Rabu, 25 Desember 2013

KKN Desa Panggunguni Kecamatan Pucanglaban Tulungagung Jawa Timur



Ketidaksetaraan Gender di dalam kelompok KKN desa Panggunguni Kecamatan Pucanglaban Tulungagung
penulis: Nurul Wakhidati
Kuliah Kerja Nyata atau biasa kami sebut KKN adalah salah satu program kuliah yang wajib kami program ketika kami memasuki semester 7. KKN ini dilakukan pada tanggal 11 Oktober 2013 sampai dengan tanggal 13 November 2013, atau tepatnya 32 hari kami menjalani masa KKN tersebut. dalam satu kelas kami hampir dapat di bagi rata 1 orang dalam satu desa. total desa yang menjadi tempat KKN kami adalah 16 desa, yang terletak di kecamatan Pucanglaban dan Kecamatan Tanggunggunung Tulungagung.
Dalam suatu kelompok, dengan berbagai karakter yang berbeda-beda, tentu saja sering menimbulkan ketimpangan-ketimpangan di dalam kelompok tersebut. kelompok tersebut dapat terjadi di dalam masyarakat, sekolah, maupun di dalam lingkup pertemanan.
salah satu yang akan saya bahas disini adalah ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di dalam kelompok KKN yang telah sukses kami lalui beberapa minggu yang lalu. di dalam kelompok KKN saya di Desa Panggunguni, tidak terlalu banyak terjadi ketimpangan-ketimpangan tersebut. saya hanya menemui beberapa jenis ketimpangan yang itu terjadi ketika kami masih awal atau kami baru akan memulai KKN tersebut.
Salah satu bentuk ketimpangan gender yang telah terjadi sejak awal adalah ketika diadakannya pemilihan ketua kelompok. beberapa anak mengusulkan salah seorang teman perempuan kami yang dianggap mampu untuk mengemban tugas sebagai ketua kelompok. dikatakan mampu, karena memang dia sangat cakap didalam berbagai hal, selain itu dia juga telah teruji ketika dia mampu mengampu sebagai pimpinan redaksi majalah Dimensi (Majalah kampus). akan tetapi hal yang di sayangkan adalah dia memilih untuk menolak harapan beberapa teman tersebut, dan mengatakan bahwa dirinya tidak mampu untuk mengemban tugas tersebut. Sedangkan beberapa teman lainnya mengatakan bahwa, memanng seharusnya pemimpin adalah seorang laki-laki. karena laki-laki lebih dianggap lebih mampu untuk mengatur jalannya suatu kelompok daripada perempuan. Budaya patriarki seperti inilah yang awalnya membentuk kelompok KKN kami.
selain itu, ketimpangan Gender yang terjadi di KKN wilayah Desa Panggunguni, seperti dalam hal memasak. Para kaum hawa ini mengatakan bahwa pekerjaan seperti mencari air ditempat yang tidak terlalu jauh dan bahkan perempuan pun mampu untuk melakukannya. Pekerjaan ini kemudian seluruhnya dibebankan sebagai tanggung jawab laki-laki untuk mencarinya dan membawanya ke dapur. Sedangkan setelah mengambil air tersebut, para laki-laki cenderung untuk nongkrong atau tidak mau melakukan apapun ketika para perempuan memasak. Ada saja alasannya, misalnya seperti memasak bukanlah pekerjaan bagi laki-laki, tidak pantas bagi laki-laki untuk memasak, dan lain sebagainya sebagai alasan yang di kemukakan oleh laki-laki. hal ini di perparah dengan senidiko dawuh nya perempuan atas persepsi yang telah di buat tersebut.
Terdapat suatu kejadian yang agak membuat saya cukup tercengang. ada salah seorang teman saya yang saya sangat yakin telah mendapatkan pendidikan Gender dan HAM pada semester yang telah lalu. Tetapi ketika saya menyuruh teman laki-laki saya untuk sekedar menumis sayur, beliau mengatakan bahwa saya terlalu kasar untuk menyuruh teman laki-laki tersebut untuk menumis, hal itu sangat memalukan bagi laki-laki tersebut, demikian katanya. padahal kami telah sama-sama tahu apa yang telah di ajarkan kepada kami, tetapi beliau tetap menganut adat bahwa “terlalu memalukan bagi laki-laki untuk memasak di dapur”. tetapi saat itu saya tidak langsung menyerah, terlebih lagi ketika teman laki-laki saya tersebut bersedia untuk mencoba melakukan pekerjaan rumah yang cukup mudah tersebut dan dia tidak mempermasalahkannya.
Budaya tersebut berangsur-angsur menghilang dengan adanya kesadaran di antara laki-laki dan perempuan. Pasalnya laki-laki dan perempuan merasa sama-sama memakan hasil dari masakan tersebut dan perlu adanya saling kerjasama di dalam melakukan tanggung jawab tersebut, sehingga pada akhirnya laki-laki tidak hanya terus-terusan mengambi air sedang perempuan terus-terusan memasak dan bahkan mencuci perkakas yang telah selesai digunakan untuk memasak, tetapi juga dapat melakukan hal lain yang pada awalnya tidak mau dilakukannya.
Meskipun budaya tersebut terasa berangsur-angsur mulai menyusut didorong oleh rasa saling menyadari kebutuhan tidak bisa hanya di kerjakan oleh laki-laki maupun oleh perempuan. akan tetapi tetap saja ada satu atau dua kegiatan yang tetap laki-laki lakukan sendiri tanpa keikutsertaan perempuan. misalnya ketika ada kerja bakti perbaikan jalan dari desa Panggunguni ke desa Manding. Akan tetapi untuk kegiatan kemasyarakatan lainnya seperti turut membantu masyarakat desa untuk menanam padi atau jagung di sawah, atau lebih sering kami menyebutnya sebagai ulur dan gejik. Hal ini memang sering kami lakukan bersama, baik laki-laki maupun perempuan.
selain itu kegiatan diskusi juga awalnya sangat sering kami lakukan. bahkan hampir setiap malam. kami mencoba mengevalusi kembali hal-hal yang telah kami kerjakan hari itu dan mencoba mencari masalah yang timbul di dalam masyarakat di desa tempat kami KKN. akan tetapi kegiatan evaluasi itu sendiri menjadi semakin jarang terjadi seiring dengan hari-hari yang telah kami lalui, dengan berbagai alasan menolak untuk di lakukan evalusi. hal itu terjadi terutama dari pihak perempuan. karena merasa bahwa evaluasi maupun sejenisnya kurang penting dan kurang ada manfaatnya ketika di lakukan setiap hari.
Untuk hal pendidikan, saya rasa tidak terdapat ketimpangan dalam pemilihan job kerja. karena baik laki-laki maupun perempuan bersedia untuk mengajar di SD, TK, bahkan di playgrup. jadi sama sekali tidak terjadi ketimpangan di dalam pendidikan.
Begitupula di dalam bidang sosial budaya. Laki-laki dan perempuan turut serta untuk mencari budaya-budaya yang mungkin berkembang di dalam masyarakat desa Panggunguni Kecamatan Pucanglaban ini. akan tetapi di bidang sosial budaya ini ada sedikit ketimpangan. pasalnya lebih sering perempuan yang mencari data-dat terkait dengan budaya yang berkembang. Selain memang karena jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki di dalam divisi itu, tetapi juga karena laki-laki selalu melakukan lebih banyak kegiatan di bandingkan perempuan.
terdapat ketimpangan di dalam bidang Ekonomi. ketimpangan yang terjadi adalah, adanya diskriminasi terhadap beberapa teman yang kurang mengerti atau kurang faham akan bidang yang di ampunya. teman yang faham bukannya menjelaskan langkah-langkah apa saja yang mungkin dapat di ambil di dalam kegiatan tersebut, akan tetapi malah membuat teman yang kurang faham merasa tersisihkan, dengan menggunakan kata-kata yang kurang dapat di mengerti. malah ada beberapa teman yang mengatakan “percuma memiliki otak tapi tidak berfikir, hidup tapi mati”. Kata-kata seperti itu tentu saja menimbulkan perasaan sakit hati pada teman saya.
Di divisi agama, tidak ada ketimpangan yang terjadi. semua melakukan tugasnya masing-masing dengan sangat baik. mereka sama-sama mengajar TPA, turut mengajar shalawatan yang rutin di lakukan setiap hari rabu.
Di dalam berkelompok tentu saja ada ketidaksamaan pemikiran sehingga menimbulkan ketimpangan-ketimpangan atau ketidaksetaraan gender dalam berbagai event kegiatan. Akan tetapi hal itu selalu segera tertutupi dengan adanya kebersamaan dalam mengerjakan setiap hal. Jadi kekurangan–kekurangan maupun ketimpangan-ketimpangan yang ada nyaris tak terlihat.