Kamis, 26 November 2015

MAAFKAN AKU IBU



Maafkan Aku Ibu
-:- Limited Story By Narumi Takishida -:-
Pacitan, 25 juni 2015 17:00 WIB
“Rud... Ibu sudah bilang. Jangan mabuk-mabukan terus. Ibu ini bukan orang kaya yang bisa membelikanmu minuman keras setiap hari. Bapakmu juga sudah meninggal, kamu pikir ibu dapat uang dari mana?. Kenapa kamu tidak bisa mencontoh masmu ilham?.” Suara seorang wanita terdengar lantang dari dalam rumah.
“Ibu ini kenapa sih?. Apa-apa mas ilham, dikit-dikit mas ilham. Aku ya aku bu. Jangan samain aku dengan mas ilham. Ibu ini mesti lo...” Suara lain yang tak kalah kencang itu seakan turut meramaikan suasana ruangan yang semula sepi senyap. Pemilik suara itu adalah rudi, laki-laki berumur 20 tahun yang tengah mengenyam bangku kuliah jurusan Kriminologi di FISIP UI.
“Bukan begitu rud. Ibu ini cuma pengen kamu jadi anak yang mbeneh. Apa ibu salah?.” Tanya si ibu sembari bercucuran air mata.
“Jadi maksud ibu mas ilham anak ibu yang paling mbeneh? Ya udah...  Anggap aja aku bukan anak ibu...” Bentak remaja tanggung itu lagi sembari menggebrak meja ruang tamu. Tanpa sengaja sebuah gelas yang berada dimeja terjatuh ke lantai ubin dan pecah seketika. Bahkan kepingan kaca bening itu sempat mengenai kaki sang ibu dan membuatnya mendesah tertahan.
Si ibu semakin dirundung kesedihan. Sementara rudi yang melihat kejadian itu terhenyak seketika. Sadar bahwa tindakannya begitu melukai wanita mulia dihadapannya itu. Namun salahkan setan yang sudah merasuki otak dan hatinya hingga dia memilih keukeuh pada pendiriannya untuk membenci sang ibu.
“Rudi...!!” Sebuah bentakan lain terdengar Nyaring dari pintu depan rumah tersebut. “Lagi-lagi kau menyakiti ibu...” Keluh laki-laki berusia 27an itu yang tangan kanannya memegang tas berwarna caramel. Sementara tangan kirinya memegang jas berwarna putih bersih.
Rudi memicingkan mata demi melihat kedatangan saudara laki-lakinya itu. Sementara ilham –laki-laki yang baru saja datang itu, segera meraih tubuh lemas si ibu yang nampak memegangi kakinya yang sedikit tergores pecahan gelas.
“Cih... Kata-katamu tambah memualkan mas...” Ucap rudi seraya meraih jaket levisnya yang ditaruh di sandaran kursi. Dengan langkah panjang , rudi segera keluar dari rumah tempatnya bernaung selama ini. Pergi tanpa tujuan yang pasti.
Piye to adikmu itu ham?” Keluh sang ibu masih berurai air mata saat melihat putranya melangkah pergi dan semakin menjauh dari pandangannya.
“Nanti aku bicara dengannya bu. Ayo berdiri bu.” Ajak ilham sembari membantu sang ibu berdiri diatas kedua kakinya yang lemas itu.
“Padahal dia yang anak kandung ibu. Tapi malah kamu yang begitu baik dan perhatian pada ibu.”Ucap sang ibu sembari membelai rambut hitam halus milik ilham.
“Seratus dua puluh satu” batin Ilham sembari tersenyum mendengar kalimat sang ibu. Dan dengan telaten, ilham mulai membersihkan luka sang ibu.
Pacitan, 26 Juni 2015 07:00 WIB
“Kamu dimana rud?. Nginep dimana?. Ibu sampai sakit mikirin kamu.” Ilham nampak tengah berbicara dengan rudi melalui sambungan jarak jauh.
“Pulang...” Pinta ilham mulai melembut. “Kamu gak kasihan sama ibu?”
Dan tuttt.. Tutt... Panggilan jarak jauh itu dimatikan secara sepihak.
“Ck...” Decak ilham sedikit kesal melihat kelakuan adiknya itu.
Pacitan 26 Juni 2015  17:00 WIB
“Aku pulang dulu el. Nanti bank ku bisa macet kalau aku gak pulang...” Kekeh rudi saat berpamitan pada sahabatnya, dimana dia numpang tidur semalam.
“Ya baguslah kalau sadar, sudah sana pergi.” Usir eli sahabat rudi sejak kecil sambil mengulas tawa.
“Kau mengusirku?.” Tanya rudi pura-pura kesal.
“Iya... Kenapa?. Mau protes?”
“Gak sih... Ya sudah... Minggu aku balik ke jakarta. Kamu kapan balik ke malang?”
“2 minggu lagi. Aku betah dirumah. Gak kayak kamu...” Ketus eli sambil tertawa.
Rudi hanya mengendikkan bahunya dan segera melangkah pergi.
Pacitan, 26 Juni 2015 17:30 WIB
“Akhirnya kamu pulang” Sapa ilham senang pada rudi yang baru saja memasuki ruangan besar itu.
“Ibu mana?.” Tanya rudi tanpa basa-basi.
“Di kamar. Mau antarkan ini kekamar ibu?” Tanya ilham sembari Mengangsurkan nampan berisi secangkir air dan makan malam –sepertinya. “Sekalian minta maaf. Bisa jadi ini hari terakhirmu ketemu ibu.” Lanjut ilham.
Rudi memicingkan matanya berharap menemukan arti lain dari ucapan ilham. “Kemarin jantung ibu hampir kumat. Untung aku sudah dirumah. Kau ini kayak anak kecil.” Ilham geleng-geleng kepala.
Dengan gerakan agak sedikit kasar, rudi segera mengambil alih nampan ditangan kakaknya itu. Selanjutnya dia mulai menuju kamar sang ibu. Ada rasa berdesir dan was-was dihatinya jika mengingat apa yang dilakukan semalam. Tapi otaknya malah berkata lain. ‘Tidak sepenuhnya kesalahanku bu, kau juga bersalah padaku.’ Batinnya sembari menyeringai kesal.
Ilham memperhatikan langkah adiknya. Sebuah senyuman terlihat diwajahnya yang tampan. “Syukurlah...” Ucapnya pelan.
*Dikamar ibu.
“Kau sudah pulang rud?” Sapa sang ibu senang. Rudi hanya mengangguk pelan.
“Kamu jangan ninggalin rumah seperti ini lagi... Ibu jadi sedih...” Ucap sang ibu dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.
“Kalau ibu gak bandingin aku sama mas ilham terus, aku juga gak akan kayak gini bu.” Balas rudi sembari menaikkan nada suaranya beberapa oktaf.
“Maksud ibu kan baik, Ibu cuman pengen kamu kayak masmu itu loh. Nurut sama orang tua.” Desah sang ibu sambil mengunyah makanan yang disuapkan rudi.
“Iya tapi aku gak suka ibu terus banding-bandingin aku dengan mas ilham...” Lagi. Emosi rudi kembali meluap. Dia bahkan mulai tak teratur menyuapi ibunya dan berakhir meninggalkan sang ibu begitu saja. Ah... Emosinya benar-benar buruk.
“Rud.. Rudi...” Panggil suara sang ibu pelan. Jelas sang ibu tengah menahan tangisnya agar tidak berubah menjadi raungan. Tapi memangnya mudah meredakan amarah rudi?. Jawabannya, sulit. Sangat sulit. Pria itu terlahir dengan membawa sifat keras kepala sang ayah.
“Rud...” llham yang baru saja hendak menuju kamar sang ibu terhenyak kaget saat dilihatnya rudi keluar kamar sang ibu dengan wajahnya yang memerah penuh amarah. Dengan langkah yang dibuat semakin lebar, rudi menabrak tubuh kakaknya yang 5 cm lebih rendah darinya itu. Dia segera memasuki kamarnya yang berada dibagian paling ujung rumah tersebut.
Sementara ilham bergegas memasuki ruangan kamar sang ibu. “Bu...” Pekiknya. Saat melihat wanita paruh baya itu nampak memegangi dadanya kencang. Nafasnya juga putus-putus seakan ada sumbatan yang menyangkut di pangkal tenggorokannya. Sementara tangannya yang satu lagi sibuk menjambak rambutnya yang sudah sedikit memutih.
Ilham segera meraih kedua tangan ibunya dan menjauhkan tangan itu untuk menyakiti bagian tubuh lainnya. “Bu minum...” Pinta ilham seraya mengangsurkan cangkir air minum yang sudah berkurang setengahnya itu.
Si ibu mencoba meminumnya, tapi sama sekali tidak bisa menelannya. Justru kembali dikeluarkan bahkan dengan sebagian makanan yang mungkin baru saja sempat ditelannya.
“Bu... Bu...” Ilham segera mencari aliran nadi di pergelangan tangan ibunya. “Tidak teratur” Ucapnya lirih. Ilham segera menggenggam tangan ibunya dengan lebih erat lagi. “Maafkan aku bu...” Ucapnya dengan berlinangan air mata.
Sang ibu semakin tidak konsentrasi pada apapun disekitarnya. Tubuhnya mengejang, Keringat dingin bercucuran tidak karuan.
“Ibu... Ibu...” Pekiknya terus menerus, yang akhirnya sampai ditelinga rudi yang mencoba memejamkan matanya itu.
Rudi segera bergegas bangun dari tidurnya dan berlari menuju kamar sang ibu. Dilihatnya wanita itu terus berjuang meraih oksigen yang entah berlari kemana. “Ibu...” Pekik rudi dan segera menuju sisi ranjang ibunya.
“Mas, lakukan sesuatu. Kamu kan dokter mas...” Pinta rudi kehilangan kesabarannya.
“Tanpa alat-alat medis, aku tidak bisa melakukan apapun rud... Ini pasti karena jantung ibu kembali lemah...” Desah ilham hampir kehilangan suara.
“Ayo bawa ke rumah sakit mas... Aku akan carikan taksi...” Rudi segera bergegas menuju pintu.
“Sudah terlambat rud..” Ucap ilham pelan. Mata sang ibu yang semakin meredup kini telah mengatup sempurna.
Rudi kembali bercucuran air mata saat dilihatnya kulit wajah sang ibu yang memerah. “Maafkan aku bu..” Ucap rudi penuh sesal. Tubuhnya melemas seketika. Diraihnya jemari sang ibu yang dulu kerap membelai rambutnya, diciuminya dan dirabanya lembut.
Dan tepat saat itu, rudi memelototkan matanya tak percaya. Pandangannya segera beralih pada sang kakak yang juga masih nampak terpekur ditempat duduknya itu. Kepalanya menggeleng beberapa kali. “Tidak mungkin...” Ucap rudi semakin tidak percaya.
-:- TBC -:-
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sa, aya-san...Silahkan dianalisa cerita abal ini... Hahahaha... :D
Oh iya... Kalau ada yang perlu ditambahkan, aku tambahkan deh..
FC nya nyusul, Belum buat soalnya...  :D

Rabu, 29 April 2015

RED BRACELET

Penyesalan selalu hadir diakhir  cerita,
Karena penyesalan membutuhkan proses untuk memahami maknanya.

@Saturday, July 26 20xx
“kakak... Kenapa kau hanya diam saja?. Aku mohon bicaralah denganku. Berhenti mengacuhkanku, aku tahu aku salah, aku minta maaf padamu kak...” Tangis irfa meledak di sebuah ruangan yang dingin penuh dengan raga tanpa nyawa itu.
“irfa, jangan seperti ini, rafa akan tersiksa dialamnya. Ikhlaskan ya...?”. Laki-laki setengah baya yang masih nampak gagah itu mencoba untuk menghibur buah hatinya yang masih belum mampu menerima kenyataan itu.
“tapi aku gak mau kehilangan kakak papa. Sudah cukup mama yang pergi... Aku tak suka kehilangan lagi... Aku mohon bangunkan kakak papa... Dia pasti akan menurut jika itu papa”. Mohonnya begitu memilukan.
Sang ayah hanya mampu mendekap sang putri yang kini menjadi satu-satunya peninggalan berharga dari istri tercintanya. Air mata tak mampu dibendung oleh laki-laki yang mereka panggil papa itu. Karena sekuat-kuatnya dia menahannya, tapi dia merasa takkan mampu untuk membendung kesedihan dari kehilangan itu.
___Naru_Chan___
Langit tampak gelap, mendung menggantung begitu pekat. Seakan turut menahan duka yang mendalam atas kembalinya satu jiwa pada sang pencipta.
Rombongan peziarah berbaju hitam itu nampak beriring-iringan mengikuti sebuah keranda berwarna hijau yang mengangkut jenazah gadis 17 tahun itu.
Sedu sedan sesekali terdengar dari keluarga yang ditinggalkan. Tak berarti belum rela atas kepergiannya yang begitu mendadak, hanya mengenang setiap kenangan yang telah berlalu secepat angin topan itu.
Sang ayah dan gadis perempuan yang terus didekapnya itupun turut mengantar jasad sang kakak menuju tempat peristirahatan terakhirnya, rumah masa depan yang menunggu setiap jiwa yang bernyawa untuk mendatanginya.
Doa-doa suci terus terdengar dari bibir-bibir kerabat tanpa henti. Menyakinkan alam bahwa pemilik jasad adalah seorang yang baik dan memiliki banyak kebaikan disisinya.
___Naru_Chan___
          *7 years ago...
“untukmu kak...”. Kata seorang gadis kecil dengan riangnya. Tangannya masih terus bergerak untuk mengaitkan benang-benang berwarna merah ditangan sang kakak yang lebih tua dua tahun darinya.
Sang kakak yang rupanya sedang sibuk mengaitkan benang-benang merah lainnya hanya tersenyum dan kemudian memperhatikan kegiatan sang adik yang nampak asyik dengan kegiatannya itu.
“yak... Selesai...” Sang gadis cilik masih dengan suara riangnya nampak bangga dengan hasil kerjanya. Sebuah gelang, ah... Mungin bisa dikatakan kaitan benang yang nampak tak rapi kini menghiasi pergelangan tangan kanan sang kakak. “jangan sampai hilang”. Peringatnya yang mendapat anggukan sebagai balasannya.
“terima kasih...” Balas sang kakak tulus. Dipandanginya kembali gelang yang berada dipergelangan tangannya. Kulitnya yang tidak terlalu cerah membuat gelang berwarna merah itu terlihat mencolok di pergelangan tangannya. Tapi hadiah dari adiknya akan selalu menjadi jimat berharga baginya.
Dengan terampil, segera sang kakak membuat sesuatu yang hampir sama dengan yang dibuat adiknya. Rangkaian benang merah yang berliku hingga membentuk sebuah gelang yang tiada duanya didunia.
Sambil bangga dipandanginya kembali gelang yang telah dibuatnya. Gelang dari benang merah yang sama dengan yang digunakannya. Dibuat dengan kasih sayang dan ketulusan luar biasa, dipenuhi dengan pengharapan dan doa.
Tanpa menanyakan apapun, sesaat setelah gelang itu selesai, sang kakak segera mengaitkan gelang hasil karyanya pada sang adik. Sang adik terlihat mengawasi apa yangdikerjakan sang kakak. Senyum kemudian mengembang setelah mengenakan benda berwarna merah mencolok itu. Sang adik terlalu sungkan untuk mengatakan terimakasih dan akhirnya kembali memandangi gelang barunya itu.
“jangan dihilangkan...”. Sebuah peringatan lagi-lagi terdengar di ruangan itu, dari mulut yang berbeda dan dari orang yang berbeda.
Anggukan kecil kembali menjadi tanda persetujuan dari sang adik.
___naru_chan___
“kak, kau mandi tanpa melepas gelangnya?”. Tanya sang adik dengan wajah yang penuh tanya.
“tentu saja, kalau aku melepaskannya, aku khawatir gelangnya akan hilang”. Jawab sang kakak dengan nada mantap.
Sang adik merasa senang melihat sang kakak yang terus menjaga gelang pemberian darinya. Sang kakakpun tersenyum demi melihat senyuman yang terpancar dari wajah sang adik.
___naru_chan___
“kak, tolong pasangkan gelangnya”. Pinta sang adik pada sore itu.
Sang kakak dengan wajah sedikit kecewa berkata, “kenapa bisa lepas?. Padahal kemarin aku mengatkannya dengan kuat”.
“aku sengaja melepaskannya. Aku tidak mau air membuat warnanya pudar. Aku juga khawatir kalau-kalau kaitannya tak sengaja terlepas dan hilang bersama aliran air”. Jawabnya yakin.
Sang kakak mulai menerima alasan sang adik memilih untuk melepaskan gelangnya berkali-kali setiap kali dia melakukan suatu kegiatan.
___naru_chan___
*7 years later
@Monday, july 21 20xx
Sang kakak kini tengah duduk dibangku kelas 3 sebuah sekolah menengah ternama. “kau mau melanjutkan kemana fa...?” Sebuah suara cempreng menginterupsi kegiatan melamun sang kakak.
