Ketidaksetaraan Gender di dalam kelompok KKN desa
Panggunguni Kecamatan Pucanglaban Tulungagung
penulis: Nurul Wakhidati
penulis: Nurul Wakhidati
Kuliah
Kerja Nyata atau biasa kami sebut KKN adalah salah satu program kuliah yang
wajib kami program ketika kami memasuki semester 7. KKN ini dilakukan pada tanggal
11 Oktober 2013 sampai dengan tanggal 13 November 2013, atau tepatnya 32 hari
kami menjalani masa KKN tersebut. dalam satu kelas kami hampir dapat di bagi
rata 1 orang dalam satu desa. total desa yang menjadi tempat KKN kami adalah 16
desa, yang terletak di kecamatan Pucanglaban dan Kecamatan Tanggunggunung
Tulungagung.
Dalam
suatu kelompok, dengan berbagai karakter yang berbeda-beda, tentu saja sering
menimbulkan ketimpangan-ketimpangan di dalam kelompok tersebut. kelompok
tersebut dapat terjadi di dalam masyarakat, sekolah, maupun di dalam lingkup
pertemanan.
salah
satu yang akan saya bahas disini adalah ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di
dalam kelompok KKN yang telah sukses kami lalui beberapa minggu yang lalu. di
dalam kelompok KKN saya di Desa Panggunguni, tidak terlalu banyak terjadi
ketimpangan-ketimpangan tersebut. saya hanya menemui beberapa jenis ketimpangan
yang itu terjadi ketika kami masih awal atau kami baru akan memulai KKN
tersebut.
Salah
satu bentuk ketimpangan gender yang telah terjadi sejak awal adalah ketika
diadakannya pemilihan ketua kelompok. beberapa anak mengusulkan salah seorang
teman perempuan kami yang dianggap mampu untuk mengemban tugas sebagai ketua
kelompok. dikatakan mampu, karena memang dia sangat cakap didalam berbagai hal,
selain itu dia juga telah teruji ketika dia mampu mengampu sebagai pimpinan
redaksi majalah Dimensi (Majalah kampus). akan tetapi hal yang di sayangkan
adalah dia memilih untuk menolak harapan beberapa teman tersebut, dan
mengatakan bahwa dirinya tidak mampu untuk mengemban tugas tersebut. Sedangkan
beberapa teman lainnya mengatakan bahwa, memanng seharusnya pemimpin adalah
seorang laki-laki. karena laki-laki lebih dianggap lebih mampu untuk mengatur
jalannya suatu kelompok daripada perempuan. Budaya patriarki seperti inilah
yang awalnya membentuk kelompok KKN kami.
selain
itu, ketimpangan Gender yang terjadi di KKN wilayah Desa Panggunguni, seperti
dalam hal memasak. Para kaum hawa ini mengatakan bahwa pekerjaan seperti
mencari air ditempat yang tidak terlalu jauh dan bahkan perempuan pun mampu
untuk melakukannya. Pekerjaan ini kemudian seluruhnya dibebankan sebagai
tanggung jawab laki-laki untuk mencarinya dan membawanya ke dapur. Sedangkan
setelah mengambil air tersebut, para laki-laki cenderung untuk nongkrong atau
tidak mau melakukan apapun ketika para perempuan memasak. Ada saja alasannya,
misalnya seperti memasak bukanlah pekerjaan bagi laki-laki, tidak pantas bagi
laki-laki untuk memasak, dan lain sebagainya sebagai alasan yang di kemukakan
oleh laki-laki. hal ini di perparah dengan senidiko
dawuh nya perempuan atas persepsi yang telah di buat tersebut.
Terdapat
suatu kejadian yang agak membuat saya cukup tercengang. ada salah seorang teman
saya yang saya sangat yakin telah mendapatkan pendidikan Gender dan HAM pada
semester yang telah lalu. Tetapi ketika saya menyuruh teman laki-laki saya
untuk sekedar menumis sayur, beliau mengatakan bahwa saya terlalu kasar untuk
menyuruh teman laki-laki tersebut untuk menumis, hal itu sangat memalukan bagi
laki-laki tersebut, demikian katanya. padahal kami telah sama-sama tahu apa
yang telah di ajarkan kepada kami, tetapi beliau tetap menganut adat bahwa
“terlalu memalukan bagi laki-laki untuk memasak di dapur”. tetapi saat itu saya
tidak langsung menyerah, terlebih lagi ketika teman laki-laki saya tersebut
bersedia untuk mencoba melakukan pekerjaan rumah yang cukup mudah tersebut dan
dia tidak mempermasalahkannya.
Budaya
tersebut berangsur-angsur menghilang dengan adanya kesadaran di antara
laki-laki dan perempuan. Pasalnya laki-laki dan perempuan merasa sama-sama
memakan hasil dari masakan tersebut dan perlu adanya saling kerjasama di dalam
melakukan tanggung jawab tersebut, sehingga pada akhirnya laki-laki tidak hanya
terus-terusan mengambi air sedang perempuan terus-terusan memasak dan bahkan
mencuci perkakas yang telah selesai digunakan untuk memasak, tetapi juga dapat
melakukan hal lain yang pada awalnya tidak mau dilakukannya.
Meskipun
budaya tersebut terasa berangsur-angsur mulai menyusut didorong oleh rasa
saling menyadari kebutuhan tidak bisa hanya di kerjakan oleh laki-laki maupun
oleh perempuan. akan tetapi tetap saja ada satu atau dua kegiatan yang tetap
laki-laki lakukan sendiri tanpa keikutsertaan perempuan. misalnya ketika ada
kerja bakti perbaikan jalan dari desa Panggunguni ke desa Manding. Akan tetapi
untuk kegiatan kemasyarakatan lainnya seperti turut membantu masyarakat desa
untuk menanam padi atau jagung di sawah, atau lebih sering kami menyebutnya
sebagai ulur dan gejik. Hal ini memang sering kami lakukan bersama, baik laki-laki
maupun perempuan.
selain
itu kegiatan diskusi juga awalnya sangat sering kami lakukan. bahkan hampir
setiap malam. kami mencoba mengevalusi kembali hal-hal yang telah kami kerjakan
hari itu dan mencoba mencari masalah yang timbul di dalam masyarakat di desa
tempat kami KKN. akan tetapi kegiatan evaluasi itu sendiri menjadi semakin
jarang terjadi seiring dengan hari-hari yang telah kami lalui, dengan berbagai
alasan menolak untuk di lakukan evalusi. hal itu terjadi terutama dari pihak
perempuan. karena merasa bahwa evaluasi maupun sejenisnya kurang penting dan
kurang ada manfaatnya ketika di lakukan setiap hari.
Untuk
hal pendidikan, saya rasa tidak terdapat ketimpangan dalam pemilihan job kerja. karena baik laki-laki maupun
perempuan bersedia untuk mengajar di SD, TK, bahkan di playgrup. jadi sama
sekali tidak terjadi ketimpangan di dalam pendidikan.
Begitupula
di dalam bidang sosial budaya. Laki-laki dan perempuan turut serta untuk
mencari budaya-budaya yang mungkin berkembang di dalam masyarakat desa Panggunguni
Kecamatan Pucanglaban ini. akan tetapi di bidang sosial budaya ini ada sedikit
ketimpangan. pasalnya lebih sering perempuan yang mencari data-dat terkait
dengan budaya yang berkembang. Selain memang karena jumlah perempuan lebih
banyak daripada jumlah laki-laki di dalam divisi itu, tetapi juga karena
laki-laki selalu melakukan lebih banyak kegiatan di bandingkan perempuan.
terdapat
ketimpangan di dalam bidang Ekonomi. ketimpangan yang terjadi adalah, adanya
diskriminasi terhadap beberapa teman yang kurang mengerti atau kurang faham
akan bidang yang di ampunya. teman yang faham bukannya menjelaskan
langkah-langkah apa saja yang mungkin dapat di ambil di dalam kegiatan tersebut,
akan tetapi malah membuat teman yang kurang faham merasa tersisihkan, dengan
menggunakan kata-kata yang kurang dapat di mengerti. malah ada beberapa teman
yang mengatakan “percuma memiliki otak tapi tidak berfikir, hidup tapi mati”.
Kata-kata seperti itu tentu saja menimbulkan perasaan sakit hati pada teman
saya.
Di
divisi agama, tidak ada ketimpangan yang terjadi. semua melakukan tugasnya
masing-masing dengan sangat baik. mereka sama-sama mengajar TPA, turut mengajar
shalawatan yang rutin di lakukan setiap hari rabu.
Di
dalam berkelompok tentu saja ada ketidaksamaan pemikiran sehingga menimbulkan
ketimpangan-ketimpangan atau ketidaksetaraan gender dalam berbagai event
kegiatan. Akan tetapi hal itu selalu segera tertutupi dengan adanya kebersamaan
dalam mengerjakan setiap hal. Jadi kekurangan–kekurangan maupun
ketimpangan-ketimpangan yang ada nyaris tak terlihat.