Selasa, 15 Oktober 2013

mencoba berkarya...



LAST PRESENT
Aku adalah bungsu dari dua bersaudara, aku punya seorang kakak cewek yang super nyebelin. Entah mengapa dia harus jadi kakakku dan entah mengapa dia harus hidup di dunia ini. Aku benar-benar sangat membencinya, ada yang tanya kenapa...?. karena aku merasa kakakku itu seperti racun, pahit untuk ditelah, tetapi aku tak sanggup untuk terus melihatnya,dan sangat mematikan. Ya... sekarang hati dan perasaanku telah mati sempurna untuk melihatnya, bahkan untuk sekedar mendengar namanya. Kebencian itu benar-benar telah merasuk dan mendarah daging di dalam setiap sendi-sendi tubuhku.
Sore itu, entah mengapa dengan sok akrabnya, dia mendatangi kamar tidurku. Dia tahu dengan pasti bahwa aku membencinya tanpa syarat, tapi dia tetap saja dengan wajah sok sucinya menyapaku sambil tersenyum. Ingin sekali ku rebut senyuman itu dari bibirnya yang dipenuhi dengan kepalsuan itu. senyuman itu kembali tergantung dibibirnya, sedang tangannya berada dibelakang seolah menyembunyikan sesuatu. Aku sangat takut ketika dia bersikap seperti itu. akutakut bila ternyata yang berada dibalik tangannya adalah pisau, atau benda tajam lainnya, aku takut dia akan melukaiku karena aku begitu membencinya. Aku ketakutan sendiri terhadap semua imajinasi yang telah aku ciptakan sendiri. Aku tahu itu tidak akan dilakukan oleh kakakku, mengingat saat ini kami sedang berada di rumah. Tapi aku tidak begitu saja kehilangan kewaspadaanku.
Tiba-tiba dia memperlihatkan suatu benda berbentuk kotak kepadaku. Aku lebih ketakutan lagi. Mungkin bukan benda tajam, tapi siapa yang tahu jika ternyata didalamnya adalah racun dan saat itu juga kakak akan memaksaku untuk meminumnya. Dan sekali lagi, itu tidak mungkin. Setidaknya dia tidak akan melakukannya disini ketika dia sama sekali tak memiliki alibi untuk mengelak dari setiap tuduhan yang mungkin terarah padanya.
“nih aku kasih hadiah..” katanya sambil tersenyum. Kuakui dia lebih cantik ketika tersenyum. Tetapi aku benar-benar tidak suka pada senyumnya. Buatku itu terlihat seperti senyuman sosok shinigami yang telah bersiap-siap untuk menebas kepalaku dengan pisaunya yang tajam.
Aku beringsut dari tempatku, dan segera menerima hadiah itu. kakakku terlihat bingung. Dan anehnya, kenapa dia tidak sadar juga bahwa aku sangat membenci wajah tanpa dosa itu.
“ya udah kakak taruh dimeja ya.?” Sepertinya kakakku bosan menungguku yang tak bergeming maupun menyambut pemberiannya. Rona kecewa terpeta jelas dari wajahnya, tapi tak ku hiraukan. Karena memang sejak awal aku acuh terhadap kakakku. Aku benar-benar tidak pernah peduli pada perasaannya.
*******************************************************************
5 hari sejak kakakku memberi hadiah padaku. Tidak pernah ku sentuh sekalipun pemberiannya itu. ada rasa penasaran terhadap pemberiannya itu, tapi kembali rasa takut seperti datang mengancam. Aku nyaris bisa berkata, bahwa aku membenci semua benda yang tersentuh oleh tangan kakakku. Aku bahkan merasa jijik pada setiap sentuhan tangannya. Aku benar-benar tak bisa merasakan apapun ketika berada disamping kakak selain menghindar.
“sayang... cepetan turun, katanya kamu masuk pagi.? Ini udah siang lo.? Kamu juga belum sarapan” Teriakan ibu bagai menggema di setiap jalur kamarku. Aku diam saja mendengarnya, karena aku sadar itu bukan sapaan untukku, itu untuk kakakku, panggilan sayang itu hanya untuk kakakku. Aku tak pernah mendapatkan panggilan itu, selama waktu aku mengingatnya, tak pernah aku merasakan sapaan hangat itu terlintas di telingaku. Entah karena memang begitu adanya, atau entah karena aku telah tuli oleh perasaan benci yang membusukkan hatiku.
“ana, kamu gak turun nduk..? udah siang lo..” kembali teriakan ibu terdengar. Untuk yang ini aku yakin ditujukan untukku. Karena nama yang terselip diawal kata menambah keimanan ku bahwa itu untukku.
“iya bu..” teriak ku kembali. Aku tersenyum.. aku heran bagaimana mungkin aku bisa tersenyum, padahal aku telah lupa bagaimana rasanya tersenyum. Sungguh. Tapi karena satu kata “nduk” terucap begitu mulus dari lisan ibuku, aku menjadi bisa tersenyum dan merasa begitu bahagianya. Aku merasa aneh sendiri terhadap diriku yang tiba-tiba merasa bodoh terhadap hal yang aku lakukan.
Akupun segera keluar kamar dan menuruni tangga demi tangga dengan wajah yang berbinar-binar, aku melihat ibuku yang sedang menuang segelas susu dan menyiapkan nasi goreng diatas empat piring yang kemudian ditaruh melingkar meja, sampai aku melupakan sosok lain yang turut tersenyum menjijikan.
“selamat pagi ana...” sapanya sambil mengacungkan gelas susunya kearahku. Senyuman itu terukir kembali di sudut bibirnya. Tetapi itu bukan senyuman, itu seringaian.
“kamu itu ibu panggil dari tadi, kok gak nongol-nongol?” tak peduli pada Nasi goreng yang begitu menggiurkan awalnya. Akupun segera pergi melewatkan sarapan pagi ku untuk  yang kesekian kalinya. Tak kudengar lagi teriakan ibu yang memintaku untuk sarapan terlebih dahulu, juga tak kubiarkan suara kakak terdengar mengalun di telingaku.
“dia ular.. dia ular.. dia ular..” bisikku pada diriku sendiri disetiap langkah kakiku. Tetapi tiba-tiba aku terhenti sejenak dari langkah panjangku. Aku teringat pada perkataan ibu.
“ibu memanggilku sedari tadi...? ha..? apa maksudnya..?” ku rangkai kembali ingatan-ingatan ku pagi ini. Sampai pada titik senyuman kakakku yang mengerikan, akupun terhenyak. Kepalaku terasa pening. rasanya tak kuasa untuk menahan berat tubuh ini akupun limbung. Untung ku temukan pagar yang bisa menyangga tubuhku yang tak lagi mampu berdiri tegak ini.
“ibu memanggilku..???” kembali pertanyaan itu menggelayut manja di benakku. Bahkan semakin menyakitkan mengingat-ingat hal yang tak sekalipun mau kamu ingat.
“apa maksud ibu, ketika ibu memanggilku sayang?, aku memang tak mendengar  langkah kaki kakak menuruni tangga seperti biasa, tak juga ku dengar teriakan meng-iyakannya setiap ibu memanggilnya. Benarkah itu panggilan untukku..?” tanyaku pada diri sendiri. Mengira-ngira hal-hal yang mungkin terjadi. Suatu perasaan hangat kembali merasuk dalam hatiku yang kosong. Aku tiba-tiba kembali tersenyum. Aku tidak pernah seperti ini. Tetapi aku menyukai perasaan ini.
**************************************************************
Pukul dua siang, aku pulang dari sekolah. Tiba-tiba ku dapati kakakku keluar dari kamarku. Aku hanya menatapnya tajam seakan bertanya, ‘apa yang kamu lakukan di kamarku, apa yang telah kamu nodai dari tempat satu-satunya aku merasa nyaman, hah..??’
Dia hanya menjawab tatapan tajam ku dengan sebuah senyuman. Aku tahu dan aku selalu tahu bahwa dia tak pernah memberikanku senyuman yang tulus.dan aku melihatnya lagi saat ini. Bukan senyuman yang lebih mirip dengan seringaian lagi. Tetapi lebih kepada senyuman hambar yang sangat malas dia perlihatkan kepadaku. Aku tak bisa menyimpulkan apa-apa lagi. Dan aku berakhir di kamarku, aku mengunci kamarku dengan sangat rapat. Hari yang membahagiakan sekaligus menyebalkan untukku.
Kuraih hadiah yang di berikan kakak 5 hari yang lalu dengan memakai tissue, dan aku memasukkan hadiah kakak kedalam kotak yang khusus ku sediakan untuk semua hadiah-hadiah yang pernah dia berikan padaku. Terlihat begitubanyak hadiah-hadiah kecil yang teronggok didalam kardus itu. tak pernah ku buka maupun ku sentuh sekalipun selama ini.
*******************************************************************
Malam ini entah mengapa, aku mendengar suara tangisan di seberang kamarku yang artinya itu adalah kamar kakakku. Tanpa aku memintanya, aku bertanya-tanya apa yang terjadi dengan kakak. Tapi segera ku enyahkan perasaan penasaran itu. dan tergantikan dengan perasaan takut, karena aku sekarang seperti sedang mendengar suara sosok kuntilanak seperti dalam film horror. Karena aku agak tidak bisa membedakan mana yang suara tangisan maupun mana yang suara tertawa dari sosok hantu khas indonesia ini.
Sudah pukul 23:00, dan sepertinya kakak belum cukup lelah untuk menangis. Meski sekarang yang terdengar tinggal isakan-isakan yang tidak begitu jelas. Tapi tetap saja ini sangat menggangu. Tempat tidurku dengan tempat tidur kakakku itu hanya dibatasi oleh tembok yang tipis. Suara sekecil apapun akan tetap terdengar. Ayahku mengatakan, bahwa kami akan bisa tetap saling berkomunikasi tanpa keluar kamar saat kami malas. Tapi aku justru sangat kesal dengan tembok ini.
Suara kakak berangsur-angsur menghilang, digantikan dengan suara-suara ribut dari kamarnya. Tak elak pula membuatku penasaran. Akupun keluar dari kamarku dan melihat ayah serta ibu berlari-lari menuju kelantai bawah. kulihat ayah menggendong kakakku di punggungnya, dan aku masih sempat berfikir. ‘Kakak yang manja, udah gede masih aja minta di gendong’.
Aku tahu dan aku sadar bahwa kakakku sakit. Tapi paling juga sakit tipus seperti yang sering dialaminya. Ayah dan ibu selalu saja begitu lebay dengan kondisi kakak. Sedang aku, ketika aku terkena demam berdarah, ibu tak pernah sebingung itu. aku justru masih bisa berjalan ketika itu.
“sayang, kamu dirumah aja ya, ayah sama ibu mau kerumah sakit dulu, kakakmu sakit.” Kata ibu dengan masih panik
“ya..” aku segera masuk kekamar. Tak ku hiraukan lagi panggilan sayangnya kepada ku. Karena aku merasa sama saja. Akupun segera saja tidur.
*****************************************************************
Pagi ini aku bangun agak kesiangan. Tidak ada ibu yang meneriakiku untuk bangun tidur, jadilah aku terburu-buru melakukan segalanya.
Aku meraih HP ku ketika akan berangkat sekolah. Kulihat ada 2 pesan masuk. Sambil berlari ke sekolah aku membacanya.
‘from:mom
ana, ibu msh di RS.
ni qa’ nina hrus opnam.
u dirmh sndri brni kn syng?’
tak kuhiraukan sms yang ini, aku kemudian membuka sms yang satunya.
‘from:mom
Ana, nnti ibu bsa mnta tlng.?
Tlng bwain bbrpa pkaian qa’ ana ma ibu k RS y nak, bsa kn?’
Hah.. hanya sms seperti ini, kataku dalam hati. Aku tidak berniat untuk membalas sms dari ibuku. Ini benar-benar hal yang menyebalkan. Aku pun segera berlari kembali untuk mengejar pintu gerbang yang sebentar lagi akan ditutup.
****************************************************************
Pukul dua siang, aku pulang dari sekolah. Akupun segera memakan roti tawar yang harusnya tersedia untuk sarapan itu dimeja. Aku memakannya dengan pelan-pelan. Saat tidak ada kakak, aku merasa sangat merdeka dan sangat bahagia. Aku selalu berharap kakak segera pergi dari dunia ini, atau setidaknya segera pergi dari rumah ini. Aku sangat ingin merasakan perasaan nyaman ini. Sanagt ingin.
Tiba-tiba hp ku berdering, terlihat nama mom tertera dilayar hp ku. Dengan enggan akupun menerima panggilan dari ibu itu.
“sayang, kamu udah sampai rumah kan.?” Tanya ibuku dari seberang sana
“iya” jawabku simpel
“kamu sudah makan?”
“sudah”
“kamu makan apa.?”
“roti”
“sayang, kamu beli makan di warungnya mbak ulfa aja ya..? jangan Cuma makan roti, uangnya ibu taruh di lemari ibu. Kamu bisa ambil sendiri kan.?”
“ya”
“kalau udah makan, tolong ya bawain beberapa pakaian kakak sama beberapa pakaian ibu dan ayah ya..? bisa kan.? Cepet ya sayang..? udah dulu ya, ini kakakmu mau minum obat. Da sayang..”
“tuuuuuuuuuuutttttttttttttt......”
Sambungan berakhir sebelum aku sempat menjawabnya. Baiklah, aku sudah terbiasa di acuhkan. Kali ini aku anggap sama saja.
**************************************************************
Aku telah sampai digerbang Rumah Sakit. Rumah Sakit yang telah aku kenal ketika aku tersandung kasus demam berdarah beberapa bulan yang lalu. Rumah Sakit yang dulu kubenci, sekarangpun juga masih ku benci. Saat itu aku membencinya karena sakit yang aku rasakan begitu tak bisa kunikmati. Dan sekarang aku membencinya karena didalam sana ada seseorang yang juga sangat aku benci. Aku merasa, bahwa sebentar lagi aku akan memasuki sebuah dimensi neraka.
“ah, kamu sudah datang ana...” katanya sambil tersenyum lemah, ketika aku telah berhasil menemukan kamar inapnya yang begitu jauh dari pintu masuk. Aku merasa jengkel dengan senyumannya itu. tetapi aku agak merasa lebih beruntung untuk saat ini. Dulu ketika aku sakit, aku dirawat diruang pavilliun. Sedang apa yang terjadi dengan kakakku sekarang? Dia berada di kamar rawat inap biasa. Yang disana hanya terdapat satu tempat tidur, satu meja, dan penyangga infus beserta dengan infusnya.
Wajah kakak begitu pucat. Mungkinkah tipus menyebabkannya berwajah mayat seperti ini.? Aku berharap dia tidak hanya seperti berwajah mayat tetapi masih tetap bisa bernafas. Kata-kata itu menimbulkan perasaan puas yang entah datang dari mana.
 “kamu pasti capek pulang sekolah. Sudah istirahat? Sudah makan.?” Tanyanya sok perhatian.
“hn..” jawabku menggumam.
Dia tersenyum, tersenyum lagi. Apakah dia tidak pernah tahu dan tak parnah bisa mersakan bahwa aku membenci setiap senyumannya.? Senyuman yang selalu seolah berkata “ you loser..” itu tak pernah berhenti. Bahkan ketika dia tahu bahwa aku dalam keadaan sangat marah.
Tiba-tiba ibu datang. Dengan wajah yang kuyu dan tampak sangat lelah.aku tahu bahwa kakak pasti sangat manja sampai membuat ibu seperti ini.
“kamu disini ana, terimakasih udah nemenin kakak kamu. Tadi ibu dan ayah dipanggil oleh dokter, tapi ibu pergi dulu.”
“ayah..?”
“masih dengan dokter, entah apa yang dibicarakannya. Kamu sudah makan?”
“ya..” jawabku singkat.
Entah mengapa, aku melihat senyum kakak sekilas. Sempat terfikir apakah kakakku ini sudah gila? Kenapa dia terus menerus tersenyum.
“ana, kakak bisa minta tolong belikan teh hangat.? Kakak pengen..?” katanya tiba-tiba. Dia benar-benar memanfaatkan moment ini dengan sangat baik. Saat pura-pura sakit parah dan saat  ada ibu dia mulai memintaku menjadi jongosnya hah..?
“ana, tolong ya...?” kata ibuku justru mendukung keinginannya. Dengan setengah hati aku pun mulai berangkat untuk mencari teh hangat di kantin. Danketika aku hampir sampai di kantin, tepat didekat ruangan dokter aku mendengar suara ayah yang seperti ingin menangis. Akupun segera mendekatkan telingaku ke dekat pintu untuk mendengar apa yang disampaikan oleh dokter hingga membuat ayahku seperti itu.
“apa tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan pak..?”tanya ayah ku sedih.
“kami bisa melakukan terapy dan juga cuci darah pak, tetapi untuk kesembuhannya 100% kami tidak bisa menjanjikan hal itu.” jawab dokter itu tegas.
Apa? Terapi,? Cuci darah? Emang kakak sakit ginjal?.bagus banget dong kalau begitu. Aku bahkan bisa sedikit mengembangkan senyumku. Yang entah mengapa saat itu aku seperti memperoleh berkah yang tiada terkira. Aneh memang mengingat aku hanya memiliki satu sodara. Tapi perasaan bahagia itu tidak bisa hilang begitu saja.
Tiba-tiba ayah keluar dari ruangan dokter itu. ayah tiba-tiba memelukku ketika melihat aku duduk di samping ruangan dokter itu. aku hanya diam saja. Karena baru kali ini aku dipeluk ayah. Kembali ada rasa bahagia yang menjalar merasuki hatiku. Aku kembali berfikir, jika tidak ada kakak, akankah aku akan merasakan hal ini setiap hari?
“kakakmu nak..” tiba-tiba ayah membisikkan kata-kata padaku.
“kakak kenapa yah.?”
“gagal ginjal.”
“benarkah..?” tanyaku benar-benar terpukau dengan jawaban ayah. Aku pun tiba-tiba tersenyum penuh kemenangan. Aku benar-benar merasa diatas angin ketika mendengar vonis kakak yang disampaikan ayah tadi. Itu hampir sama dengan apa yang aku prediksi baru saja.
“iya...” jawab ayah ku sambil melepaskan pelukannya.“sekarang kamu mau kemana..?” tanya ayah kemudian.
“kakak memintaku untuk membelikan teh hangat”
“bergegaslah”
“iya”
Akupun segera melangkah pergi, ku lihat sekilas ayah juga segera kembali kekamar kakak. Entah mengapa langkahku terasa begitu ringan saat ini. Seperti beban telah luruh dengan datangnya vonis kakak. Ini menyedihkan bagi keluargaku, tapi bagiku ini adalah kabar gembira yang seperti mimpi.
Setelah aku selesai membeli teh hangat, akupun segera kembali kekamar kakak. Aku lihat kakak dibawa pergi oleh seorang perawat. Entah kemana. Ibu juga terlihat mengiringi disamping kakak dengan wajah begitu lelah. Aku benci pada kakak karena membuat ibu terlihat begitu lusuh. Begitu juga keadaan ayah. Mereka terlihat begitu frustasi.
Tiba-tiba aku teringat pada seorang teman yang selalu ku jadikan tempat curhatku selama ini. Namanya rindra, dia cewek dan selain dia baik dia sangat ramah. Aku belum pernah sih bertemu sekalipun dengannya. Dia bilang, sekarang dia berada ditempat yang jauh. Aku tanya dimana, dia tidak pernah menjawabnya. Itu agak menyebalkan, tapi orangnya baik, dia selalu bisa menenangkan aku ketika hatiku sedang dilanda kebencian pada kakakku.
Aku pun segera sms dia kabar gembira ini Kepadanya.
To: Rindra
Rindra, aq pny kbar baik bgt...
Mw tw..?
Sms terkirim, tetapi Lama tidak ada jawaban. 30 menit kemudian, sebuah sms masuk ke HP ku. Aku yakin pasti itu dari Rindra. Akupun segera membaca balasannya.
from: Rindra
Kbar pa ana..?’ tanyanya.
Aku menganggap bahwa sms nya begitu penasaran dengan kabar baik yang akan aku sampaikan padanya. segera saja aku membalas sms nya.
To:Rindra
U bls’a lma amt sh.?
Sprti’a qa” q gg akn brthan lma dh...’
Terkirim, dan semenit kemudian telah dibalas lagi.
From: Rindra
Ehhehe... maav.
Emng qa” u knp?’
Akupun dengan semangat ’45 segera membalas sms kakakku itu.
‘To:Rindra
Qa” q kna ggl gnjal, kyak’a sh udh prah bgt, org’a aj udh kyk myat.
Aq hrap sh dy get lost.
Hahhaha..’
Entah mengapa kali ini Rindra begitu lama menjawabnya. Membuatku sangat sebal padanya. tapi kemudian dia membalas.
From:Rindra
Ih.. sneng bgt qa”a skit.
Di do’ain kek cpetan smbuh. Jhat amat..
:P’
Kembali aku membalas smsnya
To: Rindra
U qo’ gtu sih, u tw kn aq bnc bgt sma qa” q
U mlah nyruh gtu. G asyk ah u tu..’
Jawabku pura-pura marah.
‘from: Rindra
Iy deh maav...
Mg qa” u cpetan mti aja.
Hahhaha...
Eh tp bkannya kalok ggl ggl gnjal g bsa d smbhin y.?’
‘To: Rindra
Hahahaa..
Iy mka’a ni kbr gmbra bgt kn?
Tpi aq ksel ih..’
‘From: Rindra
Yupz..knpa?’
‘To: Rindra
Ibu n ayah kliatan cpe’ bgt, tp kyak’a qa” gg bkal ngizinin ibu plng’
dy kn mnja bgt’
‘from: Rindra
Hahha.. ajakin ja ibu u plng,
Eh aq p’gy dlu y, ntr lnjutin agy.?’
‘To: Rindra
Ide bgus,
O.c ati” ea..’
‘From: Rindra
o.c’
selesai sudah aku memberi kabar duka yang menggembirakan ini. Aku lihat kakak sudah mulai kembali kekamarnya. Aku segera meminta izin ibu untuk pulang karena merasa sangat lelah hari ini. dan ibu justru malah ikut aku pulang. Entah malaikat mana yang membuat kakakku memperbolehkan ibu pulang. Aku jadi heran sendiri.
************************************************************************
3 bulan sejak kakak di vonis gagal ginjal. Kakak melakukan berbagai terapi yang sudah dijadwalkan oleh dokternya. Sedangkan aku menjalani kehidupan seperti biasanya, dan mengharapkan kehilangan kakak seperti biasanya.
Sore itu sepulang sekolah, aku langsung menuju kamar. Hari kakak tidak sekolah, karena dia melakukan kegiatan rutin terapi.
Tiba-tiba kakak masuk kedalam kamarku yang lupa aku kunci dari dalam. Kakak duduk dikursi belajarku dengan sangat PD nya. Rasanya aku sangat ingin membentaknya karena sangat tidak sopan memasuki kamar orang lain dan sekarang bahkan duduk sesuka hatinya.
“ana... nanti kita ketaman yuk..? kakak pengen banget kesana... udah lama ya gak kesana.?” Kata kakakku yang dengan aneh tiba-tiba merajuk mengajak ke taman. Aku hanya diam tanpa menjawab ajakannya.
“ayolah..kamu diam berarti tandanya kamu mau.. okey..” setelah memaksaku dia meninggalkan kamarku kelantai bawah. Entah apa yang dilakukannya disana, yang jelas tiba-tiba secara ajaib ibu menghampiriku didalam kamar ku, dan memohon mengabulkan keinginan kakak. Dengan berat hati aku mengiyakan keinginannya itu. selama aku membenci kakak ku, hari ini adalah hari dimana aku benar-benar sangat membencinya. Ke taman dengannya, benar-benar racun ular satu ini, pikirku.
  Pukul 15:00, aku berangkat ketaman dekat rumah dengannya. Aku malas untuk berjalan bersebelahan dengannya. Tiba-tiba dia menggandeng tanganku, refleks aku mengibaskannya. Aku pun berjalan terlebih dahulu. Aku lihat sekilas dia hanya tersenyum. Ya selalu tersenyum. Menyebalkan.
kami hanya duduk saja dibangku panjang ini, dia mengambil tempat di tengah dan aku justru menghindarinya duduk di tempat paling pinggir.
“ana, kakak tahu, kamu gak suka sama kakak” katanya mengagetkanku. Tapi aku masih bersikap acuh padanya. aku hanya terdiam.
“jadi kalau kakak salah, kalau kakak jahat, maafin kakak ya..? kamu tahu kan kakak sakit.? Sakit kakak juga bukan sakit yang mudah untuk disembuhkan. Jadi nanti jaga ayah dan ibu ya kalau kakak gagal disembuhin. Kakak gak berharap sembuh sih, karena kakak nggak ingin kamu membenci kakak lebih lama lagi. Kakak pengecut sih.. hahaha..”
Apa sih yang dibicarakannya.sikap pasrah itu benarkah itu milik siular licik ini. Pasti ini hanya bualannya untuk mendapatkan hatiku. Gak berharap sembuh..? yang benar saja..? maaf kak aku sama sekali tidak terkesan. Aku pun tanpa sadar berlari meninggalkannya.
“lo, kok pulang sendiri, mana kakakmu..?” tanya ibu ketika aku samapi rumah. Aku bingung untuk menjawab. Aku putuskan untuk segera memasuki kamar tanpa menjawab pertanyaan dari ibu.
‘aku pulang...’ satu jam kemudian terdengar teriakan khas kakakku, aku tak peduli dengannya. Tapi tetap saja celotehannya terdengar sampai kedalam kamar ku ini.
‘ana jahat bu... masak aku ditinggal pulang duluan, hahhaaha’ katanya sambil tertawa. Tawa yang biasa berikat didalam rumah ini, tawa yang juga aku benci.
‘hhahaha.. cepetan makan sana, panggil ana juga ya..’
‘baik bu..’
Terdengar dia menaiki tangga, aku bergegas mengunci kamarku. Aku tidak ingin dia nyelonong masuk kekamarku lagi. Seperti dugaanku, dia hendak membuka pintu kamarku dan tentu saja tidak bisa.
“ana, mari makan bersama, aku mohon sekali ini saja. Buktikan kalau kamu bisa menjaga ayah dan ibu. Buktikan kalau kamu bisa menyayangi mereka dan bisa membahagiakan mereka. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi ana, aku janji, aku menunggu dibawah...”
Aku benar-benar tergiur dengan janjinya.Tidak mengganggu bukankah berarti dia melepaskanku..? baiklah, aku akan turun dan makan bersama dengan senang hati, batinku.
Akupun segera menuruni tangga demi tangga, dia menyambutku dengan senyuman itu. selalu seperti itu. tapi ada yang berbeda dari hari kehari. Wajah kakakku semakin pucat, malam ini malah terlihat sedikit berkeringat, dan dia terlihat semakin gendut. Tapi aku tak pedulikan hal itu, kamipun makan bersama dalam diam. Aku melihatnya terus tersenyum disampingku. Entah apa yang dia rasakan sekarang, kadang dia meringis seperti kesakitan, kadang tersenyum kembali. Dia aneh malam ini.
Tiba-tiba dia berdiri dan mengatakan akan ke kamar untuk mengambil hpnya di atas. 10 menit kemudian dia terlihat menuruni tangga untuk bergabung dengan kami lagi di meja makan. Ketika hampir sampai, tiba-tiba hp nya jatuh dan tubuhnya limbung, dia terjatuh dan memegangi dadanya yang tampak kesakitan, semenit kemudian kakak pingsan. Aku tak bergeming sedikitpun. Ayah dan ibu segera mendekatinya. Ayah segera membopongnya ke kamar sedang ibu segera menelphon ambulance.
Ambulance pun datang, ayah dan ibu segera memasukkan kakak kedalam ambulance tersebut. Ayah tetap menyuruhku untuk tinggal di rumah malam itu.mereka pun berangkat tanpa aku.
Aku dirumah sendiri, aku segera pergi ke kamarku.aku lihat dimeja ada sebuah kotak yang lumayan besar, dengan pita warna merah diatasnya. Dan aku yakin itu dari kakak.
Seperti biasa aku hanya mengumpulkannya didalam kardus. Hampir tidak muat lagi untuk diisi. Hp q berdering begitu nyaringnya menandakan ada sms.
‘from: mom
Ana, kakakmu drop, sekarang kakakmu sedang kritis,
tolong siapin pakaian kakak ya,,?
Nanti biar diambil ayah..
Kakak opname lagi..
Do’ain kakak ya..?’
‘to: Mom
Ya bu..
Aq do’ain...’
Kakak cepet pergi. Tambahku dalam hati. Tiba-tiba aku merasa ingin memberitahukan hal ini pada Rindra. Akupun memutuskan untuk sms dia.
‘To: Rindra
Dra, qa” q skrang sdang kritis lo..
Mngkin tuhan mndngar do’a q, untk mnghlangkn qa” dr dnia ni’
Terdengar hp kakak yang tadi jatuh di ruang makan berbunyi. Tapi aku tidak perduli. Sms terkirim, lama aku menunggu balasannya. Rindra tak juga memperlihatkan tanda-tanda akan membalas.
‘To Rindra
Qo’ gg bles sh...?
U agy pa sh..?’
Karena tak ada balasan aku kembali sms dia. Dan kembali hp kakak berbunyi. Aku tetap saja tak peduli. Karena aku sebel pada Rindra, ku putuskan untuk menelphonnya.karena aku sudah tak sanggup lagi untuk memenndam berita gembira ini dari sahabat curhatku.
Haruskah ku mati karena mu
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah ku relakan hidupku
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku....
hp kakak tiba-tiba berbunyi. Aku membiarkannya. Dan aku segera mematikan sambunganku. Aku masih belum menyerah. Aku coba miscall lagi ke Rindra, dan hp kakak kembali berbunyi. aku penasaran, siapa yang menelphon kakak bertepatan dengan aku juga menelphon Rindra. Aku menuruni anak tangga satu demi satu tanpa mematikan panggilanku ke Rindra. Dan yang aku lihat hp  kakak terus saja bernyanyi lagu ada band-haruskah ku mati. Aku mulai curiga, kemudian aku matikan panggilan ku lagi. Dan mencoba menekan nomor hp q di hp kakakku. Dan aku melakukan panggilan. Aku sangat terkejut ketika di hp ku muncul nama Rindra memanggil. Rasanya seperti di sambar petir saat itu juga. Jadi selama ini aku curhat dengan orang yang sangat aku benci seumur hidupku?. Segera ku delete nama Rindra dari kontakku. Segera ku hapus semua sms yang tertuju pada Rindra, baik di hp kakak maupun hp ku sendiri.
Aku segera teringat untuk merapikan baju-baju kakak yang akan dibawa kerumah sakit. Ketika selesai, aku melihat kearah kaca, merasakan betapa bodohnya aku selama ini. Bisa tertipu oleh kakak sampai sejauh ini. Aku benar-benar marah pada diri ku sendiri maupun pada kakak.
Saat aku ingin duduk kembali, aku melihat buku yang ada di meja kakak. Aku iseng melihatnya, ini seperti sebuah diary. Akupun tertarik untuk membacanya.
23 februari 2013
09:00 WIB
Ini adalah ulang tahun ku yang ke 21 tahun, aku berharap adikku bisa kembali menyayangiku seperti dulu. Memang ini semua salahku sampai dia membenciku. Seandainya hari itu aku tidak memberinya kue pisau sebagai hadiah ulang tahunnya, tentu dia tidak akan pernah berfikir hal-hal mengerikan seperti ini. Kenapa hari itu memberinya kue pisau yang berlumuran saos sambal waktu itu. pasti dia segera berfikir betapa berbahayanya aku, dan betapa freaknya aku. Padahal saat itu aku benar-benar sedang bercanda. Tapi sepertinya candaanku benar-benar keterlaluan. Sekarang aku tidak pernah lagi mendapatkan hadiah ulang tahun darinya. Bahkan aku tidak pernah mendapatkan senyumannya lagi.
Aku tidak sabar lagi untuk membaca diarynya perhari. Aku mengacak halaman demi halamannya.
12 juli 2013
07:20 WIB
Aku melihat dia tersenyum hari ini. Benar-benar membuatku bahagia ketika melihat senyumnya lagi. Meskipun tentu saja senyuman itu bukan untukku. Aku yakin senyum itu tercipta karena panggilan sayang yang ibu tujukan padanya. hari ini aku meminta ibu memanggilnya sayang. Selama ini ibu lebih sering memanggilku sayang karena aku memintanya. Tetapi adikku tidak pernah mengatakan apa yang diinginkannya. Tentu saja ibu tak tahu. Tapi aku yakin ibu hanya takut kalau ana berpikiran lain, ibu takut kalau ana menganggap ibu terlalu berlebihan padanya, karena memanggilnya dengan sebutan sayang. Itu seperti sebutan terhadap bayi kecil, atau anak kecil lah. Hahaha... ibu ini lucu sekali bukan. Terbukti kan.? Ana suka dengan panggilan sayang ibu. Tapi ketika ana melihatku, ana langsung memalingkan wajahnya dan membatalkan keinginannya untuk sarapan nasi goreng ibu yang lezat. Hahhh... pasti gara-gara aku. Lain kali aku akan berangkat lebih dahulu supaya dia bisa sarapan pagi. Hahahha... wajahku pasti menjijikkan untuknya.
12 juli 2013
14:10 WIB
Sore ini aku pulang siang, karena kuliah ku selesai lebih awal dari biasanya. Aku penasaran, apa ana mau memakai kalung yang aku berikan padanya. akupun masuk kekamar ana. Aku tahu ana tidak suka, tapi aku benar-benar penasaran. ternyata, ana tidak memakainya, bahkan dia sama sekali tidak membukanya. Aku sedih tapi aku harus bagaimana lagi.
20:30 WIB
Malam ini, setelah makan, aku rasakan kembali nyeri yang beberapa minggu ini mulai terasa didadaku. Aku ingin memanggil adikku. Tapi dia pasti tak mau tahu. Hehhh... apa aku sms ibu saja ya..? hhh....“ana..... tolong aku ana..........ini sakit sekali rasanya ”
Terputus sampai di situ, aku mengira-ngira ini adalah sesaat sebelum kakakku dibawa kerumah sakit waktu itu
20 juli 2013
21:00 WIB
Hhh... maav diary, aku baru bisa nulis di lembaran kamu lagi. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Tentu saja tentang adikku yang sangat ku sayangi. Akhir-akhir ini dia sangat suka tersenyum diary... aku sangat senang, meski ada sedikit rasa kecewa di hatiku. Diary,,, aku sangat ingin bicara dengannya, bukan sebagai Rindra, orang yang di kenal, tetapi sebagai nina, kakaknya yang selalu menyayanginya. Kenapa dia tetap saja bungkam padaku. Kesalahanku begitu besar padanya, sampai aku tak lagi pantas menjadi kakaknya.
Diary.. apa aku harus menyerah untuk hidup aja ya...? aku sungguh tak mampu lagi melihatnya membenciku, melihatnya tak memandangku sedikitpun selama setahun ini. Bukan karena aku sangat ingin meninggalkannya untuk menjadi pengecut. Tapi aku ingin meninggalkannya sebagai kakak yang tak pernah ingin adiknya menderita ketika melihatnya. Sebagai kakak yang tak pernah ingin di benci adiknya seumur hidup.
Kamu tahu dary, aku tahu kalau aku terkena gagal ginjal dari siapa? Ana... dia begitu bahagia mengetahui aku menderita sakit ini. Dia berkata bahwa ini adalah kabar gembira. Tidak ada kabar semenggembirakan berita kematian kakaknya.aku bisa apa saat aku tahu hal yang paling diinginkan adikku, hal yang paling ingin ku wujudkan seumur hidupku adalah kematianku.? Hhh... Aku akan melakukannya juga.. ana..ku mohon tunggu beberapa waktu, aku janji aku akan pergi dari hidupmu. Aku sungguh berjanji ana. Karena aku selalu memegang janjiku.
Entah mengapa tiba-tiba air mataku mengalir tanpa terasa. Perasaan apa ini.? Kehilangankah.? Tentu tidak mungkin hal ini terjadi padaku. Apalagi tentang dia, kakak yang bahkan aku menginginkan dia lenyap dari muka bumi ini. Kakak yang begituaku benci, kakak yang begitu jahat terhadapku, kakak yang telah membuat ku malu seumur hidupku. Ini tak mungkin...
Tiba-tiba sekelebat kenangan bersama kakak melintas begitu saja. Kelebatan masa bahagia itu mengagetkanku. Semakin menambah sesak dada ku ini. Ingin rasanya menangis sekeras yang aku bisa. Tapi aku tak pernah bisa melakukan itu.
Kembali ku amati lembar demi lembar tulisan kakakku, semakin bertambah pula air mata yang bercucuran.
29 juli 2013
22:00
Dadaku sakit lagi, seluruh tubuhku rasanya sangat lemas. Aku harap ini belum menjadi akhirku. Aku ingin menyelesaikan sulaman ku ini. Aku harap, aku masih mampu untuk mencapai tanggal 30 september. Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada adikku. Dan bisa memberi sulaman ini. Setelah itu, terserah kau Tuhan... aku sudah tak berharap untuk terus hidup. Aku tidak akan meminta banyak kepadamu Tuhan... aku juga tidak akan berharap apa-apa lagi...
21 agustus 2013
00:20 WIB
Aq lelah sekali, tapi ayolah, aku baru mulai membuat topi rajut ini... aku harap aku masih mampu untuk menyelesaikannya. Aku sekarang sudah sangat lemah, seringkali pula aku kehilangan diriku. Tapi bukan sekarang Tuhan... jangan sekarang... berikan aku waktu...
25 agustus 2013
11:00 WIB
Aku tadi kerumah sakit lagi untuk cuci darah. Dokter menanyaiku berbagai macam pertanyaan. Sampai aku dikagetkan pada satu pertanyaan. “kamu gak minum ya obat kamu”. Itu benar-benar membuatku terhenyak. Rasanya cukup sampai disitu hidupku karena rasa kaget yang benar-benar parah. Aku hanya menjawab asal. “kadang-kadang aku lupa dok,tapi sering minumnya kok.. dokter jangan bilang ayah ya..?” aku membujuk dokter muda itu dengan puppy eyes andalanku. Sepertinya itu agak mempan untuknya. Buktinya dia bilang,”lain kali harus lebih teratur minumnya obat ya, kondisi kamu semakin down lo..”. aku tanggapi dia dengan senyuman aja. Hahaha... dokter yang lucu juga jenius. Sepertinya dia tahu kalau aku tidak meminum obat dengan benar.
Aku sudah benar-benar menyerah dengan hidupku, dan aku bersungguh. Selama ini aku hanya meminum obat anti nyeri saja. Kalau nyeri aku benar-benar tak sanggup untuk menahannya.
Aku benar-benar tak sanggup membacanya. Air mataku terasa tumpah ruah semuanya, membanjiri pakaian kakakku yang tadi mulai kukemas. Ketika aku ingin menutupnya, ku lihat ada sebuah foto terselip disana, foto aku dan kakak ke kolam renang ketika aku kelas 3 SMA. Kakak selalu menyimpannya. Sedangkan miliku sudah kubakar bersama roti pisau yang dia berikan padaku waktu itu. tak ada lagi foto yang tersisa kini. Tepat di antara foto itu. aku melihat halaman terakhir buku itu, dari tulisan terbaru kakak.
29 September 2013
Besok adikku ulang tahun. Aku bisa menahan sakitku selama ini tanpa aku meminum obat dari resep dokter. Bukan karena aku tak percaya, hanya saja aku ingin memberikan kado ulang tahun untuk adikku yang sangat kusayangi ini. Apa yang diinginkannya selama ini, aku ingin mewujudkannya. Aku sudah tidak begitu mampu lagi untuk menyangga badanku. Jadi sore ini aku ingin mengajak adikku ke taman. Aku sangat berharap dia mau. Setelah itu, ketika pulang nanti aku akan memberikan hadiah yang telah aku buat berbulan-bulan. Dan saat itu pula aku akan serahkan segalanya untuknya. Segala yang dia inginkan. Hahhahha... semoga dia menyukainya. Aku takut tidak ada hari esok untukku. Hari ini saja bahkan aku hampir tak mampu lagi untuk sekedar berdiri sendiri. Ini sangat menyulitkanku.
Tadi aku di antar kerumah sakit, karena aku pingsan saat berangkat kuliah. Dokter mengatakan aku harus di rumah sakit hari ini. Tapi aku tidak bisa. Besok ulangtahun adikku. Aku berniat minta maaf dan memberi setidaknya ucapan selamat ulang tahun padanya. aku tak akan lagi menyakiti hatinya. Aku sudah berjanji...
Oiya, hari ini aku melihatnya kembali tersenyum, sekarang hampir tiap hari dia sms’an dengan Rindra. dia tak tahu kalau rindra itu aku. Menyenangkan sekali untuk setidaknya tahu apa yang dirasakan saat ini. Hhh... ternyata aku cukup pintar untuk menjadi another people. :P
Aku kini benar-benar tak mampu lagi untuk tidak menangis dengan keras. Sebegitu sayangnya kah kakak padaku,tapi sebegitu membencinya aku pada kakakku. Aku melihat jam dinding di kamar kakakku. Waktu menunjukkan pukul 21:00. Waktu begitu cepat berlalu. Aku ingin segera kerumah sakit untuk memohon pada kakak supaya dia mau bertahan dan tetap tinggal disini denganku. Adiknya yang sangat pemarah ini. Aku segeramenelfon ayah untuk menjemputku dirumah. Aku ingin segera menemui kakakku. Dan ayahpun segera mengiyakam keinginanku, tetapi dia bilang, kakak melarang aku datang dengan berbagai alasan yang bahkan sedikit tidak masuk akal. Aku tahu kakak menghindariku, aku tahu kakak ingin meninggalkanku tanpa air mata yang terlihat olehku. Tapi aku hanya ingin menagih janjinya. Ucapan selamat ulang tahun darinya.
Ketika ayah sampai dirumah, aku segera merangseknya tanpa memberi kesempatan baginya untuk sekedar istirahat. Karena sekarang sudah hampir pukul 23:00.perjalanannya cukup jauh dari rumah sakit tempat kakak dirawat, butuh satu jam tanpa hambatan untuk mencapainya, tanpa lampu merah juga tentunya.
Pukul 23:30 aku sampai di rumah sakit itu. aku segera berlari kekamar dimana kakak dirawat. Kakak terlihat menyedihkan dengan banyak selang di badannya. Dia seperti robot. Dia tertidur, bahkan ketika aku mencoba memangilnya dia tetap saja tidak bergeming. Apa kakak marah padaku sehingga dia melakukan hal yang sama, mengacuhkanku. Ibu terus saja menangis disamping kanan kakak. Tapi kakakku tetap saja diam,tak peduli lagi dengan ibu. Aku disebelah kirinya terus memohon padanya untuk membuka matanya. Aku mengatakan padanya, aku datang untuk menagih janjinya. Kata-kata selamat ulang tahun untukku. Satu menit lagi pukul 00:00. Yang atrtinya umurku akan bertambah saat itu. tetapi kakak tetap saja tidak menunjukkan tanda-tanda membuka mata. Aku terus berharap dan berharap.
Pukul 01:00 WIB, kakak baru membuka matanya, terlihat wajah kaget kakak melihat aku disampingnya, merasakan aku memegang tangannya. Dia tiba-tiba terlihat hidup kembali dan mencangkeram tanganku lebih erat lagi. Aku tak kuasa menahan tangisku. Dia berucap sesuatu dengan terbata-bata. Tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas, karena oksigen yang menutupi seluruh mulutnya. Dia mengerti kalau aku tak mengerti apa yang dikatakannya. Diapun melepas oksigennya.
“sela...mat ulang tahun... wish you... all..the best...” katanya terbata-bata. Aku menanti kata-kata itu begitu lama, dia tersenyum, kakakku tersenyum lagi. Kenapa senyuman itu tak pernah pudar, bahkan ketika ia terlihat sangat payah dan kesakitan seperti itu. dia hendak bangun, tapi aku melarangnya. Ayah danibu tertidur karena kelelahan. Kakakku kembali menggumamkan sebuah kata.
“maaf..in aku ya...” katanya tak kalah tersendat-sendat dari yang tadi. Aku benar-benar menumpahkan seluruh air mata yang tak mampu ku bendung lagi. Aku hanya mampu mengangguk. Terpancar rona kebahagiaan di wajahnya. Begitu bersinar seakan dia sehat kembali.
 “aku boleh minta satu permintaan ke kakak...?” tanyaku berharap. Kakak hanya mengangguk mengiyakan permintaanku.
“aku mohon jangan tinggalin aku kak..” dia hanya kembali tersenyum. Tanpa mengatakan sepatah katapun padaku. Aku berfikirkan, apakah kakak tak mampu lagi untuk sekedar berbicara..?
Tiba-tiba ayah dan ibu bangun. Dan kemudian mendekat ke tempat tidur kakak. Kembali kakak berbicara.
“aku rindu keluargaku yang ini, boleh minta pelukan untuk merayakan ulang tahun ana..?” tanyanya mengagetkan kami.
“tentu”, kata ayah dan ibu bersamaan, aku hanya mengangguk. Kami semua memeluk kakak. Kakak memelukku sangat erat dan bilang “aku sayang kamu adikku”, dan aku menjawab, “aku juga menyayangimu kak nina. Aku merasa kak nina tertawa kecil, entah itu dia atau bukan, tapi aku benar-benar mendengarnya. Semenit kemudian, tangan yang memeluk kami lunglai, aku fikir kak nina hanya pingsan. Tapi alat pendeteksi jantung itu hanya terus mengeluarkan bunyi thhhhiiiiiiiiiiiiiiitt panjang, dan sebuah garis lurus terlihat tanpa henti. Ayah dan ibu begitu panik. Dokter segera menuju ke kamar kakak dan memeriksa kakak. Segala upaya telah mereka lakukan. tapi kak nina tak tertolong lagi. Dia telah pergi. Dan dia benar-benar telah memberikan semuanya untuk hari ini. Kak nina memberikan hadiah specialnya untukku. Kematiannya. Hanya penyesalan yang terus menggelayut manja dihati kini. Kenapa.. kenapa.. hanya itu yang selalu terlintas. Aku kini hanya bisa selalu berharap, bahwa masa itu sudi kembali. Tapi tak pernah hal itu terjadi.
Dan kini, aku adalah anak semata wayang yang menguasai seluruh kasih sayang orang tuaku. Tapi rasanya tak pernah lengkap tanpa kakakku. Kak nina ku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar