“Maafkan
Aku Ibu”
-:- Limited Story By Narumi Takishida -:-
Pacitan, 25 juni 2015 17:00 WIB
“Rud... Ibu sudah bilang. Jangan mabuk-mabukan terus. Ibu ini bukan
orang kaya yang bisa membelikanmu minuman keras setiap hari. Bapakmu juga sudah
meninggal, kamu pikir ibu dapat uang dari mana?. Kenapa kamu tidak bisa
mencontoh masmu ilham?.” Suara seorang wanita terdengar lantang dari dalam
rumah.
“Ibu ini kenapa sih?. Apa-apa mas ilham, dikit-dikit mas ilham. Aku
ya aku bu. Jangan samain aku dengan mas ilham. Ibu ini mesti lo...” Suara lain
yang tak kalah kencang itu seakan turut meramaikan suasana ruangan yang semula
sepi senyap. Pemilik suara itu adalah rudi, laki-laki berumur 20 tahun yang
tengah mengenyam bangku kuliah jurusan Kriminologi di FISIP UI.
“Bukan begitu rud. Ibu ini cuma pengen kamu jadi anak yang mbeneh.
Apa ibu salah?.” Tanya si ibu sembari bercucuran air mata.
“Jadi maksud ibu mas ilham anak ibu yang paling mbeneh? Ya
udah... Anggap aja aku bukan anak
ibu...” Bentak remaja tanggung itu lagi sembari menggebrak meja ruang tamu.
Tanpa sengaja sebuah gelas yang berada dimeja terjatuh ke lantai ubin dan pecah
seketika. Bahkan kepingan kaca bening itu sempat mengenai kaki sang ibu dan
membuatnya mendesah tertahan.
Si ibu semakin dirundung kesedihan. Sementara rudi yang melihat
kejadian itu terhenyak seketika. Sadar bahwa tindakannya begitu melukai wanita
mulia dihadapannya itu. Namun salahkan setan yang sudah merasuki otak dan
hatinya hingga dia memilih keukeuh pada pendiriannya untuk membenci sang ibu.
“Rudi...!!” Sebuah bentakan lain terdengar Nyaring dari pintu depan
rumah tersebut. “Lagi-lagi kau menyakiti ibu...” Keluh laki-laki berusia 27an
itu yang tangan kanannya memegang tas berwarna caramel. Sementara tangan
kirinya memegang jas berwarna putih bersih.
Rudi memicingkan mata demi melihat kedatangan saudara laki-lakinya
itu. Sementara ilham –laki-laki yang baru saja datang itu, segera meraih tubuh
lemas si ibu yang nampak memegangi kakinya yang sedikit tergores pecahan gelas.
“Cih... Kata-katamu tambah memualkan mas...” Ucap rudi seraya
meraih jaket levisnya yang ditaruh di sandaran kursi. Dengan langkah panjang ,
rudi segera keluar dari rumah tempatnya bernaung selama ini. Pergi tanpa tujuan
yang pasti.
“Piye to adikmu itu ham?” Keluh sang ibu masih
berurai air mata saat melihat putranya melangkah pergi dan semakin menjauh dari
pandangannya.
“Nanti aku bicara dengannya bu. Ayo berdiri bu.” Ajak ilham sembari
membantu sang ibu berdiri diatas kedua kakinya yang lemas itu.
“Padahal dia yang anak kandung ibu. Tapi malah kamu yang begitu
baik dan perhatian pada ibu.”Ucap sang ibu sembari membelai rambut hitam halus
milik ilham.
“Seratus dua puluh satu” batin Ilham sembari tersenyum mendengar
kalimat sang ibu. Dan dengan telaten, ilham mulai membersihkan luka sang ibu.
Pacitan, 26 Juni 2015 07:00 WIB
“Kamu dimana rud?. Nginep dimana?. Ibu sampai sakit mikirin
kamu.” Ilham nampak tengah berbicara dengan rudi melalui sambungan jarak jauh.
“Pulang...” Pinta ilham mulai melembut. “Kamu gak kasihan sama
ibu?”
Dan tuttt.. Tutt... Panggilan jarak jauh itu dimatikan secara
sepihak.
“Ck...” Decak ilham sedikit kesal melihat kelakuan adiknya itu.
Pacitan 26 Juni 2015 17:00
WIB
“Aku pulang dulu el. Nanti bank ku bisa macet kalau aku gak
pulang...” Kekeh rudi saat berpamitan pada sahabatnya, dimana dia numpang tidur
semalam.
“Ya baguslah kalau sadar, sudah sana pergi.” Usir eli sahabat rudi
sejak kecil sambil mengulas tawa.
“Kau mengusirku?.” Tanya rudi pura-pura kesal.
“Iya... Kenapa?. Mau protes?”
“Gak sih... Ya sudah... Minggu aku balik ke jakarta. Kamu kapan
balik ke malang?”
“2 minggu lagi. Aku betah dirumah. Gak kayak kamu...” Ketus eli
sambil tertawa.
Rudi hanya mengendikkan bahunya dan segera melangkah pergi.
Pacitan, 26 Juni 2015 17:30 WIB
“Akhirnya kamu pulang” Sapa ilham senang pada rudi yang baru saja
memasuki ruangan besar itu.
“Ibu mana?.” Tanya rudi tanpa basa-basi.
“Di kamar. Mau antarkan ini kekamar ibu?” Tanya ilham sembari
Mengangsurkan nampan berisi secangkir air dan makan malam –sepertinya. “Sekalian
minta maaf. Bisa jadi ini hari terakhirmu ketemu ibu.” Lanjut ilham.
Rudi memicingkan matanya berharap menemukan arti lain dari ucapan
ilham. “Kemarin jantung ibu hampir kumat. Untung aku sudah dirumah. Kau ini
kayak anak kecil.” Ilham geleng-geleng kepala.
Dengan gerakan agak sedikit kasar, rudi segera mengambil alih
nampan ditangan kakaknya itu. Selanjutnya dia mulai menuju kamar sang ibu. Ada
rasa berdesir dan was-was dihatinya jika mengingat apa yang dilakukan semalam.
Tapi otaknya malah berkata lain. ‘Tidak sepenuhnya kesalahanku bu, kau juga
bersalah padaku.’ Batinnya sembari menyeringai kesal.
Ilham memperhatikan langkah adiknya. Sebuah senyuman terlihat
diwajahnya yang tampan. “Syukurlah...” Ucapnya pelan.
*Dikamar ibu.
“Kau sudah pulang rud?” Sapa sang ibu senang. Rudi hanya mengangguk
pelan.
“Kamu jangan ninggalin rumah seperti ini lagi... Ibu jadi sedih...”
Ucap sang ibu dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.
“Kalau ibu gak bandingin aku sama mas ilham terus, aku juga gak
akan kayak gini bu.” Balas rudi sembari menaikkan nada suaranya beberapa oktaf.
“Maksud ibu kan baik, Ibu cuman pengen kamu kayak masmu itu loh.
Nurut sama orang tua.” Desah sang ibu sambil mengunyah makanan yang disuapkan
rudi.
“Iya tapi aku gak suka ibu terus banding-bandingin aku dengan mas
ilham...” Lagi. Emosi rudi kembali meluap. Dia bahkan mulai tak teratur
menyuapi ibunya dan berakhir meninggalkan sang ibu begitu saja. Ah... Emosinya
benar-benar buruk.
“Rud.. Rudi...” Panggil suara sang ibu pelan. Jelas sang ibu tengah
menahan tangisnya agar tidak berubah menjadi raungan. Tapi memangnya mudah
meredakan amarah rudi?. Jawabannya, sulit. Sangat sulit. Pria itu terlahir
dengan membawa sifat keras kepala sang ayah.
“Rud...” llham yang baru saja hendak menuju kamar sang ibu terhenyak
kaget saat dilihatnya rudi keluar kamar sang ibu dengan wajahnya yang memerah
penuh amarah. Dengan langkah yang dibuat semakin lebar, rudi menabrak tubuh
kakaknya yang 5 cm lebih rendah darinya itu. Dia segera memasuki kamarnya yang
berada dibagian paling ujung rumah tersebut.
Sementara ilham bergegas memasuki ruangan kamar sang ibu. “Bu...”
Pekiknya. Saat melihat wanita paruh baya itu nampak memegangi dadanya kencang.
Nafasnya juga putus-putus seakan ada sumbatan yang menyangkut di pangkal
tenggorokannya. Sementara tangannya yang satu lagi sibuk menjambak rambutnya
yang sudah sedikit memutih.
Ilham segera meraih kedua tangan ibunya dan menjauhkan tangan itu
untuk menyakiti bagian tubuh lainnya. “Bu minum...” Pinta ilham seraya
mengangsurkan cangkir air minum yang sudah berkurang setengahnya itu.
Si ibu mencoba meminumnya, tapi sama sekali tidak bisa menelannya.
Justru kembali dikeluarkan bahkan dengan sebagian makanan yang mungkin baru
saja sempat ditelannya.
“Bu... Bu...” Ilham segera mencari aliran nadi di pergelangan
tangan ibunya. “Tidak teratur” Ucapnya lirih. Ilham segera menggenggam tangan
ibunya dengan lebih erat lagi. “Maafkan aku bu...” Ucapnya dengan berlinangan
air mata.
Sang ibu semakin tidak konsentrasi pada apapun disekitarnya. Tubuhnya
mengejang, Keringat dingin bercucuran tidak karuan.
“Ibu... Ibu...” Pekiknya terus menerus, yang akhirnya sampai
ditelinga rudi yang mencoba memejamkan matanya itu.
Rudi segera bergegas bangun dari tidurnya dan berlari menuju kamar
sang ibu. Dilihatnya wanita itu terus berjuang meraih oksigen yang entah
berlari kemana. “Ibu...” Pekik rudi dan segera menuju sisi ranjang ibunya.
“Mas, lakukan sesuatu. Kamu kan dokter mas...” Pinta rudi
kehilangan kesabarannya.
“Tanpa alat-alat medis, aku tidak bisa melakukan apapun rud... Ini
pasti karena jantung ibu kembali lemah...” Desah ilham hampir kehilangan suara.
“Ayo bawa ke rumah sakit mas... Aku akan carikan taksi...” Rudi
segera bergegas menuju pintu.
“Sudah terlambat rud..” Ucap ilham pelan. Mata sang ibu yang
semakin meredup kini telah mengatup sempurna.
Rudi kembali bercucuran air mata saat dilihatnya kulit wajah sang
ibu yang memerah. “Maafkan aku bu..” Ucap rudi penuh sesal. Tubuhnya melemas
seketika. Diraihnya jemari sang ibu yang dulu kerap membelai rambutnya,
diciuminya dan dirabanya lembut.
Dan tepat saat itu, rudi memelototkan matanya tak percaya.
Pandangannya segera beralih pada sang kakak yang juga masih nampak terpekur
ditempat duduknya itu. Kepalanya menggeleng beberapa kali. “Tidak mungkin...”
Ucap rudi semakin tidak percaya.
-:- TBC -:-
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sa, aya-san...Silahkan dianalisa cerita abal ini... Hahahaha... :D
Oh iya... Kalau ada yang perlu ditambahkan, aku tambahkan deh..
FC nya nyusul, Belum buat soalnya... :D