“entahlah win... Aku belum memutuskannya”. Balasnya sambil tersenyum. “lagipula kita baru saja menginjak kelas 3”. Lanjutnya.
“bagaimana kalau kita nanti mengambil universitas yang sama?. Sepertnya menyenangkan...?”. Ungkap sang sahabat penuh harap.
“hm...” Hanya dengungan layaknya lebah itu yang keluar dari bibirnya yang sedikit tebal.
Sang sahabat hanya mampu menggendikkan bahunya demi mendengar kalimat tak jelas itu. Well, itu memang kalimat paling menyebalkan.
Sekali lagi, pandangan sang kakak menerawang entah kemana. Tak terlihat raut bahagia diwajahnya yang sedikit tirus.
Tangannya mulai menutupi matanya yang sedikit panas. Bukan karena ingin menangis, hanya terlalu lama membuka kelopaknya menyebabkan sedikit rasa perih di bola matanya.
Sebuah benang berwarna merah nampak mengikat pergelangan tangannya yang kurus. Benang merah yang masih sama dengan benang yang dilingkarkan sang adik dipergelangannya beberapa tahun silam.
Dipandanginya benang yang melingkar itu untuk kesekian kalinya sejak benda itu melingkari pergelangannya. Kembali senyum itu terajut diwajahnya. Perasaan hangat mulai mengalir direlung batinnya dan membuyarkan mega mendung yang menyelimuti wajahnya.
Beberapa kali dihembuskan nafasnya berat, mencoba menghalau segala beban yang berkecamuk di otaknya. ‘just be your self rafa’, batinnya mencoba menyemangati dirinya sendiri. Dansepertinya sedikit berhasil.
“rafa aditya...”. Sebuah panggilan yang tidak bisa dikatakan pelan itu memasuki gendang telinganya dan memaksa seluruh kesadarannya mengumpul pada satu raga.
Tangannya teracung keatas, “hadir”, ucapnya berusaha cukup kencang untuk dapat didengar sampai meja guru, sang pelaku pemanggilan.
Laki-laki setengah baya yang memanggilnya tadi kemudian berturut-turut memanggil satu demi satu nama yang tertera di jurnal absen miliknya, seperti seseorang yang malas mengingat nama-nama muridnya sendiri.
Pelajaranpun segera dimulai. Laki-laki setengah baya itu mulai memberi pelajaran pada muridnya mengenai pengertian integral, bahwa integral merupakan sebuah konsep penjumlahan secara berkesinambungan dalam matematika dan bersama dengan inversnya, diferensiasi, merupakan salah satu operasi utama dalam kalkulus. Sebuah penjelasan matematika yang dapat diunduh di wikipedia yang sama sekali tak diolahnya kembali, dan mungkin akan membuat siapapun tertidur apalagi dijam istirahat siang ini.
Sang kakak yang ternyata rafa aditya ini justru sibuk dengan dunia comicnya yang tak pernah mampu dihentikan oleh siapapun. Bahkan ada beberapa siswa yang membuat gantungan kunci aneka bentuk dari kain flanel. Intinya hanya siswa yang duduk di bangku urutan pertama yang memperhatikan pelajaran laki-laki setengah baya yang biasa dipanggil bapak guru itu.
*waktu yang sama ditempat yang berbeda...
Sang adik kini telah duduk dibangku kelas 1 sekolah menengah yang sama dengan sang kakak.
Diam, hanya itu yang dilakukannya dari waktu ke waktu. Apalagi yang dapat dilakukan oleh murd baru yang sama sekali belum memiliki teman apalagi sahabat, meski masa orientasi siswa baru telah dilewatinya dengan mulus. Bangku pada baris ke 2 dari arah depan maupun samping kanannya menjadi pilihannya untuk menjalani hari-hari selanjutnya di sekolah itu.
Sang adik rupanya tengah melamun juga. Tak ada yang dipikirkannya selain betapa bosannya dia dikelas itu dan berharap kelasnya segera berakhir.
“irfa, istirahat nanti mau ke kantin bersama”. Sebuah suara mengakhiri petualangan dunia khayalnya. Dipandanginya teman disampingnya yang baru beberapa jam lalu dikenalnya.
“oke...”. Singkat, hanya jawaban itu yang diberikannya. Bukannya ingin terlihat sombong, hanya saja irfa memang bukan type gadis yang suka bertele-tele dalam memberi jawaban atau semacamnya.
“sebenarnya sekarang, kita bisa saja ke kantin, tapi tentu kamupun tidak mau dicap sebagai siswa tercela di tahun ajaran baru bukan?”. Sekali lagi teman disampingnya ini mencoba berakrab ria dengan irfa sang adik.
Sebuah anggukan diberikan sebagai jawaban, “mari kita tunggu bel istirahat saja”, dan sekali lagi, balasan yang tidak bisa dikatakan panjang itu keluar dari bibirnya.
Sungguh, irfa bukanlah gadis sombong, hanya tidak begitu suka beramah tamah pada orang baru.
Jam istirahat kedua berdering, dan sesuai dengan kesepakatan dua teman baru ini segera menuju kantin yang tepat berada disebelah kelas mereka.
___naru_chan___
Petang mulai datang,  jingga dilangit bagian barat itu menandakan bahwa sang malam mulai menjelang. Tak ada suara binatang malam semerdu jangkrik dikota ini, karena tanah-tanah telah dipadati dengan aspal keras yang tak mungkin mereka gali.
Irfa terlihat mendatangi kamar sang kakak yang berbeda beberapa pintu dengan kamar miliknya.
“kak, sabtu nanti kakak pulang?”. Tanyanya ingin tahu sesaat setelah mendudukkan pantatnya di kasur empuk milik sang kakak.
“hm... Jatah mingguan habis. Kau tak pulang eoh..?”. Wajah rafa yang penuh tanda tanya segera saja terlihat saat sang adik menanyakan hal yang sebenarnya sudah menjadi kebiasaannya atau bahkan kewajibannya.
“aku ada acara dengan tim jurnalis kak, mintakan uang mingguanku juga ya...?” Pintanya dengan wajah sok imut yang membuat rafa tak mampu memberi kata penolakan.
“hm...”. Tapi jawaban singkat tanpa makna itu yang lagi-lagi keluar dari bibirnya. Sedikit membosankan memang, tapi sebenarnya dia tak begitu suka pulang ke rumah tanpa sang adik bersamanya.
“kak, aku tidur disini ya malam ini?. Kak shela kan pulang. Tapi kenapa kak shela pulang lagi sih kak?. Baru juga tadi pagi dia sampai disini?”. Jiwa jurnalis irfa rupanya mulai mendarah daging sejak hari pertamanya bergabung dengan club sekolah itu.
“kakak laki-lakinya menikah, lusa berangkat ke sumatera”. Jawaban rafa masih saja singkat. Mungkin juga memang demikian sifat aslinya.
Kepala irfa beberapa kali mengangguk hingga membuat rafa merasa khawatir dengan tingkahnya.
Mereka berduapun segera mengatur tempat tidur senyaman-nyamannya dan mulai merebahkan tubuh penatnya.
Rafa terlihat sibuk dengan comicnya yang siang tadi dipinjamnya dari toko rental dekat kosnya itu. Ditelitinya tiap halaman di comic itu, berharap alur cerita semakin menarik dan membuatnya terus penasaran dengan comic tersebut.
Irfa yang memiliki hobi hampir sama, rupanya tak mau kalah dengan sang kakak. Jari-jari kurusnya turut sibuk untuk membelai lembaran novel yang dipegangnya itu.
Sebuah kalimat dalam novel itu menggoda pikirannya. “Penyesalan selalu hadir diakhir  cerita,Karena penyesalan membutuhkan proses untuk memahami maknanya”.
“penyesalan?, kalimat klasik. Kalimat itu tak akan pernah ada dalam kamus hidupku”. Dengan wajah bersungut-sungut, irfa nampak tak terima dengan kalimat penyesalan. Karena menurutnya, setiap tindakan itu memang haris difikirkan dengan matang-matang, agar penyesalan itu tak pernah ada.
Rafa hanya mampu tersenyum maklum saat mendengar kalimat sarkatis yang diucapkan sang adik. Tapi otaknya justru berkelana dalam angan. ‘andai saja aku berada didekat mama waktu itu’, batinnya penuh penyesalan.
Mereka berdua kemudian memilih untuk menutup buku yang mereka pegang, mematikan lampu baca, dan menyalakan lampu tidur agar tak terasa gelap gulita.
Mata mereka terpejam, namun tidak –belum- dengan pikiran mereka.
“kamu sudah tidur?”. Telunjuk rafa menyentuh pipi sang adik yang sedikit lebih chubby darinya itu.
“belum, ada apa kak?”. Tanya irfa seraya membuka kelopak matanya kembali.
“ehm... Kau sudah ngantuk?”. Sekali lagi pertanyaan yang sedikit tidak penting. Tapi jawaban belum dari sang adik membuat kamar kembali hangat dengan celotahan mereka selanjutnya.
Dan mereka tertidur saat waktu menunjukkan puku 02:00 dini hari.
@Tuesday, July 22 20xx
Pagi yang cerah, tapi sedikit muram bagi dua bersaudara ini. Mata mereka yang masih lengket memaksa untuk tetap bertahan dan bergulung dibawah selimut hangat mereka.
Tidur terlalu larut rupanya membuat tubuh mereka menjadi sedikit tak bersahabat. Mereka bahkan berjalan terasa melayang dan itu memang tidak begitu baik bagi kesehatan mereka.
Gelang merah milik rafa tiba-tiba terlepas dari pergelangan tangannya. Sedikit kaget, tapi tidak ada kerusakan pada gelang itu membuat rafa mampu bernafas lega. Dia segera menghampiri sang adik yang masih mengumpulkan segenap nyawanya yang tercecer kemana-mana dan memintanya untuk memakaikannya lagi.
“tumben sekali kau melepasnya kak?. Mulai tak suka eoh?”.  Pertanyaan yang sedikit berlebihan, tapi tentu saja irfa curiga, sang kakak selama bertahun-tahun enggan melepaskan gelang buatannya itu.
“Bukan begitu, terlepas sendiri. Mungkin gelangnya yang mulai bosan denganku”. Ucap rafa berkelakar.
“mungkin juga, gelangnya mulai lelah untuk menjagamu?”. Kali ini kelakar rafa dibalas telak oleh irfa yang membuat rafa turut tertawa.
___Naru_Chan___
Siang yang terik diluar sana. Matahari yang mulai condong kearah barat, seakan tak memiliki rasa lelah untuk memberi cahaya untuk seisi bumi. Awan seputih kapas terlihat berarak ke arah timur di bawah godaan angin.
Jam menunjukkan tepat diangka 2. Bel pulangpun terdengar saling sahut seakan panggilan kerja untuk para tentara. Tapi panggilan yang ini akan menyebabkan suara gaduh dari para siswa yang ingin segera pulang dan melonggarkan kerah baju mereka.
Tak terkecuali irfa, gadis itupun terlihat bersiap-siap untuk segera pulang. Buku pelajarannya yang berserakan segera dirapikannya dan kemudian melakukan doa bersama sebelum pulang. Sedikit kekanakan, tetapi itulah tradisi.
“irfa, minggu nanti jadi ikut diklat jurnalis kan?”. Tanya seorang siswa laki-laki yang menggunakan pakaian identitas sama dengan yang dikenakan irfa di depan mushola sekolah.
“ah, iya kak. Tentu saja aku akan ikut”. Kepala irfa turut mengangguk saat mengucapkan jawaban dari siswa laki-laki yang ternyata seniornya itu.
“baiklah, jam 9, jangan lupa...”. Dan sang senior kembali melanjukan langkahnya mendahului irfa. Sedikit rasa heran berkecamuk dalam batin irfa, bagaimana ada makhluk langka berkeliaran diarea sekolahnya, yang bahkan tak diketahui siapa nama si senior tersebut, dan ini masih hari selasa. Oh ayolah... masih kurang 5 hari dari sekarang.
“irfa... ayo pulang...?” ajak sebuah suara yang ternyata adalah sang kakak.
“ayo...”. ucap irfadengan suara yang ceria.
___Naru_Chan__
“kemana gelangmu?”. Tanya rafa ingin tahu.
“ah... dimana ya..?. aduh kak aku lupa menaruhnya dimana...” Irfa terlihat celingak celinguk di kamarnya mencoba menemukan gelangnya itu. “nanti aku cari lagi deh... sekarang aku mau kesekolah lagi, bye kak...”. lanjutnya dan segera melangkahkan kakinya yang jenjang itu beranjak pergi.
Tanpa sepengetahuan irfa, wajah mendung terlihat di wajah rafa mengingat tingkah adiknya itu. “apa hanya aku yang terlalu sayang padanya?”.
Kecewa, sedih dan banyak perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Tak satupun dari perasaan-perasaan itu yang memiliki aura positif.
Rafa terduduk dipinggiran tempat tidurnya. Matanya tak sengaja mengarah pada kaki tempat tidurnya. Benda berwarna merah nampak tergeletak tak berdaya disana. Warnanya yang mencolok tentu saja membuat mata rafa yang sama sekali tak memiliki gangguan itu segera mengenalinya.
“terjatuh, tentu saja dia tak berniat membuang atau melupakannya bukan?”. Tanya rafa, lebih pada untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Disimpannya gelang merah buatannya itu. Dan segera disambarnya comik yang baru saja dipinjamnya sepulang sekolah tadi dan membacanya. Berusaha menghalau semua perasaan kecewa yang mendekam dihatinya.
___Naru_Chan___
“kakak, ayo makan...”. suara irfa yang kencang, mampu membuat rafa hengkang dari dunia comicnya.  “oke...” jawabnya cepat dan singkat. “kamu sudah makan la...?”. kali ini dia memandang ke arah partner tidurnya itu. “aku nitip saja boleh..?”.
Rafapun menganggukkan kepalanya tanda persetujuan dan sheila segera sibuk dengan isi dompetnya yang kemudian memberikan beberapa lembaran uang kertas ke tangan rafa.
Selanjutnya rafa dan irfa segera bergegas menuju warung makan langganan mereka.
“jangan sampai hilang lagi”. Ucap rafa dan segera mengaitkan gelang merah itu ke tangan irfa. Gelang yang sempat diraihnya sebelum dia berangkat mencari makan tadi.
“ah, kau menemukannya ya kak. Tapi aku masih mau mandi setelah ini. Makainya nanti saja ya kak?”. Tolaknya. Memang beralasan, tapi irfa menyadari ada raut kecewa di wajah kakaknya.
“baiklah. Simpanlah kalau begitu...”. segera diberikannya gelang merah itu ke telapak tangan irfa.
“hm... wah.. sudah selesai bu...?”. irfa tiba-tiba melihat sang ibu penjual makanan, dan segera meminta kakaknya itu untuk membayarnya.
Mereka segera kembali pulang, dan memakan makanannya bersama.
___Naru_Chan___
Malam pun semakin larut. Irfa terlihat mengerjakan tugas sekolahnya dikamarnya sendiri. Teman sekamarnya nampak telah lelap dalam mimpinya.
Sang kakak tentu saja sedang membaca comic dikamarnya dan ditemani pencahayaan yang temaram, yang tentu saja sedikit tidak baik bagi kesehatan matanya. Tentu saja karena dia menghargai teman sekamarnya yang juga telah lebih dulu tidur.
Rafa kembali memandangi gelang merah yang melingkar ditangannya. Kembali senyumnya terpancar mengingat wajah polos adiknya yang dulu ketika mengaitkan benang merah itu ditangannya.
Sedang irfa, hanya melihat gelangnya di meja sekilas, dan segera beralih kembali ke buku di depannya yang penuh akan rumus-rumus fisika itu.
___Naru_Chan___
@Wednesday, Juli 23 20xx
Langit kembali cerah hari ini. Belum ada tanda-tanda musim hujan akan tiba. Mungkin tahun ini musim kemarau panjang seklai lagi akan menyambangi negara ini.
Angin terasa bertiup lembut membelai anak rambut milik rafa. Hari ini dia berangkat lebih pagi dari biasanya karena ada les yang diadakan oleh sekolah, memaksanya meninggalkan sang adik di kos.
“eh fa, adikmu dideketin sama ketua osis tuh...”. ucap sheila teman sekamar rafa.
Tanpa diminta mata rafa segera asyik mencari-cari sosok yang dikenalnya itu. Ah, andi, ketua osis yang sering dipanggil dengan sebutan china atau ahong itu terlihat mensejajari langkah kaki irfa.
Dengan intens, rafa memperhatikan kegiatan mereka dari balkon lantai dua dmana kelas rafa terletak. Tidak berniat menjadi mata-mata, hanya saja ingin mengawasi adik semata wayangnya yang ingin selalu dalam jangkauannya.
Andi adalah orang yang baik. Teman di salah satu kegiatan yang dulunya diikuti oleh rafa. Remaja yang juga tengah duduk di bangku kelas tiga tetapi bereda jurusan itu.
“andi sepertinya suka adikmu fa...”. ucap sheila nampak turut mengawasi dan juga memanasi hati rafa.
Sebuah senyuman justru menjadi jawaban dari keusilan sheila. Karena tak masalah bagi rafa, apapun yang dilakukan oleh irfa selama dia masih mengetahui batas-batasnya.
___Naru_Chan___
Sore yang segar, langit mulai terlihat jingga, dan awan berwarna senada terlihat dipermainkan angin  sore mengusik ketenangannya.
Rafa terus saja memperhatikan pergelangan tangan irfa yang terlihat polos tanpa apapun disana. Masih dengan rautnya yang kecewa, hanya saja tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
Sikapnya memperlihatkan dirinya tak terlalu peduli apapun yang terjadi dengan sang adik. Tapi raut wajahnya jelas memperlihatkan tanda tanya besar dengan perubahan yang terjadi pada adiknya.
Matanya sibuk melihat pada lembaran comic seperti biasa. Angin mempermainkan rambutnya dan beberapa lembar comic itupun turut berkebat-kebit layaknya api lilin yang akan padam.
Irfa terlihat turut sibuk membaca comic yang siang tadi dipinjam kakaknya. Nampak asyik dengan dunianya hingga tak disadarinya perubahan sang kakak.
Suara dari handphone irfa mampu menghancurkan seluruh imajinasi yang mereka berdua coba susun satu persatu itu, dan menjadi kepingan yang berantakan, akhirnya terbang seperti debu.
“halo kak adit... tumben telphone aku.. lagi banyak pulsa nih..?” suara sang adik yang terdengar ceria itu, rupanya yang justru mampu memporak porandakan ketenangan sang kakak.
Mata sang kakak seketika membola, sedang irfa yang saat itu tengah berada dikamar sang kakak segera menjauh dan kemudian memasuki kamarnya sendiri.
Tentu saja hal itu membuat sang kakak khawatir terhadapnya. Adit adalah bocah ternakal di sekolah yang setahun lalu resmi menjadi adik kelasnya. Berkali-kali mencatatkan namanya di buku BP. Ketahuan merokok, membolos, tawuran, bahkan mabuk-mabukkan adalah catatan-catatan kenakalannya yang bahkan sudah menjadi rahasia umum. Meskipun beberapa kali dia menyumbangkan piala untuk sekolah di bidang olahraga, tetap saja kenakalannya menjadi noda hitam untuk perjalanannya.
___Naru_Chan___
Angin malam yang bertiup dingin tak mampu mengusik lamunan rafa.  Merasa seidkit kecewa dengan perubahan yang terjadi pada irfa beberapa hari ini.
“kak, kakak ngapain disitu?. Nanti ada setan lewat lo...”. usil irfa yang berbuah senyuman tipis dari sang kakak.
“irfa, kakak pengen tanya”. Pinta rafa meminta irfa mendekat kearahnya.
“tanya apa kak?”.
“ehm... kamu... gimana bisa kenal adit?”.
“oh itu... kak adit minta nomorku ke temanku, terus ya udah, gitu aja”.
“oh, adit itu anaknya nakal fa, mendingan jauhin dia deh daripada ada apa-apa sama kamu”.
“kakak jangan batasin aku banget gitu dong. Aku ini udah dewasa, aku juga tahu kali yang baik buat aku dan yang buruk buat aku”.
“oke, kakak Cuma ngingetin kamu aja. Gak usah salah faham. Udah malem, tidur sana”.
Rafa segera masuk ke dalam kamarnya. Begitu juga dengan irfa. Sedikit jengah dengan perlakuan sang kakak yang terlalu protektif padanya.
@Thursday, July 24 20xx
“Kamu kenapa fa?. Gak semangat banget?”. Tanya sheila.
“gak apa-apa shel, lagi bad mood aja”. Sheila sama sekali tak menggubris keberadaan sheila disampingnya.
“oh, ya udah... kamu gak pengen ke kantin?”. Sekali lagi sheila mencoba mencari perhatian temannya itu yang mendapat hadiah death glare dari rafa. “oke, aku ke kantin sendiri. Kamu menakutkan”.sheila segera kabur dan meninggalkan rafa yang hanya terdiam memandangi kepergian temannya itu.
Rafa kembali pada lamunannya yang sebentar tadi diusik.
___Naru_Chan___
Irfa terlihat melintas ke kamar mandi. Tanpa sengaja dia bertemu dengan adit.
“ah, kak adit... darimana...?” tanyanya sedikit penasaran. Tentu saja. jam istirahat sudah berakhir 30 menit yang lalu. Irfa baru saja melewati kelas adit dan disana ada sang guru sedang menerangkan pelajaran.
“irfa, oh, aku dari kantin”. Jawabnya dengan gaya sok cool yang berhasil menjatuhkan cewek manapun.
“kelasmu ada gurunya lo kak...”. irfa mencoba mengingatkan.
“biarin aja, aku males masuk. Gurunya gak asyik”.
“ih... kakak kok gitu sih?”.
“kamu sendiri mau kemana?”.
“ke kamar mandi”.
“apa kamu ada guru?”.
“belum datang kak, sedikit terlambat mungkin, tapi ada kok”.
“ikut kakak bolos aja yuk?, sekali-kali tak apakan?”
Sedikit berfikir, tapi irfa akhirnya mengangguk setuju. Mereka berduapun segera keluar dari sekolah tanpa hambatan, karena mereka melewati gang tikus yang memang sering digunakan anak-anak nakal untuk membolos.
Entah mengapa irfa merasa, membolos itu ternyata cukup menyenangkan. Dan mereka kembali ke sekolah setelah jam pelajaran berakhir.
“yah kak... udah ditutup kelasnya. tas ku masih di dalam. Gimana dong kak?”. Irfa mulai bingung dan resah.
“ambil besok aja. Besok kan masih sekolah”. Sebuah jawaban santai keluar dari bibir adit. Terlihat benar dia telah terbiasa mengalaminya.
“ya udah deh. Makasih buat hari ini ya kak, aku seneng deh. Kapan-kapan lagi ya...?
“beres....”. balasnya, “ehm, irfa, malam minggu nanti kamu ada acara gak?”. Lanjutnya.
“aku ada acara sama anak jurnalis kak. Memang kenapa?”
“gak, aku pengen ngajak kamu keluar aja. Kalau malam sabtu gimana?.kamu bisa?”.
“oke, aku bisa kak...”.
“ya udah kalau gitu kamu pulang sana. Sampai jumpa malam sabtu ya...?”.
“oke kak... bye...”. sebuah senyuman manis tercetak di wajah irfa. Jangan lupakan semburat merah di pipinya itu.
“bye...”.
‘asyik...’ batin irfa sambil melengang untuk pulang ke rumah kosnya yang tak terlalu jauh dari sekolahnya itu.
___Naru_Chan___
Sebuah tas berwarna hitam nampak tergenggam erat ditangan rafa. Teringat kembali perbincangannya dengan teman adiknya itu saat menyerahkan tas milik irfa.
“kak rafa, titip tasnya irfa ya kak?”. Pintanya sesaat setelah rafa keluar dari kelasnya.
“oh, irfa kemana?. Dia ada kegiatan?”. Tentu saja pertanyaan yang memang umum muncul di otaknya.
“aku juga gak tahu kak. Hari ini gak ada kegiatan apapun. Karena kegiatan ku sama persis dengan irfa. Tapi tadi pak satpam sudah mau mengunci pintu kelas, irfa gak balik-balik dari pelajaran ke 3”. Sahutnya dengan mimik setengah bingung.
“oh ya... makasih ya...?”. balas rafa.
Teman irfa itupun segera beranjak setelah mengucapkan perpisahan.
Tak seberapa lama, terlihat irfa berjalan santai menuju kamarnya yang memang harus melewati kamar sang kakak.
“tasmu. Kamu tadi kemana?”. Rafa mencoba untuk menahan kedongkolan di dalam hatinya.
“aku tadi ada kegiatan kak. Jadi aku belum sempat ngambil tas. Eh, udah dikunci kelasnya. Siapa yang ngasih tasku ke kakak?”. Tanya irfa dengan mimik yang sedikit ketakutan.
“temanmu. Dia bilang kau dan dia sama sekali tak memiliki kegiatan sekolah. Karena kalian berdua memiliki jenis kegiatan yang sama persis. Jadi tadi kamu kemana?”. Suara rafa semakin terdengar dingin dan mengintimidasi.
“kakak gak usah deh terlalu ngatur aku. Aku sudah besar kak. Apapun yang kulakukan itu urusanku. Aku bakal pertanggung jawabin semua sendiri kok”. Bentak irfa tiba-tiba dan mampu membuat rafa tercekat.
“hehh...”.sebuah senyuman miris terlihat nyata diwajah rafa. “aku Cuma ngasih tahu kamu sebagai kakak...”. belum sampai rafa menyelesaikan ucapannya, irfa sudah memotongnya dengan suara yang tidak bisa dibilang rendah.
“sebagai kakak, kakak itu jangan terlalu ngekang aku. Berapa kali aku harus bilang ke kakak?. Aku bisa sendiri”.
“baik, lakukan semua yang kamu suka”. Rafa segera memberikan tas irfa. Dia segera memalingkan wajahnya dan beranjak pergi.
“aku benci kakak”. Ucap irfa lirih dan segera masuk ke kamarnya.
Rafa yang mendengarnya tentu saja merasa hatinya sangat sakit. Tapi dia justru memberikan senyumnya. “bagus, kau akhirnya membenciku. Ah... aku benar-benar kakak yang buruk”. Rafa tahu, irfa tak mendengarkan ucapannya. Rafa segera memasuki kamarnya, dan menumpahkan segala sesak didadanya. Beruntung sheila teman satu kamarnya itu sedang keluar dengan kekasihnya.
___Naru_Chan___
Malam yang dingin sekali lagi menghampiri kota itu. hujan gerimis turut menjadi suara merdu pengantar tidur.
“fa, kamu tidur jam segini?”. Tanya sheila yang baru saja datang.
“hm...”. balas rafa dari balik selimut tebalnya.
“ya udah deh... terusin aja kalau begitu. Kamu udah makan?”. Tanpa mengerti keadaannya, sheila terus saja mengajak rafa berbicara.
“udah...” jawab rafa singkat. Dari sana jelas terdengar suara paraunya.
Tak ingin mengganggu rafa, sheilapun akhirnya memilih menyerah dan melakukan apapun yang ingin dikerjakannya.
Sementara itu Irfa juga berada dikamarnya sedang berkencan dengan hape tersayangnya. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya, seakan sudah lupa dengan kejadian sore tadi yang sedikit banyak membuatnya sedih juga.
 ___Naru_Chan___
@Friday,  July 25 20xx
Pagi ini rafa berangkat lebih pagi dari biasanya. Bukan tanpa alasan. Hari ini dia kembali menghadiri les disekolahan yang diselenggarakan pada jam ke nol pelajaran itu atau artinya pukul 06:00 pagi.
Rafa nampak tak benar-benar mampu menyerap pelajaran yang diberikan pagi ini. Semua rasa bersalah seakan menumpuk diotaknya. Biar bagaimanapun juga irfa adalah satu-satunya saudara yang dimilikinya. Bermusuhan dengan adik sendiri tentu bukanlah ide yang menarik bukan.
Dikedipkan matanya beberapa kali, mencoba memperhatikan kembali pelajaran yang sedang berlangsung. Tak banyak berubah, tapi cukup untuk membuatnya mengerti dengan beberapa rumus yang diterangkan.
Sedangkan irfa yang saat itu sedang bersiap-siap untuk menuju sekolah, nampak memperhatikan gelang merah miliknya. Diraihnya, tapi segera dikembalikannya lagi kedalam kotak tempat menyimpan segala barang-barangnya.
Diapun segera berangkat ke sekolah sebelum bel tanda masuk terdengar dan membuatnya terlambat.
___Naru_Chan___
“fa, pulang sekolah nanti, kita diminta kumpul di ruang klub sama ketua jurnalis. Dia bilang kita perlu memfixkan segala persiapan kita untuk hari sabtu nanti”. Kata rara teman sesama klub irfa.
“oke..” jawab irfa sambil mengacungkan jari jempolnya.
‘ah malam nanti, aku keluar sama kak adit. Pake baju apa ya...?’ pikirnya diantara jam pelajaran yang tengah berlangsung itu.
___Naru_Chan___
“terima kasih atas kehadiran kalian hari ini. Semoga kegiatan sabtu nanti lancar...”. ucap ketua pelaksana kegiatan itu mengakhiri pertemuan hari itu.
“amin...” jawab semua yang hadir dengan serentak.
Satu persatu dari mereka segera meninggalkan ruangan klub yang tak seberapa besar itu, meninggalkan sekolah mereka yang semakin malam akan semakin seram itu.
“fa, kamu gak mampir kos ku dulu?”. Tanya seorang teman irfa yang memang sejak tadi berada di sampingnya dan menjadi teman bicaranya.
“gak, makasih. Kapan-kapan aja deh. Udah malam. Bye...” jawabnya berharap temannya tak banyak bicara.
“oke, bye...”. teman irfa itu segera menghilang dibalik gang yang menuju kos tempatnya tinggal.
Irfa berjalan sendiri dibawah gelapnya gelapnya kota yang didiaminya beberapa puluh tahun sejak ia terlahir. “wah, udah jam 6. Belum mandi, belum nyetrika baju, haduh... gimana kalau kak adit datang cepet?”. Bingungnya sambil mengacak-acak rambutnya yang memang sudah sedikit berantakan itu.
Dipercepatnya langkah kaki kecil yang menumpu tubuhnya itu. berharap bisa sampai di depan kamarnya dalam hitungan detik. Hal yang mustahil, tapi tidak untuk sebuah harapan.
___Naru_Chan___
Rafa masih terus saja mendekam dikamarnya sejak urusan di sekolah usai. Tidak banyak yang dilakukan, hanya membaca komik, membolak-balikkan setiap lembarnya, dan terakhir menghembuskan nafasnya berat. Tak ada yang cukup spesial dengan kegiatannya itu.
Ditolehkannya kepalanya kearah jendela kamar. Tanpa disengaja, tatapannya melihat kearah adiknya yang berjalan tergesa keluar dari kamarnya. Nampak rapi meski yang terlihat hanya sebatas kepala sampai pinggang, tapi cukup untuk menilai penampilan seseorang.
Rafa bergegas berdiri dari duduknya, tapi kemudian dia terduduk kembali. Tubuhnya lemas mengingat ucapan adiknya kemarin. ‘aku memang tak berhak untuk mencampuri urusan pribadinya’. Batinnya dalam hati.
Rafa kembali terpekur dengan comik ditangannya, tapi kemudian dia berlari keluar. Setidaknya dia ingin tahu, siapa orang spesial yang membuat adiknya mau berdandan seperti gadis pada umumnya.
“Adit...”. ucapnya lirih sedikit tak percaya pada matanya. Rupanya adiknya benar-benar tak mengindahkan ucapannya. Kali ini rafa benar-benar bingung, bagaimana caranya menjauhkan adiknya dari makhluk bernama adit yang tak ada baik-baiknya itu, selain tampang sok polos yang dimilikinya.
Akhirnya rafa hanya mampu berdoa agar adiknya baik-baik saja. tapi akibatnya, otak dan hatinya tak mampu berfikir dan merasa ketenangan disetiap detikan jam yang telah berlalu.
___Naru_Chan___
Pukul 10 malam, sang adik baru saja tiba dikosan. Mata rafa yang memang tak mau terpejam barang sedetik pun itu melihat sang adik yang melintas dengan terburu-buru menuju kamarnya sendiri.
Dan oh, apa itu tadi. Irfa menangis?. Benarkah yang dilihat rafa adalah air mata?. Apakah ada yang salah?. Terlalu banyak tanya yang berkecamuk dibatinnya. Kakinya ingin segera berlari dan menanyakan apa yang terjadi pada adiknya. Tapi sekali lagi, sebuah kesadaran diri menghantamnya begitu keras hingga mengaburkan semua niat yang tertanam didirinya.
Akhirnya yang dilakukannya hanyalah berdoa, semoga tak ada hal buruk yang terjadi padanya.
___Naru_Chan___
Irfa membenamkan wajahnya pada bantal empuknya. Selimut tebal menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala. Suara isakan masih lirih terdengar. Beruntung teman sekamarnya sedang berkunjung ke rumah saudaranya.
“ternyata kak adit gak sebaik yang aku pikirkan. Kenapa kak adit seperti itu padaku?. kenapa aku tak percaya pada kak rafa yang jelas-jelas lebih tahu dibanding aku yang baru saja mengenyam bangku SMA ini, maafin aku kak...”. Sebuah tangisan sesal jelas menjadi latar kegiatannya malam ini.
Tangisan yang begitu lama membuat matanya membengkak. Lelah dengan tangisnya, dia tertidur begitu saja.
___Naru_Chan___
@Saturday, July 26 20xx
Rafa kembali berangkat pagi sekali hari ini. Lagi-lagi kelasnya memiliki jadwal untuk les pada jam pelajaran ke nol.memaksanya untuk bangun lebih pagi, mandi lebih pagi, dan menyelesaikan segala urusannya lebih pagi.
Hal yang paling ingin ia lakukan pagi ini adalah meminta maaf pada adiknya, memperbaiki hubungan mereka dan menjalani hari-hari layaknya hari yang telah lalu.
Tapi apa yang bisa ia lakukan, saat kewajiban menuntutnya untuk melakukan hal lain untuk masa depannya. Tentu untuk masa depan dia belajar dengan giat, menghafalkan rumus fisika, kimia, fisika, maupun bahasa inggris yang sulit untuk dia mengerti awalnya. Hanya untuk masa depan dia memperjuangkan itu semua saat dia mampu.
Teringat kembali dengan kejadian adiknya yang menangis semalam, tetapi kemudian tergantikan dengan adiknya yang mengatakan membencinya. Pikiran itu datang silih berganti membuat kepalanya sedikit pening.
Dilihatnya pergelangan tangannya, berharap menemukan sesuatu disana yang membuatnya sedikit merasa lebih baik. Dan apa yang terjadi adalah, gelang merah pemberian dari adiknya yang selalu dianggapnya sebagai jimat itu kini tak lagi melingkar disana.
Wajahnya memucat seketika. Mencoba mencari disekitarnya barangkali ada benda berwarna mencolok itu terjatuh disana. Tapi hasilnya nihil. Dan sepanjang pelajaran hampir tak satupun yang berhasil memasuki memorinya.
___Naru_Chan___
“loh, ini gelang kak rafa. Pasti ini terjatuh waktu dia mandi”. Ucap irfa lebih pada dirinya sendiri saat menemukan gelang sang kakak nampak terjatuh lemas di dekat pintu kamar mandi. “nanti aku kembalikan sekalian minta maaf. Semoga dia sudah melupakan semua yang terjadi”. Lanjutnya, sambil berharap akan hati besar milik sang kakak.
Irfa segera masuk ke kamar mandi dan melakukan semua kegiatan membersihkan dirinya itu.
Selesai dengan itu semua, dia segera bersiap-siap menuju sekolah yang menjadi rutinitas hariannya itu. di pandanginya lagi gelang yang dibuat olehnya bertahun-tahun yang lalu.
“oh, sudah jelek begini masih dipakai. Dasar kakak ini. Sudah putus. Apa aku buatkan yang baru saja ya...?”. Sebuah senyuman lolos dari bibirnya.
Diletakkannya gelang itu di dalam kotak yang sama dengan tempat dimana gelang miliknya diletakkan. Irfa bergegas mematut diri dan setelah semuanya siap, dia segera meraih tas hitamnya dan segera berangkat menuju sekolah.
___Naru_Chan___
Jam pelajaran di hari itu terasa sangat lama bagi rafa yang memang sedang bingung dimana gelang merahnya itu terjatuh. Setelah bel berbunyi, dan do’a usai, dia segera bergegas pulang ke kosnya tanpa ba bi bu. Pikirannya begitu sibuk mengira-ngira dimana letak gelang itu berada.
Saking sibuknya, rafa sampai tak memperhatikan ada sebuah motor yang melaju cepat ke arahnya. Andi sang ketua osis yang memang memperhatikan langkah rafa yang sedari tadi memang terlihat linglung itu segera menyeret rafa ke pinggir jalan yang aman.
“rafa... kamu itu, kenapa gak lihat kanan kiri eoh...?”. bentaknya kesal. Bagaimana tidak kesal melihat seorang teman yang begitu cerobohnya melewati batas aman itu.
“eh, sorry... aku gak sadar sumpah...”. ucapnya langsung. Dia memang benar-benar merasa bersalah dengan kejadian itu. “makasih ya ndi...”. tambahnya sopan.
“ya udah, hati-hati ya kalau jalan?. Atau mau ku antar pulang”. Tawar andi. Mau tak mau dia merasa turut bertanggung jawab akan keselamatan teman-temannya. Maklum, ketua osis memang seharusnya seperti itu.
 “gak usah, makasih udah nolongin. Aku pulang dulu deh. Bye...”. pamitnya segera setelah teringat kembali dengan gelang miliknya itu.
“oke... bye...”. balas andi segera.
‘pasti gara-gara gak pakek gelangnya ini, bawaannya jadi pengen celaka terus’. Batinnya. Kali ini rafa lebih fokus pada jalan yang dilaluinya hingga selamat sampai dirumah.
___Naru_Chan___
“kak sheila, kak rafa udah pulang?”. Tanya irfa pada teman sekamar kakaknya itu.
“udah... tadi gelangnya hilang. Terus dia buru-buru pulang buat nyari”. Jawab sheila.
“oh, gelangnya di aku. Aku sms deh, kakak juga mau pulang ke rumah abis ini. Kasihan kalau kesorean”.
“oke, aku juga mau pulang. Kamu...?”.
“aku masih ada kegiatan kak, kakak pulang dulu aja. Bilangin ke kak rafa, gelangnya di aku”.
“ya udah kalau gitu. Bye...”.
“bye kak...”.
Setelah perbincangan itu mereka berdua segera berjalan ke arah yang berlawanan. Irfa ke ruang klub, sedang sheila menuju kosnya.
___Naru_Chan___
Rafa masih terlihat sibuk dengan kegiatan –mari mancari gelang- miliknya. Tak disadarinya sheila yang kini sudah berada di sampingnya.
“gelangmu ada di irfa”. Suara kedatangan sheila yang tanpa suara itu sukses mengagetkan rafa.
“oh ya. Irfa udah pulang?”.
“dia ada kegiatan club. Kamu mau pulang ya?”.
“yups. Yaudah, aku pulang aja kalau gitu. Irfa gak pulang, dia mau ada acara klub dengan teman-temannya. Kamu pulang?”.
“gak fa, aku pulangpun gak kan ada orang dirumah. Mendingan aku kencan sama arga”.
“oke, bilang ke irfa ya, tolong simpenin dulu gelangnya. Aku pulang”. Rafa segera memasukkan beberapa benda yang dia butuhkan ke dalam tasnya.
“bye sheil...”
“bye... hati-hati fa...”.
Dan sebuah anggukan yang lagi-lagi menjadi jawabannya.
___Naru_Chan___
Matahari yang tadinya bersinar begitu cerah, tiba-tiba saja digantikan awan mendung kelabu. Angin dingin mulai bertiup dan mencoba memainkan surai rafa yang sedikit terlihat keluar dari kaca jendela sebuah bus itu.
Rafa hanya terdiam dengan headset berwarna hitam merah yang bertengger manis ditelinganya, menikmati bait-bait lagu yang layaknya puisi. Matanya tertutup seakan menikmati suasana yang diciptakan oleh alam.
Dipandanginya smartphone ditangannya. Sebuah foto dilayar hp itu menciptakan sebuah senyuman di bibirnya. Jari-jarinya beberapa kali mengetuk layar touchscreen dihadapannya itu.
‘maafin kakak ya... kakak gak punya niat buat ikut campur urusan kamu. Kakak tahu kamu udah besar dan tahu mana yang terbaik buat kamu. Tugas kakak selama ini hanyalah mengawasi dan melindungi kamu seperti kata ibu. Kakak tahu kakak terlalu protektif ke kamu. Maafin kakak ya?. I trust u. Always... oh iya, kamu semalam kenapa menangis?. Jangan nangis lagi ya nantinya. Kakak pulang dulu, nanti kakak bawakan jatah kamu minggu ini. Good luck dengan kegiatannya.’. ketiknya.
Sekali lagi dipandanginya pesan yang dia tulis itu. bingung antara mengirimkannya atau menundanya sampai mereka dapat bertatap muka. Tapi akhirnya pesan itu terkirim tanpa disengajanya. Seakan langit membantunya menghilangkan kebingungan yang melandanya.
Klunthiing... pemberitahuan pesan terkirim pada alamatnya. Seketika membuat tubuhnya lemas. Apalagi tak segera mendapatkan balasan dari sms yang dikirimkannya itu.
Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Pinta jendala yang menawarkan angin segarpun terpaksa ditutup. Mau bagaimana lagi, hujan lebat datang menyerang.
Bis yang ditumpangi rafa terus melaju membelah jalan dengan mulus. Tak terjadi apapun, hingga sebuah mobil box dari arah yang berlawanan melaju sangat kencang tanpa memiliki kendali.
Sang sopir bus yang panik segera membanting stir ke arah kiri dimana lereng terjal yang tak begitu curam menanti. Beberapa penumpang mulai panik, tidak terkecuali rafa. Apa lagi yang menunggunya kali ini?.
Bis oleng dan terguling beberapa kali. Mengakibatkan tumbukan yang dahsyat dengan batu-batu disekitarnya. Suara rintihan lirih mulai terdengar sesaat setelah bus berhenti berguling. Sebuah tangisan bayi memekak telinga. Wajar saja, pada suasana yang segenting itu, semua orang menjadi bingung dengan segala yang terjadi.
Hujan memudarkan bayangan bis itu. Panas yang dihasilkan oleh gesekannya membuatnya berasap.
Rafa dengan kesadarannya yang menipis mulai beranjak bangun. Namun saat tangannya digerakkan, sebuah rasa sakit yang luar biasa menyusup ke dalam setiap tulang belulangnya. Meremehkan setiap usaha yang dia lakukan. Akhirnya yang mampu dilakukannya hanya terdiam sambil berdoa bantuan segera datang sebelum terlambat baginya.
Tak disadarinya darah segar mengalir melewati rambut hitamnya yang tebal. Pakaian seragamnya nampak robek di beberapa bagian. Satu tangannya memegang smartphone yang tiba-tiba saja berdering itu. hanya kemampuannya tak sampai untuk sekedar mengintip apa yang terjadi dengan smartphone nya itu.
Beberapa menit kemudian semua terdengar berdengung di telinganya. Suara tangisan, teriakan, dan sebagainya lambat laun menghilang. Dadanya terasa sesak. Pandangan matanyapun mulai mengabur dan semuanya gelap seketika, tak terasa apapun juga.
___Naru_Chan___
Seorang laki-laki muda yang irfa ketahui sebagai kakak keponakannya itu tiba-tiba berkunjung ke kos irfa siang yang hampir sore mengingat waktu menunjukkan pukul 2. Hal yang sedikit ganjil bagi irfa mengingat hubungan mereka tak bisa dikatakan dekat. Hanya saling mengenal satu sama lain.
“fa, ikut kak jerry yuk, kak rafa kecelakaan, sekarang dia dirumah sakit”. Ucap seseorang yang bernama jerry itu.
Detakan jantung irfa tiba-tiba berdetak kencang. Baru saja sesaat yang lalu dia membalas pesan kakaknya, dan sekarang sang kakak kecelakaan. Apa-apaan ini.
Irfa hanya menganggukkan kepalanya dan bergegas berganti pakaian menjadi pakaian santai tapi pantas untuk digunakan keluar rumah.
Irfa segera dibonceng oleh jerry menuju rumah sakit dimana rafa berada. Jerry membawa motornya dengan cepat tapi jelas hati-hati.
“kak rafa kecelakaan gimana kak?, kok bisa?”. Tak mampu menahan tanya dibenaknya, irfapun segera mengungkapkannya saja.
Sebuah suara kecil menjadi jawaban dari tanya irfa yang bahkan tak mampu didengar telinganya itu. irfa mengangguk-anggukkan kepalanya pura-pura mengerti apa yang diucapkan kakaknya itu.
#skip time
Mereka berdua akhirnya sampai di rumah sakit. Jerry nampak sibuk menghubungi keluarga dengan handphonenya yang canggih. Irfa hanya mengikuti saja setiap langkah yang dituju oleh jerry. Hingga rasa bingung membuncah di batin irfa.
“kamar jenazah?”. Tanyanya entah pada siapa.
Jerry terus saja masuk kedalam. Terdengar tangisan pilu dari dalam ruangan itu. kamar yang begitu dingin dan irfa harap tak pernah memasukinya seumur hidup. Kini dengan terpaksa dia melenggang juga ke dalamnya.
Sang ayah yang sesaat lalu masih menangis sambil memandangi wajah putrinya yang terlelap itu mulai melangkah menghampiri irfa. “irfa... kakak sudah gak ada...”. ucapnya pelan. Sangat pelan hingga nyaris menghilang.
Dengan langkah tertatih, irfa mendekati sosok tubuh yang terbujur kaku itu. tak percaya otaknya melihat kenyataan ini. Tak percaya atau otaknya memang memilih untuk tak mempercayainya.
Sang kakak nampak lelap dalam tidur panjangnya yang tak akan pernah usai. Kakaknya kini telah pergi, hanya duka dan penyesalan yang mendalam yang dirasakannya.
“kakak... Kenapa kau hanya diam saja?. Aku mohon bicaralah denganku. Berhenti mengacuhkanku, aku tahu aku salah, aku minta maaf padamu kak...” Tangis irfa meledak di sebuah ruangan yang dingin penuh dengan raga tanpa nyawa itu.
“irfa, jangan seperti ini, rafa akan tersiksa dialamnya. Ikhlaskan ya...?”. Laki-laki setengah baya yang masih nampak gagah itu mencoba untuk menghibur buah hatinya yang masih belum mampu menerima kenyataan itu.
Sebuah smartphone yang tergeletak dimeja tepat disamping jenazah sang kakak itu segera diraihnya. Sebuah pesan darinya bahkan belum berhasil dilihatnya. Irfa kembali menangis dengan kencang.
‘jadi kalimat terakhir yang dia dengar dariku adalah aku benci kakak...?’. sebuah ingatan lalu yang terlintas begitu saja diotaknya membuatnya semakin dibawah tekanan rasa bersalah yang luar biasa. Menggelayut manja bagai kepompong yang tak pernah berubah menjadi kupu..
 @Sunday, July 27 20xx
Pagi yang cerah dikampung halaman irfa. Burung-burung bernyanyi riang. Irfa kini duduk dibangku belajar milik kakaknya itu. Sebuah pandangan kosong lagi-lagi muncul di matanya. Saudara bahkan ayahpun tak mampu membujuknya untuk menyudahi kesedihan panjangnya itu.
Sebuah gelang berwarna merah cerah nampak melilit manis dipergelangan tangannya.
“kak... kembalilah aku mohon... aku mungkin akan gila kalau seperti ini terus”. Ucapnya seakan kakaknya berada disampingnya.
Dipandanginya gelang merah yang dibuatkan sang kakak bertahun-tahun lalu. Sebuah senyuman terpeta diwajahnya, tapi tidak dengan matanya. Air mata itu mengalir begitu deras tanpa mampu dicegah. Dipandanginya foto-foto memori dengan kakaknya yang terpajang di mejanya.
Tanpa disadarinya, sang ayah nampak memperhatikannya. Tatapann sendu muncul di wajahnya. Di dekatinya putrinya itu, dan dibelai lembut punggungnya. Setetes air mata mengalir dari matanya yang mulai terlihat cekung itu.
“sekarang tinggal kita. kita harus terus bertahan hidup. Semua orang memiliki batas takdir masing-masing, tak satupun yang mampu meminta maupun menolak. Kita harus tabah anakku”. Ucapnya menguatkan sang putri tercinta, atau mungkin juga menguatkan dirinya sendiri.
Irfa yang memang belum sepenuhnya mampu merelakan kepergian sang kakakpun seperti mendapatkan sentakan. Isakan itu kini berubah menjadi tangisan pilu yang menyakitkan.
Sang ayah terus mengelus bahu sang anak yang kini berada dipelukannya itu, hingga tangisan irfa berubah menjadi isakan kecil, dan tak terdengar sama sekali.
Sang ayah segera beranjak keluar dari kamar sesaat setelah kembali menguatkan diri irfa.  Sedang irfa segera mencari kesibukan yang mampu membuatnya dapat menikmati hari meski tanpa kakaknya lagi kini.
___Naru_Chan___
Malam yang dingin, rembulan nampak bersinar cukup terang, setidaknya mampu terlihat sampai indra penglihatan irfa.
“kak... kau sudah memaafkanku bukan?. Kau hanya diam, ku anggap jawabannya iya”. Tanyanya. “Terima kasih kak sudah memaafkan ku. Kau memang orang yang baik.  Ku mohon terus jagalah diriku sekarang dan selamanya. Meski kau tak terlihat nyata di sampingku, aku tahu kau melihatku dari arah manapun. Iya kan...? selamat malam kak...”. pamitnya. Mengakhiri perbincangannya dengan sang kakak. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Didekapnya gelang merah dipergelangan tangannya itu dengan sayang.
Sebuah angin lembut dari jendela kamar yang terbuka sedikit itu membelai helaian rambut irfa. Seakan ingin mengucapkan pesan, ‘ aku memaafkanmu adikku, dan akan terus menjagamu. Selamat malam’ dari rafa.
Penyesalan memang selalu hadir di akhir cerita...
Agar kita mampu mengerti setiap hikmah yang ditorehkan dari setiap kejadian yang diajarkannya....
___END___
N. Takishida, April, 29 201