AYAHKU
By: Takumi
By: Takumi
Aku berusia 10 tahun kala itu. Ibuku meninggal karena penyakit
mematikan yang medis sebut sebagai gagal ginjal. Tahun yang berat bagiku dan
ayah. Kami begitu mencintai ibu. Tapi Tuhan seperti mempermainkan perasaan kami
dengan menjemputnya dalam kejapan mata. Ah... Wanita cantik itu berhasil
membuat kami menguras air mata setiap mengingatnya.
5 tahun mengalir begitu
saja. 15 tahun kini usiaku. Aku menjadi remaja yang cukup tampan. Seorang
wanita yang masih cukup muda hadir dikehidupan kami. Berusaha mengusik setiap sendi
asa dihati. Itu sebelum kutahu kebusukannya tentu saja.
Mati-matian aku menolak kehadirannya. Aku terus merengek pada
ayahku yang dahulu lembut hingga amarahnya mencuat. “Dia calon ibu yang baik”.
Kecam ayah sembari menatap nanar kearahku. Katakan bahwa ayahku telah tergoda
pada paras jelitanya. Sial sekali...
‘Aku hanya bisa pasrah menerima semuanya’. Hahaha... Kalimat macam
apa itu. Tidak ada cerita yang demikian dalam kamus hidupku. Dan akhirnya, aku
bisa kembali tersenyum ceria setelah melihat wanita itu tak bisa mengucapkan
satu patah katapun padaku. Terimakasih pada Camellia sinesis berbungkus
cantik kesukaannya. Lagipula itu bukan salahku. Salahkan kebiasaannya sendiri.
Tapi ayah justru memandangku penuh rasa tidak suka. Hey.. Ada
apa..? Tidakkah ayah tahu aku begitu mencintainya? Ada apa?.
Hari ini kami menuju ke pasar. Membeli bahan makanan yang menipis
tentu saja. Tapi ayahku nampak berbeda. Dia mengacuhkanku. Tidak peduli pada
rengekanku. Bahkan ia membeli bahan makanan yang sama sekali tak kusukai.
Kenapa?. Apa ayah sudah lupa aku benci sayuran. Oh... Ini benar-benar hari yang
buruk. Aku sungguh kesal sekali.
Ayah terus begitu hingga tahun berganti. Aku serasa anak tiri kini.
Ayah bahkan tak mau membelikan baju baru untukku. Hanya memandangku dengan
tatapan tak suka. Aku lelah dan aku benci pada keadaanku.
Kekesalanku sudah menumpuk. “Dibanding menatapku tak suka, lebih
baik jangan menatapku selamanya saja ayah”. Ucapku penuh amarah disenja itu.
Dan benar saja, ayah tak mau lagi menatapku sejak hari itu,
sekalipun aku berlalu dihadapannya. Sepertinya dia sangat membenciku.
Sudahlah... Kurasa ini lebih baik.
--FC—
Aku tidak membunuh si ibu. Melainkan si ibu meninggal karena
kebiasaannya menggunakan teh celup dan mendiamkannya selama lebih dari 5 menit.
Faktanya, kertas pembungkus teh dibuat dari pulp (bubur
kertas), yang terbuat dari bahan kayu. Bubur iniberwarna cokelat tua. Untuk
membuat serat pulp berwarna putih, Digunakan sejenis bahan kimia pemutih yang
terbuat dari senyawa chlorine yang sangat pekat. Sayang dalam prosesnya,
chlorine ini tetap tertinggal dalam produk kertas karena tidak dilakukan
penetralan karena biayanya sangat tinggi. Kertas semacam inilah yang kemudian
digunakan sebagai kantong kertas teh celup. Kandungan klorin di kantong kertas
teh celup akan ikut larut, apalagi jika dicelupkan lebih dari 3-5 menit. Fungsi
klorin adalah sebagai disinfektan kertas, sehingga kertas bebas bebas dar
bakteri pembusukan dan tahan lama. selain itu kertas dengan klorin memang lebih
bersih. Karena bersifat disenfektan, klorin dalam jumlah yang besar akan
berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga.
Camellia sinesis adalah bahasa latih untuk teh.
Si aku membuat si ayah buta sehingga si ayah tidak mampu melihat
putrinya lagi selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar