Sabtu, 06 Februari 2016

Yes, I DID



Yes, I DID
By Takumi
=Prolog=

Hari ini adalah minggu ke dua dari bulan kedua. Musim hujan masih turun dengan intensitas yang cukup mengerikan. Beberapa pohon tumbang karena angin kencang yang datang bersama derasnya air dari langit. Beberapa wilayah terendam banjir bla... blaa... bla...
Sudahlah mari berhenti membicarakan hal luar biasa yang kini nampak wajar itu.
Mari kita menengok gadis berjilbab marun yang nampak berdiri dengan wajah yang ditengadahkan kelangit gelap itu. Tetesannya mengenai wajahnya yang mulus.
“Rii... Kamu bisa kedinginan...” Sebuah suara dan payung warna pelangi, menginterupsi kegiatannya yang –anggaplah- sedikit gila itu. Bibirnya sudah membiru menandakan bahwa memang “iya”, dia mulai kedinginan.
“Rin, Aku...” Suaranya bergetar, tapi senyumnya masih terlihat. “Ayo kita pulang. Kau bodoh. Selalu bodoh.” Keluh suara itu sedikit kesal. Ditariknya lengan itu sedikit keras, bahkan itu cukup membuat yang ditarik mengernyit tertahan.
-Yes, I DID-
Rambut pendeknya dibiarkan basah. Tidak ada usaha pemiliknya untuk sedikit mengeringkannya dengan handuk yang terkalung dilehernya.
Kaos putih polos dan juga celana hitam selutut dikenakannya. Jemarinya yang lentik dengan telaten memetik senar gitar berwarna transparan itu pelan penuh penghayatan.
“Dulu pernah ada cinta... Dulu pernah ada sayang... Namun kini tiada lagi perasaan seperti dulu...” Senandungnya pelan dengan suaranya yang dalam. Matanya terus terpejam.
‘Ckrekk.’ Bunyi pintu terbuka membuat pemilik manik cokelat terang itu sedikit terperanjat. “Boby...” Ucap sosok yang sedikit nampak dari balik pintu itu. Suaranya terdengar tak yakin.
Sosok yang dipanggil boby itu nampak tersenyum lembut. “Kemarilah rin.” Pintanya. Tangannya segera meletakkan gitar yang sejak tadi terus menemaninya itu.
“Butuh sesuatu?.” Tanya boby lagi pelan.
“Ehm... Tadinya iya. Tapi aku rasa tidak. Atau mungkin belum. Ah... Begitulah..” Cicit gadis yang dipanggil rin itu nampak jelas bingung.
“Kau selalu nampak lucu.” Kekeh boby kalem. Dia kembali mengambil gitarnya yang berwarna merah hitam itu. Tak lupa disambutnya buku kecil berisi kumpulan lagu lengkap dengan kunci gitarnya. “Ingin mendengarkan sebuah lagu?.” Lanjut boby sembari melirik ke arah rin.
“Ehm... Aku rasa, boleh juga.” Masih dengan nada yang terbata. Bobypun kemudian memulai kembali petikannya. Sebuah lagu kembali disenandungkan dengan suara dan penghayatannya yang dalam.
“Ku ‘tlah miliki, rasa indahnya perihku... Rasa hancurnya harapku...”
-Yes, I DID-
“Rin... Bangun. Sudah siang. Kita kan ada jam kuliah.” Sebuah suara berhasil merasuk ke sela kesadaran rin.
“Narumi...?” Suara serak rin terdengar tak nyaman ditelinga.
“Hm... Ayolah. Kamu payah. Kamu bangun kalah pagi dariku.” Kekeh sosok yang dipanggil narumi itu sambil mengguncang tubuh rin ganas.
“Berisik... Hentikan tingkahmu narumi. Atau aku akan...” Belum juga selesai berucap, narumi sudah menanggapi. “Atau apa...?” Tanyanya sembari melempari sahabatnya itu dengan guling hijau kesayangannya.
“Atau aku akan mengatakan bahwa kamu...”
-To Be Continued-
RnR?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar