Kamis, 07 Agustus 2014

Sejagat Kerinduanku padamu mak....



 
 “Assalamu’alaikum.. Mak aku pulang..” Desisku pada kesunyian dan kehampaan rumahku. Seseorang yang seharusnya menjawab salam ku itu kini tiada lagi. Tangan-tangan Tuhan berupa gagal ginjal telah merenggutnya dariku untuk selamanya.
          Lembut ku kenang, kasihmu ibu
Didalam hati ku kini menanggung rindu
Engkau tabur kasih seumur masa
Bergetar syahdu oh didalam hatiku”
Terdengar merdu suara seorang pelantun lagu dari radio hp Bapakku. Begitu syahdu sekaligus begitu menyayat hatiku. Bertambahlah pula kerinduanku terhadapnya. Tak sedetikpun berlalu tanpa penyesalan. Menyesal untuk tak mendengarkan nasihatnya, untuk tak mematuhi kata-katanya, untuk berkata tak merindukan seseorang selain adikku, untuk tak menjaga perasaannya, untuk membuatnya kecewa, untuk segala kesalahan yang pernah aku lakukan terhadapnya.
Kadang terlintas dalam benakku yang tumpul doa-doa putus asa. “Tuhan... Aku tahu Kau adil, kumohon tunjukkan keadilan-Mu, pertemukan aku, kumpulkanlah aku dengan mamakku sekarang. Aku merindukannya Tuhan.”
Baru kali ini aku merasa kehilangan yang maha dahsyat. Begitu menyakitkan, hingga membuat semuanya terasa buram dimataku. Air mata tak pernah bisa berhenti ketika merindukannya dan menginginkan dia disampingku, lagi dan lagi...
***

Hari kamis tiba, ibuku mengajar di sebuah sekolah SMP swasta di desa kami tiba-tiba dia menghampiriku. “nurul... Hari sabtu mamak jemput ya...? Kamu mau pulang kan..?” Kata ibuku sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum sambil menjawab “iya mak...”. Dan kemudian tawa kanak-kanakku terurai. Hingga sabtu siang yang terik pulang sekolah, aku menunggunya untuk menjemputku seperti yang telah dijanjikannya.
Flashback yang membahagiakan sekaligus menyakitkan. Semua sering kali berputar-putar dalam memori ku. Amnesia...itu yang aku butuhkan dan harapkan kini. Hilangkan semua kenangan yang begitu menyakitkan, hilangkan semua rasa lelah yang datang silih berganti. Sebenarnya itu akan mudah jika Dia yang melakukan.
“nurul... Hari sabtu pulang...?” Tanya seorang temanku. Aku tercekat dengan pertanyaannya. Bagai flashback yang kembali terputar dalam ingatanku. Aku terdiam untuk sejenak sebelum akhirnya aku mengulas sebuah senyum. “iya...” Sebuah jawaban simpel itupun akhirnya terucap dari bibirku yang membeku untuk sepersekian detik. Akupun mencoba mengalihkan pikiran-pikiran menyakitkan itu dengan membaca komik yang aku pinjam dari rental yang tak jauh dari sekolahku.
Sekolah usai, saatnya kembali ke rumah kos ku yang hanya berjarak beberapa langkah dari sekolahanku. Tetapi seperti kebiasaan, tidak langsung pulang, tetapi mampir ke rental book langganananku.
***
Sore yang sejuk, di bawah pohon mangga pinggir sawah. Disinilah aku kini. Semilir angin yang seharusnya begitu menenangkan, justru kembali membuat mata ku berair. Bukan karena angin terlalu kencang bertiup, tetapi hati ini yang kembali mengenang seseorang yang begitu ku cintai.
Kembali kata-kata putus asa keluar dari mulut bodoh ini dengan lancarnya. “kenapa bukan aku saja? Kenapa harus aku yang merasakan kehilangan?” Lelehan air mata kini semakin tak terbendung. Teringat akan do’a-do’a egois yang selalu ku panjatkan sebelum kepergiannya. “Tuhan, jangan biarkan aku merasa kehilangan siapapun yang berharga untukku. Aku mohon jangan biarkan aku melihat kematian menimpa orang-orang terkasihku, biarkan aku tersenyum melihat mereka yang kehilangan diriku”. Apapun itu, aku selalu di kalahkan oleh takdir yang telah di gariskan oleh Pembuat Hidup. Tak terbantahkan, itulah takdir-Nya.
Segala kenangan manis itu semakin meracuni otakku. Benar-benar membuat jiwaku hampir gila menanggungnya. Kenangan ketika kami bertiga berebut tempat tidur, ketika kami makan bersama, ketika kami memasak bersama. Dan satu kenangan yang hampir mematikanku, satu makhluk berwarna hampir biru,dengan kain putih bersih di sekujur tubuhnya, begitu kontras dengan manusia di dalamnya.aku tak pernah sekalipun mempercayai itu dia.
“bukan, itu bukan dia”. Fikiranku menampik kenyataan yang begitu mengerikan tersebut. Hatiku berusaha untuk turut mempercayai apa yang ku fikirkan,tapi rupanya dia lebih dapat berkata jujur. ”iya, itu benar dia”.
Gelap. Saat itu aku merasa gelap. Tetapi itu hanya sebentar saja. Kakiku membeku, tubuhku ngilu, hatiku hancur, dan orang-orang mengatakan, ”yang sabar ya rul...” Aku benci kata-kata itu, hari ketika dia meninggalkanku, sekarang bahkan selamanya. Hari ketika semua orang menyuruhku bersabar, hari ketika semua orang mengasihaniku, hari ketika separuh nyawaku turut melayang bersama dengan jasad kaku itu. aku tak mampu berkata-kata selain “mamak.....”. Semua kini hanya kenangan yang setiap saat mampu untuk mencabik perasaan ku yang semakin lara ini, sambil menyalahkan Pembuat Hidup. “kenapa bukan ibu orang lain saja yang Kau ambil?, kenapa harus ibuku yang Kau ambil?, kenapa bukan ibu mereka yang sama sekali tidak disayang anaknya?. kenapa Kau memilih ibuku?”. kembali rutukan itu terdengar nyaring di hatiku.
Tak ingin terlarut lebih dalam, aku segera beranjak berpaling dari rerumputan hijau itu. Tidak ada yang bisa disesali. semuanya telah berakhir. Dan aku akan membiarkan dirikku yang hidup ini untuk meneruskan ceritanya, sambil menunggu giliran untuk kembali juga kepada-Nya. entah kapan itu akan datang. Aku akan tetap menunggu dengan sabar. Menunggu untuk kembali bertemu dengannya. Semoga........
*** FINISH ***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar