“Assalamu’alaikum.. Mak aku pulang..” Desisku pada
kesunyian dan kehampaan rumahku. Seseorang yang seharusnya menjawab salam ku
itu kini tiada lagi. Tangan-tangan Tuhan berupa gagal ginjal telah merenggutnya
dariku untuk selamanya.
“Lembut
ku kenang, kasihmu ibu
Didalam hati ku kini menanggung
rindu
Engkau tabur kasih seumur masa
Bergetar syahdu oh didalam
hatiku”
Terdengar
merdu suara seorang pelantun lagu dari radio hp Bapakku. Begitu syahdu sekaligus
begitu menyayat hatiku. Bertambahlah pula kerinduanku terhadapnya. Tak
sedetikpun berlalu tanpa penyesalan. Menyesal untuk tak mendengarkan
nasihatnya, untuk tak mematuhi kata-katanya, untuk berkata tak merindukan
seseorang selain adikku, untuk tak menjaga perasaannya, untuk membuatnya
kecewa, untuk segala kesalahan yang pernah aku lakukan terhadapnya.
Kadang
terlintas dalam benakku yang tumpul doa-doa putus asa. “Tuhan... Aku tahu Kau adil,
kumohon tunjukkan keadilan-Mu, pertemukan aku, kumpulkanlah aku dengan mamakku
sekarang. Aku merindukannya Tuhan.”
Baru
kali ini aku merasa kehilangan yang maha dahsyat. Begitu menyakitkan, hingga
membuat semuanya terasa buram dimataku. Air mata tak pernah bisa berhenti
ketika merindukannya dan menginginkan dia disampingku, lagi dan lagi...
***
Hari
kamis tiba, ibuku mengajar di sebuah sekolah SMP swasta di desa kami tiba-tiba
dia menghampiriku. “nurul... Hari sabtu mamak jemput ya...? Kamu mau pulang
kan..?” Kata ibuku sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum sambil menjawab
“iya mak...”. Dan kemudian tawa kanak-kanakku terurai. Hingga sabtu siang yang
terik pulang sekolah, aku menunggunya untuk menjemputku seperti yang telah
dijanjikannya.
Flashback yang
membahagiakan sekaligus menyakitkan. Semua sering kali berputar-putar dalam
memori ku. Amnesia...itu yang aku
butuhkan dan harapkan kini. Hilangkan semua kenangan yang begitu menyakitkan,
hilangkan semua rasa lelah yang datang silih berganti. Sebenarnya itu akan
mudah jika Dia yang melakukan.
“nurul...
Hari sabtu pulang...?” Tanya seorang temanku. Aku tercekat dengan
pertanyaannya. Bagai flashback yang
kembali terputar dalam ingatanku. Aku terdiam untuk sejenak sebelum akhirnya
aku mengulas sebuah senyum. “iya...” Sebuah jawaban simpel itupun akhirnya
terucap dari bibirku yang membeku untuk sepersekian detik. Akupun mencoba
mengalihkan pikiran-pikiran menyakitkan itu dengan membaca komik yang aku
pinjam dari rental yang tak jauh dari sekolahku.
Sekolah
usai, saatnya kembali ke rumah kos ku yang hanya berjarak beberapa langkah dari
sekolahanku. Tetapi seperti kebiasaan, tidak langsung pulang, tetapi mampir ke
rental book langganananku.
***
Sore
yang sejuk, di bawah pohon mangga pinggir sawah. Disinilah aku kini. Semilir angin
yang seharusnya begitu menenangkan, justru kembali membuat mata ku berair. Bukan
karena angin terlalu kencang bertiup, tetapi hati ini yang kembali mengenang
seseorang yang begitu ku cintai.
Kembali
kata-kata putus asa keluar dari mulut bodoh ini dengan lancarnya. “kenapa bukan
aku saja? Kenapa harus aku yang merasakan kehilangan?” Lelehan air mata kini
semakin tak terbendung. Teringat akan do’a-do’a egois yang selalu ku panjatkan
sebelum kepergiannya. “Tuhan, jangan biarkan aku merasa kehilangan siapapun
yang berharga untukku. Aku mohon jangan biarkan aku melihat kematian menimpa
orang-orang terkasihku, biarkan aku tersenyum melihat mereka yang kehilangan
diriku”. Apapun itu, aku selalu di kalahkan oleh takdir yang telah di gariskan oleh
Pembuat Hidup. Tak terbantahkan, itulah takdir-Nya.
Segala
kenangan manis itu semakin meracuni otakku. Benar-benar membuat jiwaku hampir
gila menanggungnya. Kenangan ketika kami bertiga berebut tempat tidur, ketika
kami makan bersama, ketika kami memasak bersama. Dan satu kenangan yang hampir
mematikanku, satu makhluk berwarna hampir biru,dengan kain putih bersih di
sekujur tubuhnya, begitu kontras dengan manusia di dalamnya.aku tak pernah
sekalipun mempercayai itu dia.
“bukan,
itu bukan dia”. Fikiranku menampik kenyataan yang begitu mengerikan tersebut. Hatiku
berusaha untuk turut mempercayai apa yang ku fikirkan,tapi rupanya dia lebih
dapat berkata jujur. ”iya, itu benar dia”.
Gelap.
Saat itu aku merasa gelap. Tetapi itu hanya sebentar saja. Kakiku membeku,
tubuhku ngilu, hatiku hancur, dan orang-orang mengatakan, ”yang sabar ya
rul...” Aku benci kata-kata itu, hari ketika dia meninggalkanku, sekarang
bahkan selamanya. Hari ketika semua orang menyuruhku bersabar, hari ketika
semua orang mengasihaniku, hari ketika separuh nyawaku turut melayang bersama
dengan jasad kaku itu. aku tak mampu berkata-kata selain “mamak.....”. Semua
kini hanya kenangan yang setiap saat mampu untuk mencabik perasaan ku yang
semakin lara ini, sambil menyalahkan Pembuat Hidup. “kenapa bukan ibu orang
lain saja yang Kau ambil?, kenapa harus ibuku yang Kau ambil?, kenapa bukan ibu
mereka yang sama sekali tidak disayang anaknya?. kenapa Kau memilih ibuku?”.
kembali rutukan itu terdengar nyaring di hatiku.
Tak
ingin terlarut lebih dalam, aku segera beranjak berpaling dari rerumputan hijau
itu. Tidak ada yang bisa disesali. semuanya telah berakhir. Dan aku akan
membiarkan dirikku yang hidup ini untuk meneruskan ceritanya, sambil menunggu
giliran untuk kembali juga kepada-Nya. entah kapan itu akan datang. Aku akan
tetap menunggu dengan sabar. Menunggu untuk kembali bertemu dengannya.
Semoga........
***
FINISH ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar