Diskriminasi STATUS Ekonomi = pemiskinan
Diskriminasi
merupakan bentuk ketidakadilan, dijelaskan pada pasal 1 ayat 3 Undang-undang
nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia. Pengertian deskriminasi adalah
setiap pembatasan, pelecehan, dan pengucilan yang langsung maupun tidak
langsung didasarkan perbedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok,
golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, jenis kelamin, bahaya,
keyakinan politik, yang berakibat pengangguran, penyimpangan, atau penghapusan
pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar
dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang ekonomi, politik,
hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya.
Status
ekonomi dizaman seperti sekarang ini menjadi tolak ukur dari sebuah pertemanan,
orang yang memiliki harta lebih justru lebih cenderung untuk berteman dengan
teman yang memiliki status ekonomi yang sama dengannya dan dari hal seperti ini
dapat terjadi hal yang dinamakan diskriminasi.[1]
Diskriminasi
Ekonomi adalah suatu sikap atau perlakuan tidak adil terhadap sekelompok
masyarakat ataupun individu berupa pembatasan atau pengucilan yang dilakukan
secara langsung maupun tidak langsung didasarkan atas perbedaan manusia di
bidang Ekonomi.
Orang
miskin dilarang sakit, orang miskin tidak berhak mendapatkan pendidikan, orang
miskin sulit mendapat kerjaan. inilah paradigma pemikiran yang telah banyak
berkembang di negara kita. Pemikiran-pemikiran ini tercetus bukan tanpa alasan.
Banyak sekali fakta yang dapat membuktikan pemikiran ini. Diantaranya,
1. hanya
46,8% anak usia sekolah yang menyelesaikan 9 th pendidikan dasar.
2. Terdapat
4,2 juta anak umur 7-15 th tidak pernah sekolah, 1,67 juta anak balita menderita busung lapar,
5,7 juta anak balita menderita kurang gizi.
3. Terdapat
2-4 anak dari 10 anak di 72% kabupaten menderita kurang gizi, Pengangguran
meningkat dari 10,9 juta pada Februari 2005 menjadi 11,1 juta pada Februari
2006,
4. Jumlah
penduduk miskin meningkat dari 41 juta jiwa pada akhir 2005 menjadi 51,2 juta
jiwa pada kuartal I 2006.
5. Pada
periode yang sama, tingkat kemiskinan meningkat dari 18,6% menjadi 23%.
6. Menurut
standar Bank Dunia, lebih dari 110 juta jiwa penduduk Indonesia tergolong
miskin karena masih hidup dengan penghasilan 2 USD (Rp 18.310) sehari.
7. Ledakan
bisnis obat yang dipimpin oleh perusahaan farmasi asing dapat dilihat dari
total angka penjualan yang mengalami kenaikan yang signifikan. Dari total
penjualan 364 milliar dollar AS pada tahun 2001 melonjak menjadi 430 dollar AS
pada tahun 2002. Di tangan 5-10 perusahaan raksasa obat, margin keuntungan
mereka sebesar 17% , paling tinggi dari semua jenis perusahaan yang ada di
bawah langit. Akan tetapi dari 1393 macam obat yang dikembangkan dalam kurun
1975-1999, hanya 16 jenis obat yang diperuntukkan bagi penyakit-penyakit kaum
miskin.
8. Dalam
tahun 1998, dari total 70 milyar dollar AS biaya riset perusahaan-perusahaan
obat raksasa, hanya 300 juta dollar (0,43%) ditujukan bagi pengembangan vaksin
AIDS, dan hanya 100 juta dollar (0,14%) bagi riset obat malaria. Sebagian besar
biaya produksi dipakai untuk riset obat-obat kegemukan, kecantikan dan semacamnya.[2]
Selain
itu, JAMKESMAS (jaminan kesehatan masyarakat). Apa yang terjadi dengan jaminan
yang diberikan pemerintah kepada masyarakat yang kurang mampu ini?. Banyak
Rumah sakit yang menyepelekannya. Memberikan pelayanan yang asal-asalan, dan
dirasa kurang serius, dan tidak dilakukan dengan segera. Dengan didasari
pemikiran, gratis. Padahal tidak semua gratis. Mereka tetap diharuskan juga
membayar beberapa biaya dirumah sakit tersebut. Selain itu, terjadi perbedaan
pelayanan yang sangat mencolok antara Rumah Sakit umum dengan Rumah sakit milik
swasta. Dalam bidang pelayanan maupun fasilitas, tentu saja Rumah sakit swasta
lebih unggul. Hal ini tentu juga dipengaruhi oleh biaya yang harus dikeluarkan.
Orang kaya pasti lebih memilih untuk dirawat di Rumah Sakit Swasta, sehingga
mendapatkan fasilitas penyembuhan yang maksimal. Sementarabagi kaum miskin,
mereka tentunya hanya bisa terima dengan fasilitas dan pelayanan yang pas-pasan
di Rumah Sakit umum.
Lalu
bagaimana dengan mereka yang kaya, mereka yang pejabat dan memiliki
tempat-tempat yang tinggi di perusahaan atau pemerintahan? Yang kaya semakin
kaya, dan yang miskin semakin miskin, itupun tidak sepenuhnya salah. Para
petinggi BUMN, tahun 2003 gaji bagi Direktur Utama Pertamina 97,5 juta
perbulan, plus tunjangan kendaraan dan rumah. Direksi BUMN menerima take home pay yang besar, rata-rata diatas 100 juta. Direktur
bank BUMN mendapat gaji 200 juta/bulan. Mereka juga mendapatkan proteksi
asuransi dan mendapatkan fasilitas-fasilitas lain. Berupa, mobil paling tidak
Mercedes-Benz seri E sampai S. Bahkan banyak sumber mengatakan semua keperluan
pucuk BUMN ini, dari: pulsa telpon seluler unlimited, telepon rumah, kartu
kredit unlimited sampai gaji pembantu, semua ditanggung negara dan rakyat lewat
pajak yang mengongkosi para petinggi itu semua. Sedangkan direksi dan komisaris
di PT Kimia Farma mendapat fasilitas BMW atau Mercedes plus bahan bakar 10
liter/hari dan tentunya sopir pribadi yang dibayar perusahaan.
Ini
benar-benar pemiskinan yang dilakukan oleh negara-negara berkembang. Indonesia yang
juga tidak luput dari hal ini. Selain itu, diskriminasi dalam bidang Ekonomi
ini juga menimpa kaum perempuan. Indonesia dengan kebijakan Ekonomi liberalnya
terbukti telah memiskinkan perempuan, dengan menilai bahwa perempuan lemah dan
pendapatannya hanya sebagai pelengkap kebutuhan keluarga, sehingga para
perempuan pekerja ini mendapatkan upah yang lebih kecil dibandingkan dengan
laki-laki, padahal mayoritas buruh pabrik di Indonesia adalah perempuan.
Selain
buruh pabrik, dibeberapa wilayah pedesaan, perempuan tani , meskipun mereka
melakukan pekerjaan seperti petani lainnya, mereka tidak dibayar atas kerja
kerasnya. Karena mereka dianggap sekedar membantu suaminya, sehingga yang
dibayar hanyalah suaminya.
Jika
di lingkungan kota perempuan karier atau perempuan bekerja sudah menjadi hal
yang biasa, tidak demikian dengan di lingkungan pedesaan. Karena terkungkung
dengan adat yang tidak mengizinkan perempuan untuk menghasilkan uang atau
bekerja, perempuan tidak begitu diperhitungkan dalam lingkungan ekonomi
pedesaan. Begitu diperbolehkan bekerja, mereka cenderung akan memilih untuk
menjadi TKI di luar negeri. Tetapi hal ini juga banyak memunculkan
masalah-masalah lain. Ketika mereka mendapat
masalah di negara tersebut, kasus mereka sering tidak di tangani dengan
serius.
Pandangan
tentang bagaimana orang-orang menganggap status ekonomi adalah sesuatu yang
benar-benar sangat penting di dalam kehidupan. Bahwa kaya merupakan jaminan
untuk bahagia. Padahal sebenarnya kaya itu bersifat relatif, bahwa kaya itu
bukan hanya sekedar dimaknai sebagai kaya secara materiil. Rosululloh Shollallohu
‘alaihi wa salla bersabda: “ada tiga perkara yang membinasakan yaitu hawa nafsu
yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi dan seseorang yang membanggakan dirinya
sendiri.” (HR. Ath-Thabrani dan Anas).[3] Jadi
seharusnya apabila kita merasa kaya, maka perlu bagi kita untuk berbagi dengan
sesama bukan hanya menimbunnya dan dimanfaatkan untuk membeli atau di gunakan
untuk sesuatu yang kurang bermanfaat. karena sebagian dari harta yang kita
miliki adalah milik orang-orang yang kurang mampu. Begitu juga dengan orang
yang kurang beruntung, seharusnya dapat berbaik sangka kepada orang kaya. Tidak
hanya berfikir bahwa ketidakmampuan atau kemiskinan mereka semata-mata akibat
dari orang-orang kaya yang tidak mau menolong sesama. jadi mari kita berbaik sangka terhadap sesama.
Nurul
Wakhidati
3221103019
HES
7
bagus dan menarik,,,,
BalasHapustapi contoh-contoh diskriminasi dalam artikel ini menurut saya belum ada contoh yang terjadi di lingkungan sekitar,,,, :)
bagus guys,,, artikelnya,,, trusss,,, yang disalahkan siapa kalau yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin? jumlah kemiskinan semakin bertambah, jumlah diskriminasi pun juga ikt bertambah. nah,,, ini yang harus kita pecahkan bareng", krn kita generasi bangsa, kita yang akan menggantikan mereka yang punya jabatan penting di negara ini...
BalasHapusarigatou gozaimasu...
BalasHapus:)
semoga kedepannya bisa lebih baik saya buat artikelnya...
:D