Rabu, 29 April 2015

February, 23th is Mine, Dad...

“Ayah, mengapa aku tak pernah bisa menjadi istimewa bagimu...”

 “Happy birthday... To you... Happy birthday to you... Happy birthday... Happy birthday... Happy birthday to you...” . Sebuah sorakan meriah terdengar jelas dari sebuah rumah mungil dipinggir jalan raya malam itu.
“Met ultah runi, semoga tambah cantik, cepet dapat kerja, cepat dapat jodoh. Wish all the best...”. Ucap sahabat-sahabatnya memberi selamat. Gadis manis yang dipanggil runi itu membalasnya dengan senyuman dan anggukan terimakasih.
Tidak hanya satu orang yang mengucapkannya, tiga orang sekaligus. Do’a-do’a suci yang terlintas dipikiran mereka beserta harapan-harapan kemakmuran bagi pemilik hari istimewa itu tercurah begitu saja.
Tapi siapa mereka?. Seberapapun dekatnya mereka, mereka tetap saja adalah orang lain. Mereka hanyalah teman yang sesaat lalu saling mengenal. Tapi mereka memberi do’a-do’a luar biasa itu dengan setulus hati.
Lalu bagaimana keluarganya?. Apa dia tidak memilikinya?. Tentu dia punya, tak seorangpun yang terlahir didunia ini dalam kesepian dan kesendirian, tidak juga runi. Seorang ayah mungkin sedang tertidur dikamarnya yang luas. Cukup luas untuk kamar yang hanya memiliki tempat tidur child size sebagai propertinya.
Klunthiing. Handphone china yang jauh dari kata smart itu tiba-tiba berbunyi cukup kencang. Tentu harapannya salah seorang keluarganya mengingat ulang tahunnya. Dan terimakasih pada tuhan yang mengabulkan doa dihari ulang tahunnya itu.
selamat ulang tahun kakak... . Sms yang masuk begitu saja kedalam hapenya itu cukup membuatnya terharu. Adiknya yang sangat disayangnya mengingat hari istimewanya. Sebuah senyuman terukir jelas dibibirnya, hingga fokus pada perbincangan dengan sahabatnya dipagi buta luput dari perhatiannya.
makasih...’. Balasnya cepat. Tentu saja dia tak ingin dianggap sedang tidur dengan tenang tanpa memikirkan apapun.
Terus menanti, runi terus menanti telphone atau sms dari sang ayah terkasih. Detik berganti menit, dan menit berganti jam. Tak satupun pesan lain muncul di handphone chinanya yang mulai rusak.
Diapun tertidur bersama ketiga temannya. Wajah lelahnya terlihat sendu. Tapi jelas didalam hatinya, sudah ada rasa yang membuncah mengingat pesan singkat yang dikirimkan adiknya itu.
___February 23th Is Mine, Dad___

Diraihnya handphone yang selalu disampingnya itu, berharap ada seseorang yang mengingat hari istimewanya ini. Well, ini memang hari istimewa, mengingat umurnya telah berkurang lagi satu tahun sejak beberapa jam yang lalu.
Tidak ada apapun dilayar hapenya. Tidak ada miscall atau sms yang masuk, bahkan operatorpun sepertinya malas untuk mengetik pesan singkat yang tak pernah dibacanya itu.
‘mungkin ayah belum bangun, pasti sebentar lagi dia akan telphone aku, sms lah minimal’. Pikirnya mencoba menyenangkan hatinya sendiri.
Dilaluinya hari itu dengan senyuman merekah. Bertambah dewasalah dia hari ini. Well, dengan bertambahnya umur sebenarnya tidak ada pengaruh yang signifikan dengan pertumbuhan pribadinya. Sama sekali tak ada yang berubah darinya, masih childish seperti hari yang telah dilewatinya.
Raut bahagia terus diperlihatkannya pada ketiga sahabatnya yang selalu setia mendampingi tahun-tahun bahagia dan dukanya. Tak pernah sedikitpun mereka memalingkan wajahnya disaat runi terpuruk, merekalah orang-orang yang selalu mengokohkannya.
___February 23th Is Mine, Dad___
Haripun terlewati begitu saja. Tak ada yang spesial, tak ada yang istimewa. Ayahnya kali ini benar-benar tak mengingat sedikitpun kenangan akan kelahiran anaknya.
‘ah, ayahku melupakannya, memang aku tak pernah menjadi istimewa meski dihari istimewaku. Memang aku tak pernah istimewa dihatinya. Kalau sudah tak ingat mau bagaimana lagi’. Ceritanya dalam sebuah catatan diary di layar laptopnya. Hanya disanalah dia mampu berkeluh kesah, pada sahabat terbaik yang pernah dia miliki.
“ayo makan...?”. Ajak salah satu sahabatnya di sore itu.
Sebuah anggukan lagi-lagi menjadi atas tanya yang diangsurkan temannya itu. Bukannya dia bisu, bukan pula dia malas menjawab. Hanya ada sebuah luka yang menganga dihatinya yang memaksanya untuk menahan tangisan. Khawatir jika saja suaranya berubah menjadi parau karena hal itu.
Mereka berduapun segera mencari makan bersama di sore yang cerah itu. Angin sore yang cerah cukup mengaburkan luka yang dipendamnya. Sejuknya angin mampu memperbaiki perasaannya yang tak karuan sebelumnya.
Ditatapnya kembali langit semburan jingga itu. Sebuah senyuman dipaksa terbentuk dibibirnya. ‘tidak apa-apa. Aku baik-baik saja’. Batinnya meneguhkan.
___February 23th Is Mine, Dad___
Jingga sore itu perlahan menghilang. Matahari yang bersinar terang bersembunyi pula diperaduannya. Hari spesial yang dimiliki runipun turut berkurang dan pelan tapi pasti akan menghilang bersama berjalannya sang waktu.
Dibukanya kembali laptop yang berada disampingnya. Disampaikannya kembali segala rasa yang dikandung oleh hatinya.
‘ayah tak mengingatnya sama sekali. Ayah bilang tak kan pernah melupakan setiap detik waktu istimewa yang dilalaui ibu untuk melahirkan kami ke dunia. Tapi apa ini?. Hari ini tak ada yang spesial yang datang padaku. Tapi tak mengapa, aku sungguh bersyukur masih diberi kesempatan untuk menghirup udara, masih ada waktu untuk bertemu orang-orang tercinta, masih bisa tersenyum, dan masih bisa mengecap indahnya persahabatan. Terimakasih untuk kalian yang mau menemani tahun-tahun beratku tanpa meninggalkanku sedikitpun. Terimakasih untuk semua yang telah kau beri Tuhan’.
Sebuah tetesan air mata tak mampu lagi dibendungnya. Namun segera kedua tangannya menyeka hingga hanya tersisa mendung yang menggantung dikelopaknya.
“Selamat ulang tahun Runi.... Tak apa kali ini ayah tak mengingatnya lagi. Semoga apa yang kamu cita-citakan bisa menjadi kenyataan. Diberi kemudahan dalam setiap perjalanan. Kebahagiaan disepanjang sisa hidup. Tidak mendendam, tidak menyakiti, dan tidak melakukan keburukan. Jadilah runi yang kuat dan bijak untuk masa yang akan datang”. Lirihnya pada dirinya sendiri. Sekali lagi air mata itu nampak menganak sungai dari kedua belah matanya.
Tak membiarkannya berlama-lama dalam duka, disekanya air mata yang mulai menggenang kembali itu. Hembusan nafas berat mengakhiri acara menangisnya malam itu. Dilengkungkannya bibirnya membentuk huruf U. Berharap ini adalah hari terakhirnya menangis dan bersedih dengan segala hal yang terjadi padanya.
Hanya seperti itulah hari istimewanya terlampaui, dan hari itu pergi begitu saja tanpa mampu dicegahnya. Runi bersiap menyongsong hari yang baru. Hari yang tak membuatnya kembali buta pada kesedihan, Dengan mempersiapkan tekad sekuat baja dan seberani srikandi. Sebuah harapan akan hari esok begitu silau baginya, namun tak sedikitpun menggoyahkan niatnya.
“Aku ingin mampu menjadi yang kau banggakan ayah, hingga kau sudi melihat kearahku, dan menganggapku ada dan nyata”. Yakinnya pada diri sendiri.
___The_End___
Sebuah surat untuk ayah....

N.Takishida, 29 april 2015

2 komentar:

  1. Wah, gila sih.. masih merasa kagum bahwa ini adalah tulisanku 5 tahun yg lalu.
    Btw, hy narumi. Hari ini kamu selesai menangis dalam 3 jam karna merindukan ayahmu.
    Saat ini pandemi masih menjadi raja di negara ini. Kekisruhan luar biasa terjadi.
    Kabar baiknya, kamu sudah bersuami, dg laki² yang kamu tunggu selama 4 tahun. Kamu berhasil, meski saat ini kamu belum terlalu bahagia, karna kamu masih merasa beban untuknya, percayalah, kamu akan bertambah dewasa dengan segala hal yg kamu hadapi. Berharap secepatnya bisa membawakan kabar baik lainnya untukmu. Mendapatkan pekerjaan misalnya, atau 2 garis merah.
    Wish all the best untukmu.
    Oh iya aku ingin mengabarkan padamu, tahun² mu saat berpacaran, kekasihmu juga tak ingat ulang tahunmu. Hahaha... Menyedihkan, sampai rasanya ingin terbahak terus bukan?.
    Aku akan menemui mu lagi segera. Untuk bercerita hari² yang kamu lalui tentu saja.
    Love you narumi (ANW)

    Bekasi, 17-12-2020

    BalasHapus
  2. Hai narumi, hari ini tanggal 27 januari 2024.
    Hampir 4 tahun semenjak terakhir kali aku memberimu kabar.
    Banyak hal yang sudah kamu lalui sepanjang waktu itu.
    Seperti misalnya oktober 2021, kau dan suamimu, memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Kau kembali memulai karirmu disana. Dengan tertatih dan tersuruk, kau berhasil menjadi BM. Kau luar biasa sih.
    Meskipun justru itu yang makin membuatmu jatuh.
    6 bulan kemudian pasca kau jadi BM, tepatnya di juli 2023, suamimu mengajakmu kembali ke bekasi, dan memintamu melepaskan pekerjaanmu. Cukup membuatmu frustasi mengingat tanggunganmu. Tapi... Kau memilih ubtuk tetap mendampingi suamimu.
    Hingga hari ini, kau masih terus menangis. Menangisi banyak hal yang tak kau sadari.
    Aku selalu berdoa untukmu, ubtuk dikuarkan dan dimampukan hingga Allah memintamu kembali pada ketiadaan.

    💜Narumi (ANW)

    Bekasi, 27 Januari 2024

    BalasHapus