TULUNGAGUNG, 28 MAY
2013
Hari ini
benar-benar merupakan hari yang naas bagiku. Aku kecelakaan motor di daerah
Trenggalek kota. Waktu itu aku akan pergi ke Ponorogo, tempat dimana kawanku
dulu menuntut ilmu ketika di bangku SMA.
Sebelum berangkat, aku sebenarnya merasa ragu,
begitu juga dengan temanku. Entah
keraguan itu karena apa. Aku sempat berfikir untuk tetap kuliah sore ini.
karena memang sebenarnya akku harus kuliah sampai sore pada hari ini. Tapi aku
mencoba untuk menepis keraguan itu, dengan alasan aku benar-benar ingin pergi
ke ponorogo. Karena seumur hidup aku belum pernah bertandang ke kota reog itu.
akupun mencoba menguatkan niat.
Akhirnya
sekitar pukul 16:00 WIB, aku dan temanku berangkat naik motor menuju Ponorogo.
Saat di jalan, aku sms’an dengan teman sekelasku meme. Tapi melalui hp teman
seperjalanan ku ini. Namanya Hesti. Ketika sampai di perempatan lampu merah,
kami berhenti, karena saat itu memang lampu jalan sedang menunjukkan warna
berhenti. Kamipun berhenti sejenak untuk menunggu lampu lalu lintas berubah
warna. Saat lampu itu berubah hijau, temanku langsung meluncur dengan begitu
cepatnya. Dan saat itu aku sempat melihat ke arah kanan. Ada satu kendaraan
motor warna putih yang sama-sama matic, mencoba menerobos lampu lantas. Aku sudah
berfikir, “pasti aku akan ditabrak, pasti akan kecelakaan”. Aku hanya bisa
membatin tanpa bisa berteriak atau melakukan hal lain.
Dan benar saja,
sedetik kemudian, Braaakkkk.... aku merasa terdorong, motor kamipun ambruk. aku
benar-benar menjadi pihak yang tertabrak. Karena aku merasakan ban motor putih
itu mengenai kakiku. Aku tetap dalam kondisi sadar saat itu. hanya saja aku
tidak mampu untuk melakukan satu halpun. Jadilah aku hanya diam di pangkuan
temanku. Temanku benar-benar panik. Tentu saja, karena aku hanya diam tanpa
menjawab panggilannya. Aku sungguh mendengarnya, tapi aku begitu lelah untuk
menjawab panggilannya. Jadilah akku diam saja, sambil memejamkan mata. Berharap
bahwa ini semua hanya mimpi. Karena sekejap itu aku benar-benar tidak merasakan
sakit sedikipun. Hanya ada perasaan lelah....
Aku kembali
sadar ketika aku di seret oleh seorang laki-laki. Masih belum kurasakan sakit.
Hanya ada kesadaran yang lambat laun mulai kembali, dan aku membuka mata
kembali karena tersadar, bahwa ini semua bukan mimpi, ini nyata. Dan aku berada
di tengah-tengah jalan raya. Akupun segera dapat duduk dengan tegap, dan aku
mulai melihat luka-lukaku... tidak parah, hanya goresan di dengkul, tulang
kering, dan di dekat jari-jari kaki kananku. Sebelum kau tahu, ternyata ada
satu luka yang cukup lebar didakat mata kakiku. Masih belum terasa sakit. Hanya
aku merasa kembali berkunang-kunang. Tak ku dengarkan orang-orang berbicara
mengenai kecelakaan itu. tak ku pedulikan si penabrak yang menyangkal
kesalahannya,tak ku perhatikan temanku yang mati-matian mengatakan bahwa kami
telah melihat lampu hijau. Aku tetap hanya memandangi luka-lukaku. Aku mencoba
untuk sedikit membersihkan luka di dekat mata kaki. Aku sadari bahwa itu luka
yang cukup dalam. Karena saat itu terlihat sesuatu yang putih. Entah itu tulang
ku atau apa, aku kurang tahu. Dan tiba-tiba orang yang menolongku tapi bilang,
“wah,,, sepertinya luka ini cukup dalam, operasi ini..” . aku benar-benar syok,
dan rasanya pengen nangis ketika dengar kata operasi. Oh.. ayolah... aku takut
jarum suntik. Apalagi operasi, di jahit pasti. Dalam sekejap rasanya naywaku
melayang entah kemana. Aku jadi takut untuk pergi ke Rumah Sakit.
Temanku yang
merasa cemas padaku, segera menaikkan ku ke motor. Aku tidak kuat lagi untuk
berjalan. Masih belum terasa sakit, hanya saja, kaki ini tidak kuat lagi untuk
menumpu tubuhku yang cukup berat untuk beban kaki yang sakit ini. Dengan
tertatih-tatih dan bantuan orang-orang, aku mampu untuk menaiki motor temanku.
Dan temanku segera melajukan motornya ke tempat dokter di lingkungan sekitar.
Tentu saja si penabrak berada di depan sebagai penunjuk jalan ke rumah dokter
tersebut, karena kami tidak mengenal daerah itu, dan juga karena dia harus
bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpaku. Karena itu adalah
salahnya...!!!
Setibanya di
tempat seorang (katanya) dokter. Akupun turun. Dan dengan tertatih-tatih, aku
mencoba untuk mengikuti jalan si penabrak, tentu saja dengan temanku yang
membantuku berjalan. Aku merasa lemas kembali. Keinginan ku hanya satu hal saat
itu. istirahat.. tapi harapan itu musnah
seiring dengan perginya pak dokter kesuatu tempat. Kamipun segera mencari
dokter lain. Si ibu penabrak itu terus saja mencoba berputar-putar dan kami
mengikutinya. Aku sungguh tidak mampu lagi untuk terus dalam kesadaranku. Aku
mulai lemah kembali. Dan saat aku berputar-putar tadi, aku melihat ada plang
menunjukkan rumah seorang dokter. Aku memintanya untuk kembali ke tempat itu.
tapi si ibu penabrak ngeyel kalau disitu tidak ada seorang dokterpun. Aku tidak
peduli lagi dengan ibu-ibu itu. aku segera meminta temanku untuk putar balik
dan menuju ke tempat dokter itu berada. Danbenar saja, itu adalah ruah praktek
seorang dokter (baru katanya..). akmipun masuk, tidak lama aku berada di dalam
rumah tersebut, kemudian aku diajak untuk mengikutinya ke Rumah Sakit swasta di
kota tersebut. Akupun hanya mengikutinya saja. Karena yang aku butuhkan
hanyalah istirahat.
Dan sampai di
rumah sakit tersebut, aku langsung di suruh tidur di tempat tidur. Dan kakiku
pun segera dilihat. Tiba-tiba beberapa dokter dan perawat berjalan mendekatiku,
sambil membawa alkohol dan alat suntik. Aku yang tadinya pucat pasi karena
hampir pingsan, sekarang aku kembali pucat karena melihat betapa jarum suntik
itu nanti akan dipergunakan untuk ku. Aku pun segera bertanya, “aku mau
disuntik bu,?” dan jawabannya, “iya.. ini obat bius, karena kaki kamu harus
dijahit..”.”ha...????” rasanya nyawaku rontok saat itu juga. “anu bu, gak usah
di jahit, di hansaplas saja ya.. palingan juga cepet sembuh,” kataku mengiba,
dan jawaban dokter adalah,” tidak bisa, luka kamu cukup dalam, kalau tidak di
jahit nanti bisa infeksi, dan memungkinkan kaki kamu untuk di amputasi,,”.
Amputasi..? serem kan dengernya. Aku mencoba menguatkan diri untuk di suntik,
tapi aku takut, dan aku mulai menangis karenanya. “ jangan di suntik bu..” kata
ku sambil menangis, tapi dokter itu terus menerus menekanku untuk menyuntikku.
Aku tanya lagi, “kaki ku yang mau di suntik bu,?”, “yaiyalah, memang dimana..?”
aku berharap itu adalah bius total, tetapi nyatanya, itu hanya bius lokal yang
bikin aku tambah frustasi. Di satu pihak, berat rasanya menyerahkan kakiku
untuk di suntik, tapi dipihak lain, aku tidak mau amputasi. Akuun mencoba
menyerah, aku melonggarkan kakiku, dan ketika kaki ku di pegang oleh pere
perawat, aku kembali mengambilnya, aku tanpa malu, benar-benar menangis saat
itu juga. Beberapa orang mencoba mendekatiku, dan melihat apa yang terjadi
denganku. Mungkin mereka mengira ada kejadian besar yang menimpaku, misalnya
aku divonis mati hari ini, atau hal buruk lain. Dan mereka tertawa ketika
melihat aku menangis keras sambil teriak-teriak seperti orang gila dan ternyata
hanya karena takut pada jarum suntik.
Parah... aku
malu tapi aku tidak peduli. Aku kembali mencoba menguatkan diriku, aku kemudian
memeluk temanku untuk meredakan rasa sakit dan takutku. Dan akhirnya para
dokter berhasil membius kakiku. Tapi temanku jadi sasaran kekejamanku. Sampai
dia yang hampir pingsan karena aku memeluknya terlalu erat di perutnya.
Gomenasai.... aku bukan aku kalau liat jarum suntik.. :P
Rasanya
sakit... waktu jarum suntik menembus kaki, juga obatnya gak kalah sakit. Aku
gak berhenti menangis. Sampai temenku keceplosan bilang, “anak pencak kok takut
suntik...” hah...??? plis deh.. anak pencak juga manusia, tetep ada yang bikin
takut. Hhhh... tapi sejujurnya aku agak malu saat itu, jadi aku diam, tetap
memeluk temanku sekuat yang aku bisa, dan tetap menangis. Meski di bius,
ternyata masih kerasa lo, waktu di bersihkan, waktu di jahit, dan ada beberapa
tempat yang tidak terkena obat bius, tetapi tetap perlu untuk dijahit. Jadilah
kerasa banget perihnya...
Setelah semua
selesai, tempat perlu untuk di sterilkan, nyawaku sudah terkumpul semua, akupun
disuruh duduk, aku mulai bisa tersenyum, dan temanku mengurus admin.a...
beberapa perawat tersenyum mengejek ketika melihatku senyam-senyum malu.
Tiba-tiba aku di tanya, “ benar kamu ikutan pencak,”. “ tidak kok pak,”. Aku
mengelak kebenaran, :P.
aku tidak bawa uang cash waktu itu, hanya ada
50 ribu di dompet ku. Akhirnya pacar temenku, aku mintai tolong untuk
mengambilkannya di atm. Aku dan temanku yang terlibat kecelakaan menanggung
bersama biayanya, karena orang yang menabrakku melarikan diri entah kemana.
Urusan selesai, dan kami di perbolehkan untuk pulang. Padahal kemarin aku baru
saja hura-hura, kenapa sekarang jadi terluka..?? LAku
pulang di gandeng oleh pacar temanku itu. di perjalanan, baru terasa sakit. Aku
sebenarnya agak malu, karena celanaku harus kusingsingkan sampai atas lutut. Mau
gimana lagi, lututku juga terluka, meskipun tidak separah yang dimata kaki. Dan
beginilah jadinya kakiku saat ini...





Tidak ada komentar:
Posting Komentar