Chapter 1
Apa benar, bahwa cinta itu tak harus selalu
memiliki...?
Tetapi untuk mencintai seseorang, mengapa harus
sesakit ini...?
“Hahahaha... yha... yukimura kenshin... Jangan
seperti itu terus, aku tidak bisa berhenti tertawa. Hahaha... sudah, jangan
lanjutkan lagi... hahaha...” tawa renyah seorang gadis cantik bernama yamanaka
chika tersebut dengan tanpa malu-malu.
“hahahha... aku tidak menyuruhmu tertawa
chika-chan. Berhenti tertawa atau aku akan menggelitikimu terus?”. Bentak
laki-laki muda yang diketahui bernama yukimura kenshin itu dengan tawa yang
terus terpancar di bibirnya.
“ken-kun, kau akan mati kalau tidak mau
berhenti. Hahaha... Aku yang akan membunuhmu... haahhaha... ken-kun, kumohon
berhenti... perutku sakit... hahahaha....”. mencak chika tak kalah garang.
“iee..........” kenshin malah justru memeletkan
lidahnya.
“ken-kun...” teriak chika.
Klunthing,,,, nada sms dari handphone salah
satu dari dua orang tersebut akhirnya mampu menghentikan kegiatan mereka.
“sebentar...”. ucap ken sambil segera melihat
ke arah hanphonenya.
Tidak ada ekspresi yang nampak dari wajahnya.
Ken hanya segera membalas sms yang masuk di handphonenya dan segera memasukkannya
kembali ke dalam saku jaketnya kembali.
Gelak tawa yang tadi terjadi tidak lagi
diteruskan. Berganti dengan wajah serius ken dan wajah penasaran milik chika.
“siapa? Ada apa ken-kun?”. Tanya chika ingin
tahu.
“Oh? bukan siapa-siapa. Aku pulang dulu ya?.
Besok aku kesini lagi”. Ucap ken hati-hati.
“hai’. Hati-hati dijalan. Jangan nabrak semut
berbaris. Kasihan tahu...”. canda chika
“wah, gila ni anak, mereka kan sudah ada
polisinya sendiri. Gak mungkin ketabraklah...” balas ken semakin ngawur.
“bye...”
“bye...” diakhiri dengan usapan halus dikepala
chika dan sentuhan lembut di pipinya. Setelah itu ken berlalu dari hadapan
chika.
^_^ Takishida ^_^
Chika point of view
Heh... lelah. Sangat lelah. Setelah tertawa
begitu keras. Semua terasa menyenangkan. Tapi setelah sms itu datang semuanya
sirna.
Itu pasti
sms dari sachi. Sachi... kapan kamu akan menyerah pada ken dan membiarkannya
menjadi milikku saja?. aku sangat mencintainya, kumohon lepaskan dia untukku.
Selalu saja pikiran itu yang berkecamuk nyata
dalam memori otakku yang dangkal ini. Sungguh rasa suka dan cinta padanya membuatku
buta atas segalanya.
Nasehat teman-teman hanya bagai angin lalu
bagiku. Tidak ada kata yang lebih sempurna selain aku mencintainya.
Oh ayolah, cinta ini benar-benar membuatku
menjadi gila. Tapi mencintainya, apa itu kesalahan yang aku inginkan? Tentu
bukan. Jika aku mampu, aku juga ingin menghilang darinya, dari pesona cintanya.
Tapi aku tak bisa.
Setiap kali dia berubah sifat, menjadi pendiam
seakan tak peduli denganku, aku yang kebingungan. Saat dia butuh sesuatu, aku
ingin selalu disampingnya dan memberi segala yang kupunya. Apa ini salah?
Satu kesalahan fatal yang takdir ini berikan
pada kami adalah dia memiliki sachi. Gadis cantik pilihan hatinya jauh sebelum
bertemu denganku. Mau tidak mau membuatku berfikir aku hanyalah sampingan.
Jika ini adalah masa kerajaan, mungkin aku
adalah salah satu selir yang dicintainya. Tapi benarkah dia mencintaiku?.
Setidaknya selir benar-benar milik sang raja, sedang aku? Aku tergantung di
pohon cintanya yang tinggi.
Satu do’aku di setiap ibadahku, “aku harap sachi
dan ken segera berpisah dan ken menjadi milikku seutuhnya”.
Tentu tidak berlebihan dan egois bukan?.
Setidaknya aku ingin memiliki status yang jelas dan memilikinya seutuhnya
meskipun hanya 1 jam dalam seluruh waktu di hidupku.
Sudahlah. Untuk saat ini, biarlah gelar sahabat
terdekat tetap melekat di diriku. Yang penting aku masih bisa bersenda gurau
dengannya.
Chika POV end
^_^ Takishida ^_^
“ken,
kamu kenapa? Kok diam aja?” sapa chika pagi itu saat menyadari raut tak biasa
diwajah ken.
“ie, daijobu desu.” Balasnya tak semangat.
“ada apa? Kamu aneh.” Sekali lagi chika
bertanya.
“sudahlah, ayo masuk, dosennya sudah datang
itu”. Ajak ken tiba-tiba. Jelas-jelas dia mengalihkan topik pembicaraan pagi
ini.
Dengan wajah yang masih bertanya-tanya, chika
pun akhirnya bergerak dari tempatnya.
^_^ Takishida ^_^
“ken,
ayo ikut mereka ke taman. Disana bunga tulipnya sedang mekar. Pasti indah
sekali”. Ajak chika setelah keluar dari ruang kelas yang dianggapnya luar biasa
membosankan itu.
“gomen, hari ini aku tidak bisa. Ada acara
keluarga”. Jawab ken dengan wajah menyesal yang dibuat-buat.
Tak ada kata menyerah untuk chika. “oh,
bagaimana kalau besok ke tokyo tower?. Perkiraan cuaca untuk besok luar biasa
bagus”.
“baiklah, tapi kalau tidak capek ya...?” sekali
lagi jawaban ken membuat chika semakin curiga dengannya.
“ken kamu kenapa sih?” kecurigaan chika tak
mampu lagi dibendungnya.
“kenapa?, aku tidak apa-apa. Aku pulang dulu
ya?. Keluargaku sudah sms. Guys, aku duluan.” Ucap ken tanpa mau berlama-lama.
“oke...” jawab mereka serentak
“chik, ken mau kemana?” tanya frins, salah satu
sahabatku yang berasal dari itali itu.
“entahlah, dia bilang ada acara keluarga”.
Wajah murung chika mulai tidak bisa disembunyikannya.
“oh... aku kira kalian sedang bertengkar”.
“ie...”
^_^ Takishida ^_^
Senja terlihat memerah di ufuk sana. Cahaya
matahari yang semakin meredup menandakan sang malam segera menghampiri.
Mendung diwajah chika terlihat turut
menggantung. Tak seperti biasanya, tak ada tawa, bahkan senyuman.
“ada apa chik...? wajahmu jelek banget kalau
seperti itu?”. tanya salah satu sahabat kos chika.
“daijobu desu”. Jawabnya dengan suara serak
yang kentara jelas.
“ada apa?. Ada masalah dengan ken?” sekali lagi
sahabatnya bertanya. Bukan karena terlalu ingin tahu, tetapi setidaknya ingin
turut meringankan pikiran sahabatnya itu.
“tidak ada, aku baik-baik saja...” jawaban yang
sama dengan yang sebelumnya. Hanya saja wajahnya lebih mendung dari sebelumnya.
“ken berubah lagi sikapnya?”. Tanya sahabatnya
yang lain.
“iya, dia tiba-tiba menghindar dariku. Sikapnya
lagi-lagi dingin padaku. Sebenarnya kesalahan apa lagi yang ku lakukan?.
Kemarin kami baik-baik saja, tapi hari ini...” tak mampu lagi melanjutkan
kata-katanya. Air mata chika justru berlomba ingin keluar dari peraduannya.
“memang ada apa sebelumnya?. Lagipula dia itu
punya kekasih. Tinggalkan saja dirinya dan dapatkan yang baru, yang lebih baik
darinya”. Nasehat sahabatnya itu untuk yang kesekian kalinya.
“bagaimana aku bisa meninggalkannya?. Aku
terlalu sayang padanya. Aku terlalu mencintainya. Apa yang harus aku lakukan?.
Aku benar-benar bingung sekarang ra”. Ucapnya lagi putus asa.
“entahlah, kamu sudah terlanjur seperti ini
begitu lama chik. 2 tahun itu bukanlah waktu yang sebentar. Apa kamu tidak
memiliki perasaan jenuh pada ken?. Dia bahkan seperti tak menganggapmu ada”.
“entahlah, aku juga bingung ra...”.
“semoga semuanya dapat membaik segera. Siapa
tahu dia nantinya akan menjadi milikmu karena kesabaranmu selama ini”.
“aku juga berharap begitu”.
To Be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar