Yes,
I DID
By
Takumi
=Prolog=
Hari
ini adalah minggu ke dua dari bulan kedua. Musim hujan masih turun dengan
intensitas yang cukup mengerikan. Beberapa pohon tumbang karena angin kencang
yang datang bersama derasnya air dari langit. Beberapa wilayah terendam banjir
bla... blaa... bla...
Sudahlah
mari berhenti membicarakan hal luar biasa yang kini nampak wajar itu.
Mari
kita menengok gadis berjilbab marun yang nampak berdiri dengan wajah yang
ditengadahkan kelangit gelap itu. Tetesannya mengenai wajahnya yang mulus.
“Rii...
Kamu bisa kedinginan...” Sebuah suara dan payung warna pelangi, menginterupsi
kegiatannya yang –anggaplah- sedikit gila itu. Bibirnya sudah membiru
menandakan bahwa memang “iya”, dia mulai kedinginan.
“Rin,
Aku...” Suaranya bergetar, tapi senyumnya masih terlihat. “Ayo kita pulang. Kau
bodoh. Selalu bodoh.” Keluh suara itu sedikit kesal. Ditariknya lengan itu
sedikit keras, bahkan itu cukup membuat yang ditarik mengernyit tertahan.
-Yes,
I DID-
Rambut
pendeknya dibiarkan basah. Tidak ada usaha pemiliknya untuk sedikit
mengeringkannya dengan handuk yang terkalung dilehernya.
Kaos
putih polos dan juga celana hitam selutut dikenakannya. Jemarinya yang lentik
dengan telaten memetik senar gitar berwarna transparan itu pelan penuh penghayatan.
“Dulu
pernah ada cinta... Dulu pernah ada sayang... Namun kini tiada lagi perasaan
seperti dulu...” Senandungnya pelan dengan suaranya yang dalam. Matanya terus
terpejam.
‘Ckrekk.’
Bunyi pintu terbuka membuat pemilik manik cokelat terang itu sedikit
terperanjat. “Boby...” Ucap sosok yang sedikit nampak dari balik pintu itu.
Suaranya terdengar tak yakin.
Sosok
yang dipanggil boby itu nampak tersenyum lembut. “Kemarilah rin.” Pintanya.
Tangannya segera meletakkan gitar yang sejak tadi terus menemaninya itu.
“Butuh
sesuatu?.” Tanya boby lagi pelan.
“Ehm...
Tadinya iya. Tapi aku rasa tidak. Atau mungkin belum. Ah... Begitulah..” Cicit
gadis yang dipanggil rin itu nampak jelas bingung.
“Kau
selalu nampak lucu.” Kekeh boby kalem. Dia kembali mengambil gitarnya yang
berwarna merah hitam itu. Tak lupa disambutnya buku kecil berisi kumpulan lagu
lengkap dengan kunci gitarnya. “Ingin mendengarkan sebuah lagu?.” Lanjut boby
sembari melirik ke arah rin.
“Ehm...
Aku rasa, boleh juga.” Masih dengan nada yang terbata. Bobypun kemudian memulai
kembali petikannya. Sebuah lagu kembali disenandungkan dengan suara dan
penghayatannya yang dalam.
“Ku
‘tlah miliki, rasa indahnya perihku... Rasa hancurnya harapku...”
-Yes,
I DID-
“Rin...
Bangun. Sudah siang. Kita kan ada jam kuliah.” Sebuah suara berhasil merasuk ke
sela kesadaran rin.
“Narumi...?”
Suara serak rin terdengar tak nyaman ditelinga.
“Hm...
Ayolah. Kamu payah. Kamu bangun kalah pagi dariku.” Kekeh sosok yang dipanggil
narumi itu sambil mengguncang tubuh rin ganas.
“Berisik...
Hentikan tingkahmu narumi. Atau aku akan...” Belum juga selesai berucap, narumi
sudah menanggapi. “Atau apa...?” Tanyanya sembari melempari sahabatnya itu
dengan guling hijau kesayangannya.
“Atau
aku akan mengatakan bahwa kamu...”
-To
Be Continued-
RnR?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar