MENYINGKAP FEMINISME
1.
Pengertian
Feminisme
Feminisme
merupakan suatu gerakan yang muncul dari ide yang diantaranya berupaya untuk
melakukan pembebasan terhadap ideologi penindasan yang mengatas namakan gender,
pencarian akar dari ketertindasan perempuan, sampai dengan upaya untuk
menciptakan pembebasan perempuan secara sejati. Meskipun begitu, feminisme bukanlah
suatu pergerakan yang berdiri sendiri. Akan tetapi dipengaruhi oleh berbagai
ideologi, paradigma, serta teori-teori yang dipakai. Akan tetapi, meski dipengaruhi
oleh berbagai ideologi maupun teori yang berbeda, tetapi pada dasarnya
tujuannya adalah satu, yakni kepedulian terhadap nasib perempuan. Sebab gerakan
feminisme ini sejatinya berangkat dari kesadaran ketertindasan perempuan yang
dilakukan oleh laki-laki sebagai akibat dari perbedaan gender maupun seks. Gerakan
feminisme bukan berarti suatu gerakan yang mengajak perempuan untuk mendominasi
laki-laki dan membuat laki-laki untuk berlutut di bawah perempuan. Akan tetapi
menyamakan derajat antara laki-laki dan perempuan di segala bidang, seperti
pendidikan, ekonomi, dan juga sosial. Perempuan juga diberi andil dalam
perkembangan negara, tidak hanya berada di dalam rumah dan mengurus keluarga.
Menurut Kamla
Bhasin dan Nighat Said Khan,
feminisme adalah suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap
perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja dan dalam keluarga, serta tindakan
sadar perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut.Sedangkan menurut
Yubahar Ilyas, feminisme adalah
kesadaran akan ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam
keluarga maupun masyarakat, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki
untuk mengubah keadaan tersebut.[1]
Gerakan
feminisme itu sendiri didalam berbagai negara tentu berbeda-beda bentuk dan
maknanya. Misalnya feminis Itali yang justru memutuskan diri untuk menjadi
oposan dari pendefinisian kata feminisme yang berkembang di barat pada umumnya.
Mereka tidak terlalu setuju dengan konsep yang mengatakan bahwa dengan membuka
akses seluas-luasnya bagi perempuan di ranah publik, akan berdampak timbulnya
kesetaraan. Para feminis Itali lebih banyak menyupayakan pelayanan-pelayanan
sosial dan hak-hak perempuan sebagai ibu, istri dan pekerja. Mereka memiliki
UDI (Unione DonneItaliane) yang setara dan sebesar NOW (National Organization
for Women) di Amerika Serikat.[2]
Hal yang tidak jauh berbeda terjadi
di Perancis. Umumnya feminis di sana menolak dijuluki sebagai feminis. Para
perempuan yang tergabung dalam Mouvment de liberation des femmes ini lebih
berbasis pada psikoanalisa dan kritik sosial. mereka menentang klaim-klaim
biologis yang dilontarkan para feminis radikal dan liberal yang menjadi tren di
tahun 60-an. Bagi mereka, yang bisa menjadi pemersatu kaum perempuan adalah
konstruksi sosial bukan semata kodrat biologinya.
Di Arab, istilah feminisme dan
feminis tertolak lebih karena faktor image barat yang melekat pada istilah
tersebut. Pejuang feminis di sana menyiasati masalah ini dengan menggunakan
istilah yang lebih Arab atau Islami seperti Nisa’i atau Nisaism.
Gerakan
Feminisme ini pertama kali muncul sebagai filsafat dan gerakan berkaitan dengan Era Pencerahan di Eropa
yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet.
di Amerika Serikat, gerakan feminisme ini dimulai sekitar abad ke 18 dan akhir
abad ke 19. Yang pada akhirnya memunculkan banyak aliran atau teori-teori yang
mendukung pergerakan feminisme ini. Seperti aliran feminisme liberal, feminisme
Radikal, feminisme marxis, feminisme sosialis, feminisme ekofeminisme,
feminisme ortodox, feminisme postkolonialisme, dan masih banyak lagi
teori-teori tentang feminisme ini yang telah muncul dan berkembang.
2.
Aliran-Aliran
Feminisme
Banyak
aliran-aliran feminisme yang telah berkembang di berbagai belahan dunia,
diantaranya:
a. Feminisme
liberal
Aliran
ini menyatakan bahwa kebebasan (freedom) dan
kesamaan hak (equality) berakar pada rasionalitas
dan pemisahan antara dunia privat dan pablik.
Menurut aliran ini, bahwa setiap manusia memiliki kapasitas dan
bertindak rasional, tidak terkecuali perempuan. Tuntutan dari feminisme liberal
ini adalah adanya kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam bidang
pendidikan, politik, ekonomi, pembaharuan hukum yang bersifat diskriminatif.
Akar
ketertindasan dan keterbelakangan perempuan menurut aliran ini adalah
ketidakmampuan perempuan dalam mengikuti persaingan bebas diantara laki-laki
dan perempuan. Bahwa perempuan tertindas dalam haknya adalah bukan karena
kesalahan siapapu melainkan karena
kesalahannya sendiri.
b. Feminisme
Radikal
Aliran
ini mengacu pada konsep biological
essentialism (perbedaan esensi biologis). Aliran ini berpendapat bahwa
segala penindasan perempuan bersumber pada sistem patriarki adalah sumber
penindasan yang mana menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga yang
menjadikan laki-laki sebagai figur dominan didalam keluarga. Aliran ini juga
muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasarkan
jenis kelamin di barat pada tahun 1960-an.[3] Utamanya
melawan kekerasan seksual yang dialami oleh kaum perempuan dan industri
pornogarafi. Para penganut
feminisme radikal tidak melihat adanya perbedaan antara tujuan personal dan
politik, unsur-unsur seksual atau biologis, sehingga analisis tentang penyebab
penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, terletak pada jenis kelamin laki-laki itu sendiri
beserta ideology patriarkinya. Dengan demikian “kaum
laki-laki” secara biologis maupun politis adalah bagian dari permasalahan.[4]
Gerakan feminis radikal ini mampu mencapai ranah privat, namun gerakan
feminisme ini banyak menuai pertentangan karena mengangkat masalah yang tabu ke
permukaan. Padahal dengan adanya pengangkatan persoalan yang tabu tersebut,
Indonesia sendiri memiliki Undang Undang RI no. 23 tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).
c. Feminisme
Marxis
Aliran
ini mengkritik aliran feminisme liberal yang dirasa kurang jelas. Aliran ini
memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber
penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi.[5]
Aliran ini lebih mengarahkan untuk menghilangkan penindasan terhadap ekonomi
perempuan dengan cara mengajak perempuan untuk turut terlibat dalam sektor politik,
sehingga perempuan menjadi sosok yang produktif (menghasilkan materi/uang).
Jadi perempuan dalam memperoleh emansipasinya adalah dengan terlibat didalam
proses produksi sehingga berhenti dari mengurusi rumah tangga.
d. Feminisme
Ekofeminisme
Teori
ini lebih tertarik untuk membicarakan tentang kualitas feminis dan lebih
cenderung menerima perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan. Mereka juga
mulai percaya, bahwa perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan
merupakan suatu hal yang perlu didalam masyarakat. Aliran ini tidak setuju
dengan aliran-aliran liberal, radikal, maupun aliran marxisme. Karena
beranggapan bahwa dengan adanya ideologi-ideologi yang seperti itu, hanya akan
mengakhiri penindasan-penindasan terhadap kaum perempuan dengan menggunakan
prinsip-prinsip maskulinitas yang pada akhirnya akan menyingkirkan
prinsip-prinsip feminitas yang memang sudah seharusnya dimiliki oleh perempuan.
e. Feminisme
Postkolonialis
Pengalaman
perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda
dengan perempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga
menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan
berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan
agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada
intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara
pandang, maupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya
Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and
Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis
kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial,
dan pendidikan.”[6]
Perempuan-perempuan yang berada di negara jajahan ini merasakan terjajah tidak
hanya dalam bidang negara mereka, akan tetapi mereka menjadi terkucilkan bahkan
didalam negaranya sendiri.
f. Feminisme
Ortodoks
Aliran
ini mengungkapkan bahwa perempuan adalah makhluk lemah, sehingga setiap
penindasan dan kekerasan yang dialami oleh perempuan bukan merupakan salah
perempuan, tetapi itu semua merupakan salah laki-laki, karena mereka menganggap
bahwa perempuan adalah korban. Kaum feminis ini begitu yakin bahwa segala
sesuatu hal yang menyusahkan diakibatkan oleh sistem patriarki, yang mana semua
kekuasaan atas kaum laki-laki didasarkan pada pemilikan kontrol laki-laki atas
kapasitas reproduksi perempuan.
g. Feminisme
postfeminisme
Kecenderungan
feminisme ortodoks yang selalu melihat perempuan sebagai makhluk lemah tak
berdaya dan korban laki-laki ini, tidak dapat diterima oleh perempuan-perempuan
muda tahun 1900-an dan 2000 di beberapa negara maju. Retorika feminisme yang
melekat pada “ibu-ibu” mereka terutama di tahun 70-an di daratan Amerika dan
Inggris telah membuat generasi muda “bosan” dengan feminisme. Feminisme sekan
menjadi ukuran moralistik dan politik seseorang dan menjadi pergerakan kaum
histeris, serta sangat mudah untuk menuduh dan melabeling seseorang dengan
atribut “tidak feminis”. Kelompok inilah yang kemudian memperjuangkan
postfeminisme.[7]
Aliran ini kemudian mendeskontruksi kembali wacana mengenai sistem patriarki
terutama wacana yang dikembangkan oleh Feministes Revolusioner yang mengatakan
bahwa kontrol perempuan berada dibawah laki-laki. Selain itu kelompok ini tidak
lagi menekankan kesetaraan (equality)
seperti yang dilakukan oleh Feministes Revolusioner, akan tetapi lebih
menekankan pada perbedaan (different)
yang terjadi di masyarakat.
Akan
tetapi banyak penentangan-penentangan yang terjadi mengenai adanya berbagai
macam aliran-aliran yang bermunculan ini. Bahkan di Amerika Serikat sendiri,
tempat berkembangnya Gerakan Feminisme juga cukup keras dalam menentang
aliran-aliran yang berkembang saat itu. karena dengan adanya gerakan-gerakan
feminisme ini dirasa telah mengguncang kestabilan kehidupan sosial, terutama
Feminisme Radikal. Tuduhan ini dirasa wajar karena provokasi-provokasi yang
dilakukan kaum feminis, seperti anggapan bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah
perbudakan terhadap perempuan, Heteroseksual adalah bentuk pemerkosaan,
Perkawinan adalah awal dari perbudakan, dan anggapan-anggapan lain yang dirasa
cukup meresahkan bagi kestabilan sosial. Gerakan Feminisme malah justru balik
menjadi tertuduh sebagai gerakan anti anak (children)
dan gerakan anti masa depan (future).
Agenda
kerja utama Feminisme Radikal menjadi pembenar atas tuduhan-tuduhan tersebut.
Feminisme Radikal mengutuk sistem patriarki, mencemooh perkawinan, menghalalkan
Aborsi, Merayakan lesbianisme, dan revolusi sex. Bagi Feminisme Radikal ini
menjadi istri seseorang sama artinya dengan disandra, sedangkan tinggal bersama
suami diartikan sebagai living with enemy[8]
3.
Islam
dan Feminisme
Agama
Islam sejak awal ditargetkan sebagai agama pembebasan. Artinya agama yang dapat
membebaskan apapun termasuk membebaskan perempuan. Selain itu, Islam adalah Rahmatan Lil-‘Alamin. Sehingga menjadi
sesuatu yang tidak masuk akal jika Allah menciptakan sesuatu tanpa manfaat.
Jadi ketika Allah memutuskan untuk menciptakan laki-laki dan perempuan,
bukanlah untuk saling menguasai, menindas, menjatuhkan, atau saling menyakiti
diantara kedua belah pihak. Namun sama-sama menjalankan tugasnya sebagai
Khalifah di muka bumi.
Bisa
dibayangkan sebelum kedatangan Islam, bangsa arab menganggap bahwa perempuan
adalah aib bagi keluarga. Bahkan ada suatu masa dimana bayi-bayi perempuan di
kubur hidup-hidup dan sering membunuh bayi-bayi perempuan. Setelah kedatangan
Islam mereka justru diperintahkan untuk melakukan aqiqah pada bayi perempuan mereka ketika lahir didunia, meskipun
hanya satu kambing berbeda dengan laki-laki dengan dua kambing, bagaimana
perempuan mendapatkan warisan meskipun hanya 1:2, kemudian perempuan juga bisa
menjadi saksi, meskipun juga 1:2. Tapi dengan hal ini dapat terlihat bagaimana
Islam sangat menghargai perempuan dan menempatkan perempuan setara dengan
laki-laki.
Perempuan
pada awalnya hanya dianggap sebagai pelengkap bagi laki-laki, namun kemudian di
akui Allah dalam Al-Qur’an bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama
dalam hak dan kewajiban yang membedakan hanya keimanannya. Kualitas keshalehan
seseorang bukan hanya diperoleh melalui proses penyucian diri akan tetapi juga
diperoleh melalui sikap kepedulian terhadap sesama. Islam juga menegaskan bahwa
diskriminasi peran dan gender adalah suatu bentuk pelanggaran terhadap hak
asasi manusia dan harus dihapus.
Laki-laki
dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan peran
khalifah dan hamba. Soal peran sosial dalam masyarakat, tidak ditemukan nash
atau hadits yang melarang kaum perempuan aktif didalamnya. Sebabnya, al-Qur'an
dan hadits banyak mengisyaratkan kebolehan perempuan aktif menekuni berbagai
profesi.[9]
Misalnya berdagang. Seperti halnya Siti Khadijah istri Nabi seorang pedagang
yang sukses, beliau sama sekali tidak melarang Khadijah untuk berdagang, justru
Nabi memberi suport dan banyak membantu dalam usaha dagang siti khadijah
tersebut.
Meskipun
begitu, ada juga tokoh-tokoh Islam yang telah terkontaminasi oleh aliran
Feminisme Radikal mengatakan bahwa pandangan Islam maupun konsepyang diusung Islam
tentang kebebasan perempuan masih belum sesuai dengan Feminisme mereka, karena
dinilai bahwa Islam masih memberikan belenggu dan menindas kaum perempuan. Akan
tetapi telah banyak gagasan dan bukti-bukti bahwa Islam adalah agama yang
mendukung emansipasi pada perempuan.
Sebenarnya,
dalam Islam persoalan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki sudahlah
sedemikian jelas diungkapkan, sehingga amatlah penting kiranya bagi gerakan
feminis di lingkungan muslim seyogyanya selalu diletakkan dalam bingkai
pembangunan umat secara keseluruhan, tidak
hanya memikirkan kepentingan kaum perempuan saja.
Nurul
Wakhidati
(3221103019)
[1]
http://Pengertian-Feminisme-dan-Macam-macam-Jenis-Feminisme.html
[2]
http://aliran-aliran-feminisme-sejarah.html
[3] Ibid...
[4] Gender
dan kajian tentang perempuan, sutinah.
[5]
http://Pengertian-Feminisme-dan-Macam-macam-Jenis-Feminisme.html
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme.
[7] Ibid...
aliran-aliran feminisme sejarah.
[8]
Mengintip feminisme dan gerakan perempuan, khoirul faizain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar