Selasa, 08 Oktober 2013

Feminisme



MENYINGKAP FEMINISME
1.      Pengertian Feminisme
Feminisme merupakan suatu gerakan yang muncul dari ide yang diantaranya berupaya untuk melakukan pembebasan terhadap ideologi penindasan yang mengatas namakan gender, pencarian akar dari ketertindasan perempuan, sampai dengan upaya untuk menciptakan pembebasan perempuan secara sejati. Meskipun begitu, feminisme bukanlah suatu pergerakan yang berdiri sendiri. Akan tetapi dipengaruhi oleh berbagai ideologi, paradigma, serta teori-teori yang dipakai. Akan tetapi, meski dipengaruhi oleh berbagai ideologi maupun teori yang berbeda, tetapi pada dasarnya tujuannya adalah satu, yakni kepedulian terhadap nasib perempuan. Sebab gerakan feminisme ini sejatinya berangkat dari kesadaran ketertindasan perempuan yang dilakukan oleh laki-laki sebagai akibat dari perbedaan gender maupun seks. Gerakan feminisme bukan berarti suatu gerakan yang mengajak perempuan untuk mendominasi laki-laki dan membuat laki-laki untuk berlutut di bawah perempuan. Akan tetapi menyamakan derajat antara laki-laki dan perempuan di segala bidang, seperti pendidikan, ekonomi, dan juga sosial. Perempuan juga diberi andil dalam perkembangan negara, tidak hanya berada di dalam rumah dan mengurus keluarga.
Menurut Kamla Bhasin dan Nighat Said Khan, feminisme adalah suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja dan dalam keluarga, serta tindakan sadar perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut.Sedangkan menurut Yubahar Ilyas, feminisme adalah kesadaran akan ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut.[1]
Gerakan feminisme itu sendiri didalam berbagai negara tentu berbeda-beda bentuk dan maknanya. Misalnya feminis Itali yang justru memutuskan diri untuk menjadi oposan dari pendefinisian kata feminisme yang berkembang di barat pada umumnya. Mereka tidak terlalu setuju dengan konsep yang mengatakan bahwa dengan membuka akses seluas-luasnya bagi perempuan di ranah publik, akan berdampak timbulnya kesetaraan. Para feminis Itali lebih banyak menyupayakan pelayanan-pelayanan sosial dan hak-hak perempuan sebagai ibu, istri dan pekerja. Mereka memiliki UDI (Unione DonneItaliane) yang setara dan sebesar NOW (National Organization for Women) di Amerika Serikat.[2]
Hal yang tidak jauh berbeda terjadi di Perancis. Umumnya feminis di sana menolak dijuluki sebagai feminis. Para perempuan yang tergabung dalam Mouvment de liberation des femmes ini lebih berbasis pada psikoanalisa dan kritik sosial. mereka menentang klaim-klaim biologis yang dilontarkan para feminis radikal dan liberal yang menjadi tren di tahun 60-an. Bagi mereka, yang bisa menjadi pemersatu kaum perempuan adalah konstruksi sosial bukan semata kodrat biologinya.
Di Arab, istilah feminisme dan feminis tertolak lebih karena faktor image barat yang melekat pada istilah tersebut. Pejuang feminis di sana menyiasati masalah ini dengan menggunakan istilah yang lebih Arab atau Islami seperti Nisa’i atau Nisaism.
Gerakan Feminisme ini pertama kali muncul sebagai filsafat dan gerakan berkaitan dengan Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. di Amerika Serikat, gerakan feminisme ini dimulai sekitar abad ke 18 dan akhir abad ke 19. Yang pada akhirnya memunculkan banyak aliran atau teori-teori yang mendukung pergerakan feminisme ini. Seperti aliran feminisme liberal, feminisme Radikal, feminisme marxis, feminisme sosialis, feminisme ekofeminisme, feminisme ortodox, feminisme postkolonialisme, dan masih banyak lagi teori-teori tentang feminisme ini yang telah muncul dan berkembang.
2.      Aliran-Aliran Feminisme
Banyak aliran-aliran feminisme yang telah berkembang di berbagai belahan dunia, diantaranya:
a.       Feminisme liberal
Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan (freedom) dan kesamaan hak (equality) berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan pablik.  Menurut aliran ini, bahwa setiap manusia memiliki kapasitas dan bertindak rasional, tidak terkecuali perempuan. Tuntutan dari feminisme liberal ini adalah adanya kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi, pembaharuan hukum yang bersifat diskriminatif.
Akar ketertindasan dan keterbelakangan perempuan menurut aliran ini adalah ketidakmampuan perempuan dalam mengikuti persaingan bebas diantara laki-laki dan perempuan. Bahwa perempuan tertindas dalam haknya adalah bukan karena kesalahan siapapu  melainkan karena kesalahannya sendiri.
b.      Feminisme Radikal
Aliran ini mengacu pada konsep biological essentialism (perbedaan esensi biologis). Aliran ini berpendapat bahwa segala penindasan perempuan bersumber pada sistem patriarki adalah sumber penindasan yang mana menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga yang menjadikan laki-laki sebagai figur dominan didalam keluarga. Aliran ini juga muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasarkan jenis kelamin di barat pada tahun 1960-an.[3] Utamanya melawan kekerasan seksual yang dialami oleh kaum perempuan dan industri pornogarafi. Para penganut feminisme radikal tidak melihat adanya perbedaan antara tujuan personal dan politik, unsur-unsur seksual atau biologis, sehingga analisis tentang penyebab penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, terletak pada jenis kelamin laki-laki itu sendiri beserta ideology patriarkinya. Dengan demikian “kaum laki-laki” secara biologis maupun politis adalah bagian dari permasalahan.[4] Gerakan feminis radikal ini mampu mencapai ranah privat, namun gerakan feminisme ini banyak menuai pertentangan karena mengangkat masalah yang tabu ke permukaan. Padahal dengan adanya pengangkatan persoalan yang tabu tersebut, Indonesia sendiri memiliki Undang Undang RI no. 23 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).
c.       Feminisme Marxis
Aliran ini mengkritik aliran feminisme liberal yang dirasa kurang jelas. Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi.[5] Aliran ini lebih mengarahkan untuk menghilangkan penindasan terhadap ekonomi perempuan dengan cara mengajak perempuan untuk turut terlibat dalam sektor politik, sehingga perempuan menjadi sosok yang produktif (menghasilkan materi/uang). Jadi perempuan dalam memperoleh emansipasinya adalah dengan terlibat didalam proses produksi sehingga berhenti dari mengurusi rumah tangga.
d.      Feminisme Ekofeminisme
Teori ini lebih tertarik untuk membicarakan tentang kualitas feminis dan lebih cenderung menerima perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan. Mereka juga mulai percaya, bahwa perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan merupakan suatu hal yang perlu didalam masyarakat. Aliran ini tidak setuju dengan aliran-aliran liberal, radikal, maupun aliran marxisme. Karena beranggapan bahwa dengan adanya ideologi-ideologi yang seperti itu, hanya akan mengakhiri penindasan-penindasan terhadap kaum perempuan dengan menggunakan prinsip-prinsip maskulinitas yang pada akhirnya akan menyingkirkan prinsip-prinsip feminitas yang memang sudah seharusnya dimiliki oleh perempuan.
e.       Feminisme Postkolonialis
Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan perempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan.”[6] Perempuan-perempuan yang berada di negara jajahan ini merasakan terjajah tidak hanya dalam bidang negara mereka, akan tetapi mereka menjadi terkucilkan bahkan didalam negaranya sendiri.
f.       Feminisme Ortodoks
      Aliran ini mengungkapkan bahwa perempuan adalah makhluk lemah, sehingga setiap penindasan dan kekerasan yang dialami oleh perempuan bukan merupakan salah perempuan, tetapi itu semua merupakan salah laki-laki, karena mereka menganggap bahwa perempuan adalah korban. Kaum feminis ini begitu yakin bahwa segala sesuatu hal yang menyusahkan diakibatkan oleh sistem patriarki, yang mana semua kekuasaan atas kaum laki-laki didasarkan pada pemilikan kontrol laki-laki atas kapasitas reproduksi perempuan.
g.      Feminisme postfeminisme
Kecenderungan feminisme ortodoks yang selalu melihat perempuan sebagai makhluk lemah tak berdaya dan korban laki-laki ini, tidak dapat diterima oleh perempuan-perempuan muda tahun 1900-an dan 2000 di beberapa negara maju. Retorika feminisme yang melekat pada “ibu-ibu” mereka terutama di tahun 70-an di daratan Amerika dan Inggris telah membuat generasi muda “bosan” dengan feminisme. Feminisme sekan menjadi ukuran moralistik dan politik seseorang dan menjadi pergerakan kaum histeris, serta sangat mudah untuk menuduh dan melabeling seseorang dengan atribut “tidak feminis”. Kelompok inilah yang kemudian memperjuangkan postfeminisme.[7] Aliran ini kemudian mendeskontruksi kembali wacana mengenai sistem patriarki terutama wacana yang dikembangkan oleh Feministes Revolusioner yang mengatakan bahwa kontrol perempuan berada dibawah laki-laki. Selain itu kelompok ini tidak lagi menekankan kesetaraan (equality) seperti yang dilakukan oleh Feministes Revolusioner, akan tetapi lebih menekankan pada perbedaan (different) yang terjadi di masyarakat.
Akan tetapi banyak penentangan-penentangan yang terjadi mengenai adanya berbagai macam aliran-aliran yang bermunculan ini. Bahkan di Amerika Serikat sendiri, tempat berkembangnya Gerakan Feminisme juga cukup keras dalam menentang aliran-aliran yang berkembang saat itu. karena dengan adanya gerakan-gerakan feminisme ini dirasa telah mengguncang kestabilan kehidupan sosial, terutama Feminisme Radikal. Tuduhan ini dirasa wajar karena provokasi-provokasi yang dilakukan kaum feminis, seperti anggapan bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah perbudakan terhadap perempuan, Heteroseksual adalah bentuk pemerkosaan, Perkawinan adalah awal dari perbudakan, dan anggapan-anggapan lain yang dirasa cukup meresahkan bagi kestabilan sosial. Gerakan Feminisme malah justru balik menjadi tertuduh sebagai gerakan anti anak (children) dan gerakan anti masa depan (future).
Agenda kerja utama Feminisme Radikal menjadi pembenar atas tuduhan-tuduhan tersebut. Feminisme Radikal mengutuk sistem patriarki, mencemooh perkawinan, menghalalkan Aborsi, Merayakan lesbianisme, dan revolusi sex. Bagi Feminisme Radikal ini menjadi istri seseorang sama artinya dengan disandra, sedangkan tinggal bersama suami diartikan sebagai living with enemy[8]
3.      Islam dan Feminisme
Agama Islam sejak awal ditargetkan sebagai agama pembebasan. Artinya agama yang dapat membebaskan apapun termasuk membebaskan perempuan. Selain itu, Islam adalah Rahmatan Lil-‘Alamin. Sehingga menjadi sesuatu yang tidak masuk akal jika Allah menciptakan sesuatu tanpa manfaat. Jadi ketika Allah memutuskan untuk menciptakan laki-laki dan perempuan, bukanlah untuk saling menguasai, menindas, menjatuhkan, atau saling menyakiti diantara kedua belah pihak. Namun sama-sama menjalankan tugasnya sebagai Khalifah di muka bumi.
Bisa dibayangkan sebelum kedatangan Islam, bangsa arab menganggap bahwa perempuan adalah aib bagi keluarga. Bahkan ada suatu masa dimana bayi-bayi perempuan di kubur hidup-hidup dan sering membunuh bayi-bayi perempuan. Setelah kedatangan Islam mereka justru diperintahkan untuk melakukan aqiqah pada bayi perempuan mereka ketika lahir didunia, meskipun hanya satu kambing berbeda dengan laki-laki dengan dua kambing, bagaimana perempuan mendapatkan warisan meskipun hanya 1:2, kemudian perempuan juga bisa menjadi saksi, meskipun juga 1:2. Tapi dengan hal ini dapat terlihat bagaimana Islam sangat menghargai perempuan dan menempatkan perempuan setara dengan laki-laki.
Perempuan pada awalnya hanya dianggap sebagai pelengkap bagi laki-laki, namun kemudian di akui Allah dalam Al-Qur’an bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama dalam hak dan kewajiban yang membedakan hanya keimanannya. Kualitas keshalehan seseorang bukan hanya diperoleh melalui proses penyucian diri akan tetapi juga diperoleh melalui sikap kepedulian terhadap sesama. Islam juga menegaskan bahwa diskriminasi peran dan gender adalah suatu bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan harus dihapus.
Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan peran khalifah dan hamba. Soal peran sosial dalam masyarakat, tidak ditemukan nash atau hadits yang melarang kaum perempuan aktif didalamnya. Sebabnya, al-Qur'an dan hadits banyak mengisyaratkan kebolehan perempuan aktif menekuni berbagai profesi.[9] Misalnya berdagang. Seperti halnya Siti Khadijah istri Nabi seorang pedagang yang sukses, beliau sama sekali tidak melarang Khadijah untuk berdagang, justru Nabi memberi suport dan banyak membantu dalam usaha dagang siti khadijah tersebut.
Meskipun begitu, ada juga tokoh-tokoh Islam yang telah terkontaminasi oleh aliran Feminisme Radikal mengatakan bahwa pandangan Islam maupun konsepyang diusung Islam tentang kebebasan perempuan masih belum sesuai dengan Feminisme mereka, karena dinilai bahwa Islam masih memberikan belenggu dan menindas kaum perempuan. Akan tetapi telah banyak gagasan dan bukti-bukti bahwa Islam adalah agama yang mendukung emansipasi pada perempuan.
Sebenarnya, dalam Islam persoalan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki sudahlah sedemikian jelas diungkapkan, sehingga amatlah penting kiranya bagi gerakan feminis di lingkungan muslim seyogyanya selalu diletakkan dalam bingkai pembangunan umat secara keseluruhan, tidak  hanya memikirkan kepentingan kaum perempuan saja.
Nurul Wakhidati        
(3221103019)             


[1] http://Pengertian-Feminisme-dan-Macam-macam-Jenis-Feminisme.html
[2] http://aliran-aliran-feminisme-sejarah.html
[3] Ibid...
[4] Gender dan kajian tentang perempuan, sutinah.
[5] http://Pengertian-Feminisme-dan-Macam-macam-Jenis-Feminisme.html
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme.
[7] Ibid... aliran-aliran feminisme sejarah.
[8] Mengintip feminisme dan gerakan perempuan, khoirul faizain.
[9].ibid... khoirul faizain.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar