”. Sebuah suara mengakhiri petualangan
dunia khayalnya. Dipandanginya teman disampingnya yang baru beberapa jam lalu
dikenalnya.
“oke...”.
Singkat, hanya jawaban itu yang diberikannya. Bukannya ingin terlihat sombong,
hanya saja irfa memang bukan type gadis yang suka bertele-tele dalam memberi
jawaban atau semacamnya.
“sebenarnya
sekarang, kita bisa saja ke kantin, tapi tentu kamupun tidak mau dicap sebagai
siswa tercela di tahun ajaran baru bukan?”. Sekali lagi teman disampingnya ini
mencoba berakrab ria dengan irfa sang adik.
Sebuah
anggukan diberikan sebagai jawaban, “mari kita tunggu bel istirahat saja”, dan
sekali lagi, balasan yang tidak bisa dikatakan panjang itu keluar dari
bibirnya.
Sungguh,
irfa bukanlah gadis sombong, hanya tidak begitu suka beramah tamah pada orang
baru.
Jam
istirahat kedua berdering, dan sesuai dengan kesepakatan dua teman baru ini
segera menuju kantin yang tepat berada disebelah kelas mereka.
___naru_chan___
Petang
mulai datang, jingga dilangit bagian
barat itu menandakan bahwa sang malam mulai menjelang. Tak ada suara binatang
malam semerdu jangkrik dikota ini, karena tanah-tanah telah dipadati dengan
aspal keras yang tak mungkin mereka gali.
Irfa
terlihat mendatangi kamar sang kakak yang berbeda beberapa pintu dengan kamar
miliknya.
“kak,
sabtu nanti kakak pulang?”. Tanyanya ingin tahu sesaat setelah mendudukkan
pantatnya di kasur empuk milik sang kakak.
“hm...
Jatah mingguan habis. Kau tak pulang eoh..?”. Wajah rafa yang penuh tanda tanya
segera saja terlihat saat sang adik menanyakan hal yang sebenarnya sudah
menjadi kebiasaannya atau bahkan kewajibannya.
“aku
ada acara dengan tim jurnalis kak, mintakan uang mingguanku juga ya...?”
Pintanya dengan wajah sok imut yang membuat rafa tak mampu memberi kata
penolakan.
“hm...”.
Tapi jawaban singkat tanpa makna itu yang lagi-lagi keluar dari bibirnya.
Sedikit membosankan memang, tapi sebenarnya dia tak begitu suka pulang ke rumah
tanpa sang adik bersamanya.
“kak,
aku tidur disini ya malam ini?. Kak shela kan pulang. Tapi kenapa kak shela
pulang lagi sih kak?. Baru juga tadi pagi dia sampai disini?”. Jiwa jurnalis
irfa rupanya mulai mendarah daging sejak hari pertamanya bergabung dengan club
sekolah itu.
“kakak
laki-lakinya menikah, lusa berangkat ke sumatera”. Jawaban rafa masih saja
singkat. Mungkin juga memang demikian sifat aslinya.
Kepala
irfa beberapa kali mengangguk hingga membuat rafa merasa khawatir dengan
tingkahnya.
Mereka
berduapun segera mengatur tempat tidur senyaman-nyamannya dan mulai merebahkan
tubuh penatnya.
Rafa
terlihat sibuk dengan comicnya yang siang tadi dipinjamnya dari toko rental
dekat kosnya itu. Ditelitinya tiap halaman di comic itu, berharap alur cerita
semakin menarik dan membuatnya terus penasaran dengan comic tersebut.
Irfa
yang memiliki hobi hampir sama, rupanya tak mau kalah dengan sang kakak. Jari-jari
kurusnya turut sibuk untuk membelai lembaran novel yang dipegangnya itu.
Sebuah
kalimat dalam novel itu menggoda pikirannya. “Penyesalan selalu hadir
diakhir cerita,Karena penyesalan
membutuhkan proses untuk memahami maknanya”.
“penyesalan?,
kalimat klasik. Kalimat itu tak akan pernah ada dalam kamus hidupku”. Dengan wajah
bersungut-sungut, irfa nampak tak terima dengan kalimat penyesalan. Karena menurutnya,
setiap tindakan itu memang haris difikirkan dengan matang-matang, agar
penyesalan itu tak pernah ada.
Rafa
hanya mampu tersenyum maklum saat mendengar kalimat sarkatis yang diucapkan
sang adik. Tapi otaknya justru berkelana dalam angan. ‘andai saja aku berada
didekat mama waktu itu’, batinnya penuh penyesalan.
Mereka
berdua kemudian memilih untuk menutup buku yang mereka pegang, mematikan lampu
baca, dan menyalakan lampu tidur agar tak terasa gelap gulita.
Mata mereka
terpejam, namun tidak –belum- dengan pikiran mereka.
“kamu
sudah tidur?”. Telunjuk rafa menyentuh pipi sang adik yang sedikit lebih chubby
darinya itu.
“belum,
ada apa kak?”. Tanya irfa seraya membuka kelopak matanya kembali.
“ehm...
Kau sudah ngantuk?”. Sekali lagi pertanyaan yang sedikit tidak penting. Tapi jawaban
belum dari sang adik membuat kamar kembali hangat dengan celotahan mereka
selanjutnya.
Dan mereka
tertidur saat waktu menunjukkan puku 02:00 dini hari.
@Tuesday,
July 22 20xx
Pagi yang
cerah, tapi sedikit muram bagi dua bersaudara ini. Mata mereka yang masih
lengket memaksa untuk tetap bertahan dan bergulung dibawah selimut hangat
mereka.
Tidur terlalu
larut rupanya membuat tubuh mereka menjadi sedikit tak bersahabat. Mereka bahkan
berjalan terasa melayang dan itu memang tidak begitu baik bagi kesehatan
mereka.
Gelang
merah milik rafa tiba-tiba terlepas dari pergelangan tangannya. Sedikit kaget,
tapi tidak ada kerusakan pada gelang itu membuat rafa mampu bernafas lega. Dia segera
menghampiri sang adik yang masih mengumpulkan segenap nyawanya yang tercecer
kemana-mana dan memintanya untuk memakaikannya lagi.
“tumben
sekali kau melepasnya kak?. Mulai tak suka eoh?”. Pertanyaan yang sedikit berlebihan, tapi
tentu saja irfa curiga, sang kakak selama bertahun-tahun enggan melepaskan
gelang buatannya itu.
“Bukan
begitu, terlepas sendiri. Mungkin gelangnya yang mulai bosan denganku”. Ucap rafa
berkelakar.
“mungkin
juga, gelangnya mulai lelah untuk menjagamu?”. Kali ini kelakar rafa dibalas
telak oleh irfa yang membuat rafa turut tertawa.
___Naru_Chan___
Siang
yang terik diluar sana. Matahari yang mulai condong kearah barat, seakan tak
memiliki rasa lelah untuk memberi cahaya untuk seisi bumi. Awan seputih kapas
terlihat berarak ke arah timur di bawah godaan angin.
Jam
menunjukkan tepat diangka 2. Bel pulangpun terdengar saling sahut seakan
panggilan kerja untuk para tentara. Tapi panggilan yang ini akan menyebabkan
suara gaduh dari para siswa yang ingin segera pulang dan melonggarkan kerah
baju mereka.
Tak
terkecuali irfa, gadis itupun terlihat bersiap-siap untuk segera pulang. Buku
pelajarannya yang berserakan segera dirapikannya dan kemudian melakukan doa
bersama sebelum pulang. Sedikit kekanakan, tetapi itulah tradisi.
“irfa,
minggu nanti jadi ikut diklat jurnalis kan?”. Tanya seorang siswa laki-laki
yang menggunakan pakaian identitas sama dengan yang dikenakan irfa di depan
mushola sekolah.
“ah, iya
kak. Tentu saja aku akan ikut”. Kepala irfa turut mengangguk saat mengucapkan
jawaban dari siswa laki-laki yang ternyata seniornya itu.
“baiklah,
jam 9, jangan lupa...”. Dan sang senior kembali melanjukan langkahnya
mendahului irfa. Sedikit rasa heran berkecamuk dalam batin irfa, bagaimana ada
makhluk langka berkeliaran diarea sekolahnya, yang bahkan tak diketahui siapa
nama si senior tersebut, dan ini masih hari selasa. Oh ayolah... masih kurang 5
hari dari sekarang.
“irfa...
ayo pulang...?” ajak sebuah suara yang ternyata adalah sang kakak.
“ayo...”.
ucap irfadengan suara yang ceria.
___Naru_Chan__
“kemana
gelangmu?”. Tanya rafa ingin tahu.
“ah...
dimana ya..?. aduh kak aku lupa menaruhnya dimana...” Irfa terlihat celingak
celinguk di kamarnya mencoba menemukan gelangnya itu. “nanti aku cari lagi
deh... sekarang aku mau kesekolah lagi, bye kak...”. lanjutnya dan segera
melangkahkan kakinya yang jenjang itu beranjak pergi.
Tanpa
sepengetahuan irfa, wajah mendung terlihat di wajah rafa mengingat tingkah adiknya
itu. “apa hanya aku yang terlalu sayang padanya?”.
Kecewa,
sedih dan banyak perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Tak satupun dari
perasaan-perasaan itu yang memiliki aura positif.
Rafa
terduduk dipinggiran tempat tidurnya. Matanya tak sengaja mengarah pada kaki
tempat tidurnya. Benda berwarna merah nampak tergeletak tak berdaya disana.
Warnanya yang mencolok tentu saja membuat mata rafa yang sama sekali tak
memiliki gangguan itu segera mengenalinya.
“terjatuh,
tentu saja dia tak berniat membuang atau melupakannya bukan?”. Tanya rafa,
lebih pada untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Disimpannya
gelang merah buatannya itu. Dan segera disambarnya comik yang baru saja
dipinjamnya sepulang sekolah tadi dan membacanya. Berusaha menghalau semua
perasaan kecewa yang mendekam dihatinya.
___Naru_Chan___
“kakak,
ayo makan...”. suara irfa yang kencang, mampu membuat rafa hengkang dari dunia
comicnya. “oke...” jawabnya cepat dan
singkat. “kamu sudah makan la...?”. kali ini dia memandang ke arah partner
tidurnya itu. “aku nitip saja boleh..?”.
Rafapun
menganggukkan kepalanya tanda persetujuan dan sheila segera sibuk dengan isi
dompetnya yang kemudian memberikan beberapa lembaran uang kertas ke tangan
rafa.
Selanjutnya
rafa dan irfa segera bergegas menuju warung makan langganan mereka.
“jangan
sampai hilang lagi”. Ucap rafa dan segera mengaitkan gelang merah itu ke tangan
irfa. Gelang yang sempat diraihnya sebelum dia berangkat mencari makan tadi.
“ah,
kau menemukannya ya kak. Tapi aku masih mau mandi setelah ini. Makainya nanti
saja ya kak?”. Tolaknya. Memang beralasan, tapi irfa menyadari ada raut kecewa
di wajah kakaknya.
“baiklah.
Simpanlah kalau begitu...”. segera diberikannya gelang merah itu ke telapak
tangan irfa.
“hm...
wah.. sudah selesai bu...?”. irfa tiba-tiba melihat sang ibu penjual makanan,
dan segera meminta kakaknya itu untuk membayarnya.
Mereka
segera kembali pulang, dan memakan makanannya bersama.
___Naru_Chan___
Malam
pun semakin larut. Irfa terlihat mengerjakan tugas sekolahnya dikamarnya sendiri.
Teman sekamarnya nampak telah lelap dalam mimpinya.
Sang
kakak tentu saja sedang membaca comic dikamarnya dan ditemani pencahayaan yang
temaram, yang tentu saja sedikit tidak baik bagi kesehatan matanya. Tentu saja
karena dia menghargai teman sekamarnya yang juga telah lebih dulu tidur.
Rafa
kembali memandangi gelang merah yang melingkar ditangannya. Kembali senyumnya
terpancar mengingat wajah polos adiknya yang dulu ketika mengaitkan benang
merah itu ditangannya.
Sedang
irfa, hanya melihat gelangnya di meja sekilas, dan segera beralih kembali ke
buku di depannya yang penuh akan rumus-rumus fisika itu.
___Naru_Chan___
@Wednesday,
Juli 23 20xx
Langit
kembali cerah hari ini. Belum ada tanda-tanda musim hujan akan tiba. Mungkin
tahun ini musim kemarau panjang seklai lagi akan menyambangi negara ini.
Angin
terasa bertiup lembut membelai anak rambut milik rafa. Hari ini dia berangkat
lebih pagi dari biasanya karena ada les yang diadakan oleh sekolah, memaksanya
meninggalkan sang adik di kos.
“eh
fa, adikmu dideketin sama ketua osis tuh...”. ucap sheila teman sekamar rafa.
Tanpa
diminta mata rafa segera asyik mencari-cari sosok yang dikenalnya itu. Ah,
andi, ketua osis yang sering dipanggil dengan sebutan china atau ahong itu
terlihat mensejajari langkah kaki irfa.
Dengan
intens, rafa memperhatikan kegiatan mereka dari balkon lantai dua dmana kelas
rafa terletak. Tidak berniat menjadi mata-mata, hanya saja ingin mengawasi adik
semata wayangnya yang ingin selalu dalam jangkauannya.
Andi
adalah orang yang baik. Teman di salah satu kegiatan yang dulunya diikuti oleh
rafa. Remaja yang juga tengah duduk di bangku kelas tiga tetapi bereda jurusan
itu.
“andi sepertinya
suka adikmu fa...”. ucap sheila nampak turut mengawasi dan juga memanasi hati
rafa.
Sebuah
senyuman justru menjadi jawaban dari keusilan sheila. Karena tak masalah bagi
rafa, apapun yang dilakukan oleh irfa selama dia masih mengetahui batas-batasnya.
___Naru_Chan___
Sore
yang segar, langit mulai terlihat jingga, dan awan berwarna senada terlihat
dipermainkan angin sore mengusik
ketenangannya.
Rafa
terus saja memperhatikan pergelangan tangan irfa yang terlihat polos tanpa
apapun disana. Masih dengan rautnya yang kecewa, hanya saja tak ada sepatah
katapun yang keluar dari bibirnya.
Sikapnya
memperlihatkan dirinya tak terlalu peduli apapun yang terjadi dengan sang adik.
Tapi raut wajahnya jelas memperlihatkan tanda tanya besar dengan perubahan yang
terjadi pada adiknya.
Matanya
sibuk melihat pada lembaran comic seperti biasa. Angin mempermainkan rambutnya
dan beberapa lembar comic itupun turut berkebat-kebit layaknya api lilin yang
akan padam.
Irfa
terlihat turut sibuk membaca comic yang siang tadi dipinjam kakaknya. Nampak
asyik dengan dunianya hingga tak disadarinya perubahan sang kakak.
Suara
dari handphone irfa mampu menghancurkan seluruh imajinasi yang mereka berdua
coba susun satu persatu itu, dan menjadi kepingan yang berantakan, akhirnya
terbang seperti debu.
“halo
kak adit... tumben telphone aku.. lagi banyak pulsa nih..?” suara sang adik
yang terdengar ceria itu, rupanya yang justru mampu memporak porandakan
ketenangan sang kakak.
Mata
sang kakak seketika membola, sedang irfa yang saat itu tengah berada dikamar
sang kakak segera menjauh dan kemudian memasuki kamarnya sendiri.
Tentu
saja hal itu membuat sang kakak khawatir terhadapnya. Adit adalah bocah
ternakal di sekolah yang setahun lalu resmi menjadi adik kelasnya. Berkali-kali
mencatatkan namanya di buku BP. Ketahuan merokok, membolos, tawuran, bahkan
mabuk-mabukkan adalah catatan-catatan kenakalannya yang bahkan sudah menjadi
rahasia umum. Meskipun beberapa kali dia menyumbangkan piala untuk sekolah di
bidang olahraga, tetap saja kenakalannya menjadi noda hitam untuk
perjalanannya.
___Naru_Chan___
Angin
malam yang bertiup dingin tak mampu mengusik lamunan rafa. Merasa seidkit kecewa dengan perubahan yang
terjadi pada irfa beberapa hari ini.
“kak,
kakak ngapain disitu?. Nanti ada setan lewat lo...”. usil irfa yang berbuah
senyuman tipis dari sang kakak.
“irfa,
kakak pengen tanya”. Pinta rafa meminta irfa mendekat kearahnya.
“tanya
apa kak?”.
“ehm...
kamu... gimana bisa kenal adit?”.
“oh
itu... kak adit minta nomorku ke temanku, terus ya udah, gitu aja”.
“oh,
adit itu anaknya nakal fa, mendingan jauhin dia deh daripada ada apa-apa sama
kamu”.
“kakak
jangan batasin aku banget gitu dong. Aku ini udah dewasa, aku juga tahu kali
yang baik buat aku dan yang buruk buat aku”.
“oke,
kakak Cuma ngingetin kamu aja. Gak usah salah faham. Udah malem, tidur sana”.
Rafa
segera masuk ke dalam kamarnya. Begitu juga dengan irfa. Sedikit jengah dengan
perlakuan sang kakak yang terlalu protektif padanya.
@Thursday,
July 24 20xx
“Kamu
kenapa fa?. Gak semangat banget?”. Tanya sheila.
“gak
apa-apa shel, lagi bad mood aja”. Sheila sama sekali tak menggubris keberadaan
sheila disampingnya.
“oh,
ya udah... kamu gak pengen ke kantin?”. Sekali lagi sheila mencoba mencari
perhatian temannya itu yang mendapat hadiah death glare dari rafa. “oke, aku ke
kantin sendiri. Kamu menakutkan”.sheila segera kabur dan meninggalkan rafa yang
hanya terdiam memandangi kepergian temannya itu.
Rafa
kembali pada lamunannya yang sebentar tadi diusik.
___Naru_Chan___
Irfa
terlihat melintas ke kamar mandi. Tanpa sengaja dia bertemu dengan adit.
“ah,
kak adit... darimana...?” tanyanya sedikit penasaran. Tentu saja. jam istirahat
sudah berakhir 30 menit yang lalu. Irfa baru saja melewati kelas adit dan
disana ada sang guru sedang menerangkan pelajaran.
“irfa,
oh, aku dari kantin”. Jawabnya dengan gaya sok cool yang berhasil menjatuhkan
cewek manapun.
“kelasmu
ada gurunya lo kak...”. irfa mencoba mengingatkan.
“biarin
aja, aku males masuk. Gurunya gak asyik”.
“ih...
kakak kok gitu sih?”.
“kamu
sendiri mau kemana?”.
“ke
kamar mandi”.
“apa
kamu ada guru?”.
“belum
datang kak, sedikit terlambat mungkin, tapi ada kok”.
“ikut
kakak bolos aja yuk?, sekali-kali tak apakan?”
Sedikit
berfikir, tapi irfa akhirnya mengangguk setuju. Mereka berduapun segera keluar
dari sekolah tanpa hambatan, karena mereka melewati gang tikus yang memang
sering digunakan anak-anak nakal untuk membolos.
Entah
mengapa irfa merasa, membolos itu ternyata cukup menyenangkan. Dan mereka
kembali ke sekolah setelah jam pelajaran berakhir.
“yah
kak... udah ditutup kelasnya. tas ku masih di dalam. Gimana dong kak?”. Irfa
mulai bingung dan resah.
“ambil
besok aja. Besok kan masih sekolah”. Sebuah jawaban santai keluar dari bibir
adit. Terlihat benar dia telah terbiasa mengalaminya.
“ya udah
deh. Makasih buat hari ini ya kak, aku seneng deh. Kapan-kapan lagi ya...?
“beres....”.
balasnya, “ehm, irfa, malam minggu nanti kamu ada acara gak?”. Lanjutnya.
“aku
ada acara sama anak jurnalis kak. Memang kenapa?”
“gak,
aku pengen ngajak kamu keluar aja. Kalau malam sabtu gimana?.kamu bisa?”.
“oke,
aku bisa kak...”.
“ya
udah kalau gitu kamu pulang sana. Sampai jumpa malam sabtu ya...?”.
“oke
kak... bye...”. sebuah senyuman manis tercetak di wajah irfa. Jangan lupakan
semburat merah di pipinya itu.
“bye...”.
‘asyik...’
batin irfa sambil melengang untuk pulang ke rumah kosnya yang tak terlalu jauh
dari sekolahnya itu.
___Naru_Chan___
Sebuah
tas berwarna hitam nampak tergenggam erat ditangan rafa. Teringat kembali
perbincangannya dengan teman adiknya itu saat menyerahkan tas milik irfa.
“kak rafa, titip tasnya irfa ya kak?”.
Pintanya sesaat setelah rafa keluar dari kelasnya.
“oh, irfa kemana?. Dia ada kegiatan?”.
Tentu saja pertanyaan yang memang umum muncul di otaknya.
“aku juga gak tahu kak. Hari ini gak ada
kegiatan apapun. Karena kegiatan ku sama persis dengan irfa. Tapi tadi pak
satpam sudah mau mengunci pintu kelas, irfa gak balik-balik dari pelajaran ke
3”. Sahutnya dengan mimik setengah bingung.
“oh ya... makasih ya...?”. balas rafa.
Teman irfa itupun segera beranjak setelah
mengucapkan perpisahan.
Tak
seberapa lama, terlihat irfa berjalan santai menuju kamarnya yang memang harus
melewati kamar sang kakak.
“tasmu.
Kamu tadi kemana?”. Rafa mencoba untuk menahan kedongkolan di dalam hatinya.
“aku
tadi ada kegiatan kak. Jadi aku belum sempat ngambil tas. Eh, udah dikunci
kelasnya. Siapa yang ngasih tasku ke kakak?”. Tanya irfa dengan mimik yang
sedikit ketakutan.
“temanmu.
Dia bilang kau dan dia sama sekali tak memiliki kegiatan sekolah. Karena kalian
berdua memiliki jenis kegiatan yang sama persis. Jadi tadi kamu kemana?”. Suara
rafa semakin terdengar dingin dan mengintimidasi.
“kakak
gak usah deh terlalu ngatur aku. Aku sudah besar kak. Apapun yang kulakukan itu
urusanku. Aku bakal pertanggung jawabin semua sendiri kok”. Bentak irfa
tiba-tiba dan mampu membuat rafa tercekat.
“hehh...”.sebuah
senyuman miris terlihat nyata diwajah rafa. “aku Cuma ngasih tahu kamu sebagai
kakak...”. belum sampai rafa menyelesaikan ucapannya, irfa sudah memotongnya
dengan suara yang tidak bisa dibilang rendah.
“sebagai
kakak, kakak itu jangan terlalu ngekang aku. Berapa kali aku harus bilang ke
kakak?. Aku bisa sendiri”.
“baik,
lakukan semua yang kamu suka”. Rafa segera memberikan tas irfa. Dia segera
memalingkan wajahnya dan beranjak pergi.
“aku
benci kakak”. Ucap irfa lirih dan segera masuk ke kamarnya.
Rafa
yang mendengarnya tentu saja merasa hatinya sangat sakit. Tapi dia justru
memberikan senyumnya. “bagus, kau akhirnya membenciku. Ah... aku benar-benar
kakak yang buruk”. Rafa tahu, irfa tak mendengarkan ucapannya. Rafa segera
memasuki kamarnya, dan menumpahkan segala sesak didadanya. Beruntung sheila
teman satu kamarnya itu sedang keluar dengan kekasihnya.
___Naru_Chan___
Malam
yang dingin sekali lagi menghampiri kota itu. hujan gerimis turut menjadi suara
merdu pengantar tidur.
“fa,
kamu tidur jam segini?”. Tanya sheila yang baru saja datang.
“hm...”.
balas rafa dari balik selimut tebalnya.
“ya
udah deh... terusin aja kalau begitu. Kamu udah makan?”. Tanpa mengerti
keadaannya, sheila terus saja mengajak rafa berbicara.
“udah...”
jawab rafa singkat. Dari sana jelas terdengar suara paraunya.
Tak
ingin mengganggu rafa, sheilapun akhirnya memilih menyerah dan melakukan apapun
yang ingin dikerjakannya.
Sementara
itu Irfa juga berada dikamarnya sedang berkencan dengan hape tersayangnya.
Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya, seakan sudah lupa dengan kejadian sore
tadi yang sedikit banyak membuatnya sedih juga.
___Naru_Chan___
@Friday, July 25 20xx
Pagi
ini rafa berangkat lebih pagi dari biasanya. Bukan tanpa alasan. Hari ini dia
kembali menghadiri les disekolahan yang diselenggarakan pada jam ke nol
pelajaran itu atau artinya pukul 06:00 pagi.
Rafa
nampak tak benar-benar mampu menyerap pelajaran yang diberikan pagi ini. Semua
rasa bersalah seakan menumpuk diotaknya. Biar bagaimanapun juga irfa adalah satu-satunya
saudara yang dimilikinya. Bermusuhan dengan adik sendiri tentu bukanlah ide
yang menarik bukan.
Dikedipkan
matanya beberapa kali, mencoba memperhatikan kembali pelajaran yang sedang
berlangsung. Tak banyak berubah, tapi cukup untuk membuatnya mengerti dengan
beberapa rumus yang diterangkan.
Sedangkan
irfa yang saat itu sedang bersiap-siap untuk menuju sekolah, nampak
memperhatikan gelang merah miliknya. Diraihnya, tapi segera dikembalikannya
lagi kedalam kotak tempat menyimpan segala barang-barangnya.
Diapun
segera berangkat ke sekolah sebelum bel tanda masuk terdengar dan membuatnya
terlambat.
___Naru_Chan___
“fa,
pulang sekolah nanti, kita diminta kumpul di ruang klub sama ketua jurnalis.
Dia bilang kita perlu memfixkan segala persiapan kita untuk hari sabtu nanti”.
Kata rara teman sesama klub irfa.
“oke..”
jawab irfa sambil mengacungkan jari jempolnya.
‘ah
malam nanti, aku keluar sama kak adit. Pake baju apa ya...?’ pikirnya diantara
jam pelajaran yang tengah berlangsung itu.
___Naru_Chan___
“terima
kasih atas kehadiran kalian hari ini. Semoga kegiatan sabtu nanti lancar...”.
ucap ketua pelaksana kegiatan itu mengakhiri pertemuan hari itu.
“amin...”
jawab semua yang hadir dengan serentak.
Satu
persatu dari mereka segera meninggalkan ruangan klub yang tak seberapa besar
itu, meninggalkan sekolah mereka yang semakin malam akan semakin seram itu.
“fa,
kamu gak mampir kos ku dulu?”. Tanya seorang teman irfa yang memang sejak tadi
berada di sampingnya dan menjadi teman bicaranya.
“gak,
makasih. Kapan-kapan aja deh. Udah malam. Bye...” jawabnya berharap temannya
tak banyak bicara.
“oke,
bye...”. teman irfa itu segera menghilang dibalik gang yang menuju kos
tempatnya tinggal.
Irfa
berjalan sendiri dibawah gelapnya gelapnya kota yang didiaminya beberapa puluh
tahun sejak ia terlahir. “wah, udah jam 6. Belum mandi, belum nyetrika baju,
haduh... gimana kalau kak adit datang cepet?”. Bingungnya sambil mengacak-acak
rambutnya yang memang sudah sedikit berantakan itu.
Dipercepatnya
langkah kaki kecil yang menumpu tubuhnya itu. berharap bisa sampai di depan
kamarnya dalam hitungan detik. Hal yang mustahil, tapi tidak untuk sebuah
harapan.
___Naru_Chan___
Rafa
masih terus saja mendekam dikamarnya sejak urusan di sekolah usai. Tidak banyak
yang dilakukan, hanya membaca komik, membolak-balikkan setiap lembarnya, dan
terakhir menghembuskan nafasnya berat. Tak ada yang cukup spesial dengan
kegiatannya itu.
Ditolehkannya
kepalanya kearah jendela kamar. Tanpa disengaja, tatapannya melihat kearah
adiknya yang berjalan tergesa keluar dari kamarnya. Nampak rapi meski yang
terlihat hanya sebatas kepala sampai pinggang, tapi cukup untuk menilai
penampilan seseorang.
Rafa
bergegas berdiri dari duduknya, tapi kemudian dia terduduk kembali. Tubuhnya
lemas mengingat ucapan adiknya kemarin. ‘aku memang tak berhak untuk mencampuri
urusan pribadinya’. Batinnya dalam hati.
Rafa
kembali terpekur dengan comik ditangannya, tapi kemudian dia berlari keluar.
Setidaknya dia ingin tahu, siapa orang spesial yang membuat adiknya mau berdandan
seperti gadis pada umumnya.
“Adit...”.
ucapnya lirih sedikit tak percaya pada matanya. Rupanya adiknya benar-benar tak
mengindahkan ucapannya. Kali ini rafa benar-benar bingung, bagaimana caranya
menjauhkan adiknya dari makhluk bernama adit yang tak ada baik-baiknya itu,
selain tampang sok polos yang dimilikinya.
Akhirnya
rafa hanya mampu berdoa agar adiknya baik-baik saja. tapi akibatnya, otak dan
hatinya tak mampu berfikir dan merasa ketenangan disetiap detikan jam yang
telah berlalu.
___Naru_Chan___
Pukul
10 malam, sang adik baru saja tiba dikosan. Mata rafa yang memang tak mau
terpejam barang sedetik pun itu melihat sang adik yang melintas dengan
terburu-buru menuju kamarnya sendiri.
Dan
oh, apa itu tadi. Irfa menangis?. Benarkah yang dilihat rafa adalah air mata?.
Apakah ada yang salah?. Terlalu banyak tanya yang berkecamuk dibatinnya.
Kakinya ingin segera berlari dan menanyakan apa yang terjadi pada adiknya. Tapi
sekali lagi, sebuah kesadaran diri menghantamnya begitu keras hingga
mengaburkan semua niat yang tertanam didirinya.
Akhirnya
yang dilakukannya hanyalah berdoa, semoga tak ada hal buruk yang terjadi
padanya.
___Naru_Chan___
Irfa
membenamkan wajahnya pada bantal empuknya. Selimut tebal menyelimuti seluruh
tubuhnya hingga kepala. Suara isakan masih lirih terdengar. Beruntung teman
sekamarnya sedang berkunjung ke rumah saudaranya.
“ternyata
kak adit gak sebaik yang aku pikirkan. Kenapa kak adit seperti itu padaku?.
kenapa aku tak percaya pada kak rafa yang jelas-jelas lebih tahu dibanding aku yang
baru saja mengenyam bangku SMA ini, maafin aku kak...”. Sebuah tangisan sesal
jelas menjadi latar kegiatannya malam ini.
Tangisan
yang begitu lama membuat matanya membengkak. Lelah dengan tangisnya, dia
tertidur begitu saja.
___Naru_Chan___
@Saturday,
July 26 20xx
Rafa
kembali berangkat pagi sekali hari ini. Lagi-lagi kelasnya memiliki jadwal
untuk les pada jam pelajaran ke nol.memaksanya untuk bangun lebih pagi, mandi
lebih pagi, dan menyelesaikan segala urusannya lebih pagi.
Hal
yang paling ingin ia lakukan pagi ini adalah meminta maaf pada adiknya,
memperbaiki hubungan mereka dan menjalani hari-hari layaknya hari yang telah
lalu.
Tapi
apa yang bisa ia lakukan, saat kewajiban menuntutnya untuk melakukan hal lain
untuk masa depannya. Tentu untuk masa depan dia belajar dengan giat,
menghafalkan rumus fisika, kimia, fisika, maupun bahasa inggris yang sulit
untuk dia mengerti awalnya. Hanya untuk masa depan dia memperjuangkan itu semua
saat dia mampu.
Teringat
kembali dengan kejadian adiknya yang menangis semalam, tetapi kemudian
tergantikan dengan adiknya yang mengatakan membencinya. Pikiran itu datang
silih berganti membuat kepalanya sedikit pening.
Dilihatnya
pergelangan tangannya, berharap menemukan sesuatu disana yang membuatnya
sedikit merasa lebih baik. Dan apa yang terjadi adalah, gelang merah pemberian
dari adiknya yang selalu dianggapnya sebagai jimat itu kini tak lagi melingkar
disana.
Wajahnya
memucat seketika. Mencoba mencari disekitarnya barangkali ada benda berwarna
mencolok itu terjatuh disana. Tapi hasilnya nihil. Dan sepanjang pelajaran
hampir tak satupun yang berhasil memasuki memorinya.
___Naru_Chan___
“loh,
ini gelang kak rafa. Pasti ini terjatuh waktu dia mandi”. Ucap irfa lebih pada
dirinya sendiri saat menemukan gelang sang kakak nampak terjatuh lemas di dekat
pintu kamar mandi. “nanti aku kembalikan sekalian minta maaf. Semoga dia sudah
melupakan semua yang terjadi”. Lanjutnya, sambil berharap akan hati besar milik
sang kakak.
Irfa
segera masuk ke kamar mandi dan melakukan semua kegiatan membersihkan dirinya
itu.
Selesai
dengan itu semua, dia segera bersiap-siap menuju sekolah yang menjadi rutinitas
hariannya itu. di pandanginya lagi gelang yang dibuat olehnya bertahun-tahun
yang lalu.
“oh,
sudah jelek begini masih dipakai. Dasar kakak ini. Sudah putus. Apa aku buatkan
yang baru saja ya...?”. Sebuah senyuman lolos dari bibirnya.
Diletakkannya
gelang itu di dalam kotak yang sama dengan tempat dimana gelang miliknya
diletakkan. Irfa bergegas mematut diri dan setelah semuanya siap, dia segera
meraih tas hitamnya dan segera berangkat menuju sekolah.
___Naru_Chan___
Jam
pelajaran di hari itu terasa sangat lama bagi rafa yang memang sedang bingung
dimana gelang merahnya itu terjatuh. Setelah bel berbunyi, dan do’a usai, dia
segera bergegas pulang ke kosnya tanpa ba bi bu. Pikirannya begitu sibuk
mengira-ngira dimana letak gelang itu berada.
Saking
sibuknya, rafa sampai tak memperhatikan ada sebuah motor yang melaju cepat ke
arahnya. Andi sang ketua osis yang memang memperhatikan langkah rafa yang
sedari tadi memang terlihat linglung itu segera menyeret rafa ke pinggir jalan
yang aman.
“rafa...
kamu itu, kenapa gak lihat kanan kiri eoh...?”. bentaknya kesal. Bagaimana
tidak kesal melihat seorang teman yang begitu cerobohnya melewati batas aman itu.
“eh,
sorry... aku gak sadar sumpah...”. ucapnya langsung. Dia memang benar-benar
merasa bersalah dengan kejadian itu. “makasih ya ndi...”. tambahnya sopan.
“ya
udah, hati-hati ya kalau jalan?. Atau mau ku antar pulang”. Tawar andi. Mau tak
mau dia merasa turut bertanggung jawab akan keselamatan teman-temannya. Maklum,
ketua osis memang seharusnya seperti itu.
“gak usah, makasih udah nolongin. Aku pulang
dulu deh. Bye...”. pamitnya segera setelah teringat kembali dengan gelang
miliknya itu.
“oke...
bye...”. balas andi segera.
‘pasti
gara-gara gak pakek gelangnya ini, bawaannya jadi pengen celaka terus’.
Batinnya. Kali ini rafa lebih fokus pada jalan yang dilaluinya hingga selamat
sampai dirumah.
___Naru_Chan___
“kak
sheila, kak rafa udah pulang?”. Tanya irfa pada teman sekamar kakaknya itu.
“udah...
tadi gelangnya hilang. Terus dia buru-buru pulang buat nyari”. Jawab sheila.
“oh,
gelangnya di aku. Aku sms deh, kakak juga mau pulang ke rumah abis ini. Kasihan
kalau kesorean”.
“oke,
aku juga mau pulang. Kamu...?”.
“aku
masih ada kegiatan kak, kakak pulang dulu aja. Bilangin ke kak rafa, gelangnya
di aku”.
“ya
udah kalau gitu. Bye...”.
“bye
kak...”.
Setelah
perbincangan itu mereka berdua segera berjalan ke arah yang berlawanan. Irfa ke
ruang klub, sedang sheila menuju kosnya.
___Naru_Chan___
Rafa
masih terlihat sibuk dengan kegiatan –mari mancari gelang- miliknya. Tak
disadarinya sheila yang kini sudah berada di sampingnya.
“gelangmu
ada di irfa”. Suara kedatangan sheila yang tanpa suara itu sukses mengagetkan
rafa.
“oh
ya. Irfa udah pulang?”.
“dia
ada kegiatan club. Kamu mau pulang ya?”.
“yups.
Yaudah, aku pulang aja kalau gitu. Irfa gak pulang, dia mau ada acara klub
dengan teman-temannya. Kamu pulang?”.
“gak
fa, aku pulangpun gak kan ada orang dirumah. Mendingan aku kencan sama arga”.
“oke,
bilang ke irfa ya, tolong simpenin dulu gelangnya. Aku pulang”. Rafa segera
memasukkan beberapa benda yang dia butuhkan ke dalam tasnya.
“bye
sheil...”
“bye...
hati-hati fa...”.
Dan
sebuah anggukan yang lagi-lagi menjadi jawabannya.
___Naru_Chan___
Matahari
yang tadinya bersinar begitu cerah, tiba-tiba saja digantikan awan mendung
kelabu. Angin dingin mulai bertiup dan mencoba memainkan surai rafa yang
sedikit terlihat keluar dari kaca jendela sebuah bus itu.
Rafa
hanya terdiam dengan headset berwarna hitam merah yang bertengger manis
ditelinganya, menikmati bait-bait lagu yang layaknya puisi. Matanya tertutup
seakan menikmati suasana yang diciptakan oleh alam.
Dipandanginya
smartphone ditangannya. Sebuah foto dilayar hp itu menciptakan sebuah senyuman
di bibirnya. Jari-jarinya beberapa kali mengetuk layar touchscreen dihadapannya
itu.
‘maafin kakak ya... kakak gak punya niat
buat ikut campur urusan kamu. Kakak tahu kamu udah besar dan tahu mana yang
terbaik buat kamu. Tugas kakak selama ini hanyalah mengawasi dan melindungi
kamu seperti kata ibu. Kakak tahu kakak terlalu protektif ke kamu. Maafin kakak
ya?. I trust u. Always... oh iya, kamu semalam kenapa menangis?. Jangan nangis
lagi ya nantinya. Kakak pulang dulu, nanti kakak bawakan jatah kamu minggu ini.
Good luck dengan kegiatannya.’. ketiknya.
Sekali
lagi dipandanginya pesan yang dia tulis itu. bingung antara mengirimkannya atau
menundanya sampai mereka dapat bertatap muka. Tapi akhirnya pesan itu terkirim
tanpa disengajanya. Seakan langit membantunya menghilangkan kebingungan yang
melandanya.
Klunthiing...
pemberitahuan pesan terkirim pada alamatnya. Seketika membuat tubuhnya lemas.
Apalagi tak segera mendapatkan balasan dari sms yang dikirimkannya itu.
Hujan
tiba-tiba turun dengan derasnya. Pinta jendala yang menawarkan angin segarpun terpaksa
ditutup. Mau bagaimana lagi, hujan lebat datang menyerang.
Bis
yang ditumpangi rafa terus melaju membelah jalan dengan mulus. Tak terjadi
apapun, hingga sebuah mobil box dari arah yang berlawanan melaju sangat kencang
tanpa memiliki kendali.
Sang
sopir bus yang panik segera membanting stir ke arah kiri dimana lereng terjal
yang tak begitu curam menanti. Beberapa penumpang mulai panik, tidak terkecuali
rafa. Apa lagi yang menunggunya kali ini?.
Bis
oleng dan terguling beberapa kali. Mengakibatkan tumbukan yang dahsyat dengan
batu-batu disekitarnya. Suara rintihan lirih mulai terdengar sesaat setelah bus
berhenti berguling. Sebuah tangisan bayi memekak telinga. Wajar saja, pada
suasana yang segenting itu, semua orang menjadi bingung dengan segala yang
terjadi.
Hujan
memudarkan bayangan bis itu. Panas yang dihasilkan oleh gesekannya membuatnya
berasap.
Rafa
dengan kesadarannya yang menipis mulai beranjak bangun. Namun saat tangannya
digerakkan, sebuah rasa sakit yang luar biasa menyusup ke dalam setiap tulang
belulangnya. Meremehkan setiap usaha yang dia lakukan. Akhirnya yang mampu
dilakukannya hanya terdiam sambil berdoa bantuan segera datang sebelum
terlambat baginya.
Tak
disadarinya darah segar mengalir melewati rambut hitamnya yang tebal. Pakaian
seragamnya nampak robek di beberapa bagian. Satu tangannya memegang smartphone
yang tiba-tiba saja berdering itu. hanya kemampuannya tak sampai untuk sekedar
mengintip apa yang terjadi dengan smartphone nya itu.
Beberapa
menit kemudian semua terdengar berdengung di telinganya. Suara tangisan,
teriakan, dan sebagainya lambat laun menghilang. Dadanya terasa sesak. Pandangan
matanyapun mulai mengabur dan semuanya gelap seketika, tak terasa apapun juga.
___Naru_Chan___
Seorang
laki-laki muda yang irfa ketahui sebagai kakak keponakannya itu tiba-tiba
berkunjung ke kos irfa siang yang hampir sore mengingat waktu menunjukkan pukul
2. Hal yang sedikit ganjil bagi irfa mengingat hubungan mereka tak bisa
dikatakan dekat. Hanya saling mengenal satu sama lain.
“fa,
ikut kak jerry yuk, kak rafa kecelakaan, sekarang dia dirumah sakit”. Ucap
seseorang yang bernama jerry itu.
Detakan
jantung irfa tiba-tiba berdetak kencang. Baru saja sesaat yang lalu dia
membalas pesan kakaknya, dan sekarang sang kakak kecelakaan. Apa-apaan ini.
Irfa
hanya menganggukkan kepalanya dan bergegas berganti pakaian menjadi pakaian
santai tapi pantas untuk digunakan keluar rumah.
Irfa
segera dibonceng oleh jerry menuju rumah sakit dimana rafa berada. Jerry
membawa motornya dengan cepat tapi jelas hati-hati.
“kak
rafa kecelakaan gimana kak?, kok bisa?”. Tak mampu menahan tanya dibenaknya,
irfapun segera mengungkapkannya saja.
Sebuah
suara kecil menjadi jawaban dari tanya irfa yang bahkan tak mampu didengar
telinganya itu. irfa mengangguk-anggukkan kepalanya pura-pura mengerti apa yang
diucapkan kakaknya itu.
#skip
time
Mereka
berdua akhirnya sampai di rumah sakit. Jerry nampak sibuk menghubungi keluarga
dengan handphonenya yang canggih. Irfa hanya mengikuti saja setiap langkah yang
dituju oleh jerry. Hingga rasa bingung membuncah di batin irfa.
“kamar
jenazah?”. Tanyanya entah pada siapa.
Jerry
terus saja masuk kedalam. Terdengar tangisan pilu dari dalam ruangan itu. kamar
yang begitu dingin dan irfa harap tak pernah memasukinya seumur hidup. Kini
dengan terpaksa dia melenggang juga ke dalamnya.
Sang
ayah yang sesaat lalu masih menangis sambil memandangi wajah putrinya yang
terlelap itu mulai melangkah menghampiri irfa. “irfa... kakak sudah gak
ada...”. ucapnya pelan. Sangat pelan hingga nyaris menghilang.
Dengan
langkah tertatih, irfa mendekati sosok tubuh yang terbujur kaku itu. tak
percaya otaknya melihat kenyataan ini. Tak percaya atau otaknya memang memilih
untuk tak mempercayainya.
Sang
kakak nampak lelap dalam tidur panjangnya yang tak akan pernah usai. Kakaknya
kini telah pergi, hanya duka dan penyesalan yang mendalam yang dirasakannya.
“kakak...
Kenapa kau hanya diam saja?. Aku mohon bicaralah denganku. Berhenti
mengacuhkanku, aku tahu aku salah, aku minta maaf padamu kak...” Tangis irfa
meledak di sebuah ruangan yang dingin penuh dengan raga tanpa nyawa itu.
“irfa,
jangan seperti ini, rafa akan tersiksa dialamnya. Ikhlaskan ya...?”. Laki-laki
setengah baya yang masih nampak gagah itu mencoba untuk menghibur buah hatinya
yang masih belum mampu menerima kenyataan itu.
Sebuah
smartphone yang tergeletak dimeja tepat disamping jenazah sang kakak itu segera
diraihnya. Sebuah pesan darinya bahkan belum berhasil dilihatnya. Irfa kembali
menangis dengan kencang.
‘jadi
kalimat terakhir yang dia dengar dariku adalah aku benci kakak...?’. sebuah
ingatan lalu yang terlintas begitu saja diotaknya membuatnya semakin dibawah
tekanan rasa bersalah yang luar biasa. Menggelayut manja bagai kepompong yang
tak pernah berubah menjadi kupu..
@Sunday, July 27 20xx
Pagi
yang cerah dikampung halaman irfa. Burung-burung bernyanyi riang. Irfa kini
duduk dibangku belajar milik kakaknya itu. Sebuah pandangan kosong lagi-lagi
muncul di matanya. Saudara bahkan ayahpun tak mampu membujuknya untuk menyudahi
kesedihan panjangnya itu.
Sebuah
gelang berwarna merah cerah nampak melilit manis dipergelangan tangannya.
“kak...
kembalilah aku mohon... aku mungkin akan gila kalau seperti ini terus”. Ucapnya
seakan kakaknya berada disampingnya.
Dipandanginya
gelang merah yang dibuatkan sang kakak bertahun-tahun lalu. Sebuah senyuman
terpeta diwajahnya, tapi tidak dengan matanya. Air mata itu mengalir begitu
deras tanpa mampu dicegah. Dipandanginya foto-foto memori dengan kakaknya yang
terpajang di mejanya.
Tanpa
disadarinya, sang ayah nampak memperhatikannya. Tatapann sendu muncul di
wajahnya. Di dekatinya putrinya itu, dan dibelai lembut punggungnya. Setetes
air mata mengalir dari matanya yang mulai terlihat cekung itu.
“sekarang
tinggal kita. kita harus terus bertahan hidup. Semua orang memiliki batas
takdir masing-masing, tak satupun yang mampu meminta maupun menolak. Kita harus
tabah anakku”. Ucapnya menguatkan sang putri tercinta, atau mungkin juga
menguatkan dirinya sendiri.
Irfa
yang memang belum sepenuhnya mampu merelakan kepergian sang kakakpun seperti
mendapatkan sentakan. Isakan itu kini berubah menjadi tangisan pilu yang
menyakitkan.
Sang
ayah terus mengelus bahu sang anak yang kini berada dipelukannya itu, hingga
tangisan irfa berubah menjadi isakan kecil, dan tak terdengar sama sekali.
Sang
ayah segera beranjak keluar dari kamar sesaat setelah kembali menguatkan diri
irfa. Sedang irfa segera mencari
kesibukan yang mampu membuatnya dapat menikmati hari meski tanpa kakaknya lagi
kini.
___Naru_Chan___
Malam
yang dingin, rembulan nampak bersinar cukup terang, setidaknya mampu terlihat
sampai indra penglihatan irfa.
“kak...
kau sudah memaafkanku bukan?. Kau hanya diam, ku anggap jawabannya iya”.
Tanyanya. “Terima kasih kak sudah memaafkan ku. Kau memang orang yang
baik. Ku mohon terus jagalah diriku
sekarang dan selamanya. Meski kau tak terlihat nyata di sampingku, aku tahu kau
melihatku dari arah manapun. Iya kan...? selamat malam kak...”. pamitnya.
Mengakhiri perbincangannya dengan sang kakak. Sebuah senyum terukir di
bibirnya. Didekapnya gelang merah dipergelangan tangannya itu dengan sayang.
Sebuah
angin lembut dari jendela kamar yang terbuka sedikit itu membelai helaian
rambut irfa. Seakan ingin mengucapkan pesan, ‘ aku memaafkanmu adikku, dan akan
terus menjagamu. Selamat malam’ dari rafa.
Penyesalan
memang selalu hadir di akhir cerita...
Agar
kita mampu mengerti setiap hikmah yang ditorehkan dari setiap kejadian yang
diajarkannya....
___END___
N.
Takishida, April, 29 201